BIN Kawal Protokol Kesehatan di Bali, Laju Kematian Tetap Tinggi

  • Whatsapp
Ilustrasi barisan.co/Bondan PS

Barisan.co – Wawan Hari Purwanto, Deputi Komunikasi dan Informasi Badan Intelijen Negara, menyampaikan lembaga telik sandi akan ikut serta memastikan pariwisata di Bali menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Ia menjelaskan, ini adalah bentuk hadirnya negara dalam mewujudkan pemulihan pariwisata serta perekonomian.

“Berdasarkan UU No.17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara, BIN merupakan lini terdepan keamanan nasional. Dalam hal ini, kami berkepentingan ikut menjaga dan mengamankan berbagai kebijakan nasional, termasuk pembukaan pariwisata yang aman dari penularan Covid-19, dengan menerapkan protokol kesehatan secara konsisten demi pemulihan perekonomian,” kata Wawan, Kamis lalu (10/9), dikutip dari Antara.

Bacaan Lainnya

Anda mencium ada sesuatu yang tidak beres? Tunggu, masih ada lagi.

Selain melampaui tupoksi yang dimiliki, keterlibatan BIN mengawal wisata di Bali nyatanya tidak ampuh untuk menahan lonjakan kasus di sana. Hal ini dikarenakan oleh kabupataten/kota di Bali yang masih memimpin untuk zona merah. Berdasarkan data zona merah per 13 September yang diambil melalui Peta Risiko, terdapat 6 kabupaten/kota di Bali yang masuk dalam zona merah, antara lain: Badung, Gianyar, Bangli, Kota Denpasar, Karangasem, dan Buleleng.

Pertanyaan lain yang muncul ialah bagaimana operasi yang dilakukan oleh BIN sebagai lembaga yang harus menjaga identitasnya ketika memastikan parawisata di Bali benar-benar menerapkan protokol kesehatan dengan ketat?

Kegagalan dalam mengambil keputusan selama pandemi bukan hanya satu-dua kali terjadi, namun berulang kali. Jika saja pemerintah mau mendengarkan para ahli dalam menangani Covid-19, bukan tidak mungkin bahwa jumlah kasus harian dapat ditekan. Juga, kita dapat kembali ke sekolah dan perkantoran seperti sebelumnya walaupun tetap mengikuti protokol kesehatan yang ada seperti negara-negara tetangga.

Jika flashback ke belakang, di akhir Februari, pemerintah menyiapkan anggaran Rp4,7 T demi menyelamatkan pariwisata. Namun yang terjadi ialah tidak ada yang bisa diselamatkan dari anggaran tersebut karena virus Corona yang tidak bisa disembuhkan sendiri. Bahkan hingga Kamis (17/9), kasus meninggal bertambah 122 menjadi 9.222 kasus.

Prinsip yang seharusnya diambil pemerintah sejak awal ialah jangan pernah menganggap enteng situasi krisis! Selain itu juga tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan yang sebelumnya tidak dilakukan pencarian fakta serta analisa mendalam dari keputusan yang akan diambil. Akibatnya, bukan hanya kesehatan yang terabaikan, tetapi juga matinya pariwisata yang berdampak kepada perekonomian negara.

Untuk itu, anjuran bagi pemerintah walaupun sudah jauh terlambat, namun setidaknya masih bisa meminimalisir jumlah kasus yang kini terus meningkat ialah buatlah skala prioritas. Jangan lagi mengutamakan perekonomian! Karena nyawa tidak dapat kembali. Terutama tidak banyak masyarakat yang mampu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah ketidakpastian seperti saat ini.

Selanjutnya ialah saling dukung satu sama lain. Hal ini dikarenakan sering kali, kita melihat di berbagai media, para petinggi negeri ini bukannya saling membantu dan bersama-sama mencari solusi terbaik, namun mengkambinghitamkan kebijakan yang diambil oleh pihak lain.

Semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi pemerintah agar ketika krisis terjadi di masa depan, tidak lagi menganggap sepele. Apalagi memberikan tugas kepada pihak yang tidak memiliki kompetensi dalam menangani situasi krisis yang dihadapi.

Pos terkait