Scroll untuk baca artikel
Blog

Congkel – Cerpen Noerjoso

Redaksi
×

Congkel – Cerpen Noerjoso

Sebarkan artikel ini

LELAKI yang terbaring di atas dipan sebuah puskesmas itu bernama Diran.  Sehari-hari ia bekerja sebagai petugas keamanan di kantor kepala desa.  Orang kampung biasa menyebutnya dengan sapaan Hansip Diran.  Raut mukanya terlihat pucat.  Kondisi tubuhnya semakin melemah.  Berhari-hari tak sesuap makananpun yang melintasi kerongkongannya. 

Meski di lengan kanannya terlihat jarum infus menancap.  Namun begitu aliran cairan infus itu seperti enggan menetes.  Beberapa kali perawat melonggarkan tekanan infusnya namun sebanyak itu pula infus itu seperti enggan untuk mengalir.  Nyawa lelaki itu bak sudah berada di ujung rambut.

Entah bagaimana mulanya, pagi itu seolah-olah telah terjadi keajaiban Pada diri Hansip Diran.  Tubuhnya tiba-tiba menghangat.  Tetesan infusnyapun lancar mengalir.  Semalam suntuk Mak Darsem tak tidur.  Janda tua itu seperti tak sedikitpun memperdulikan letih badannya.  Entah sudah berapa rakat sholat tahajud ia dirikan.  Lututnya yang sudah reyot dan gemetaranpun tak ia pedulikan. 

Setiap kali ia sujud, air matanya seperti tumpah begitu saja.  Permohonannya hanya satu yaitu agar anak semata wayangnya segera diberi kesembuhan.  Perempuan tua itu sungguh tak dapat membayangkan bagaimana jika nanti ia harus menjalani sisa hidupnya dengan kesendirian.  Selain didera sepi tentu saja ia sudah tak memiliki harapan barang secuilpun. 

Harapannya untuk menimang cucu yang lucu, mungil dan menggemaskanpun tentu saja akan sirna.  Semalamam ia mengetuk pintu langit.  Mengadukan seluruh nestapanya. 

Pagi itu Mak Darsem masih terlihat berkomat-kamit meneruskan rapalan doanya  meski semalaman ia telah bertahajud.  Entah mengapa perempuan tua itu tiba-tiba saja terlihat lebih tua daripada biasanya.  Mungkin karena ia sudah berhari-hari tidak tidur.  Wajahnya terlihat kuyu sekali.  Sementara itu di meja samping pembaringan anaknya terlihat sebuah mangkuk berisi tiga buah kembang terendam air. 

Orang di kampung biasa menyebut rendaman kembang seperti itu dengan sebutan sajen Kembang Telon.  Konon kabarnya tiga kembang yang direndam tersebut akan mampu menarik keluar makhluk halus yang telah merasuki tubuh sseseorang.  Sebenarnya Mak Darsem tak percaya dengan hal-hal yang begituan. 

Namun begitu ia tak cukup keberanian untuk menolaknya ketika tetangga kampungnya membawakan sajen tersebut kepadanya.  Terus terang ia hanya tidak ingin menyakiti hati tetangganya yang begitu perhatian dengan musibah yang kini tengah menimpanya.  Tak lebih dari itu.  Dalam hati ia sebenarnya tertawa geli dengan kiriman sajen kembang telon tersebut. 

Tapi ya sudahlah mau dikata apa lagi.  Namanya juga keyakinan.  Menurut orang-orang di kampung tempat tinggal Mak Darsem, Hansip Diran anaknya terkena sawan mata.  Yaitu sebuah keadaan dimana mata seseorang tiba-tiba dapat melihat kegaiban.  Biasanya orang yang terkena sawan mata akan melihat sosok makhluk bermulut besar, berhidung besar, bermata besar dan berperut buncit berkeliaran di mana-mana.  Lidah makhluk yang mengerikan itu kabarnya selalu terjulur menjijikkan. 

Orang kampung biasa menyebut makhluk mengerikan itu dengan sebutan Buto Genthong.  Masih menurut keyakinan orang kampung juga, Buto Genthong itu adalah makhluk jahat, rakus dan serakah.  Ia menggunakan seluruh kekuatan dan kesaktiannya untuk merampas, mengambil dan merampok apa saja yang ia inginkan.  Namanya juga makhluk jahat tentu saja sudah tidak peduli lagi dengan halal dan haram.  Pendek kata embat saja jika memang ingin.

Ketika Mak Darsem masih tenggelam dalam sisa doa paginya, tiba-tiba saja pintu kamar rawat inap itu dibuka dari luar.  Selanjutnya  seorang dokter ditemani oleh seorang perawat terlihat berjalan masuk menghampiri Hansip Diran yang masih tergolek mengatupkan matanya.  Di saku atas jas dokter tersebut terselip sebuah name tag. 

Sekilas mata Mak Darsem sempat mengeja deretan huruf yang terpampang di name tag itu.  Dr. Budiman.  Begitulah bunyi ejaan deretan huruf-huruf yang ada di name tag dokter tersebut.

“Pagi Mak!” sapa dokter Budiman seperti sengaja hendak menggugah keheningan doa Mak Darsem. 

Tanpa perlu menunggu jawaban dari Mak Darsem, Tangan dokter Budiman telah terlihat menempelkan punggung tangannya ke jidat Hansip Diran. 

Ajaib, seketika itu juga mata petugas keamanan kantor desa tersebut membuka matanya.  Seulas senyum tampak menghiasi bibirnya.  Padahal hari-hari sebelumnya Hansip Diran tak sekejap pun berani membuka kelopak matanya.

“Sudah tidak pusing lagi ya Pak?” tanya dokter Budiman dengan lembut dan ramah. 

Sementara itu perawat terlihat sibuk mengukur tekanan darah dan suhu tubuh Hansip Diran.  Mak Darsem yang sedari tadi hanya duduk tercenung berusaha membantu sebisanya ketika perawat tersebut menyiapkan obat untuk diberikan kepada Hansip Diran.

“Obatnya diminum dulu Pak!” kata perawat tersebut sambil berusaha membantu Hansip Diran duduk.

“Kalau keadaannya stabil seperti ini,nanti sore Bapak sudah boleh pulang!” sambung dokter Budiman setelah membaca laporan yang disodorkan oleh perawat yang mendampinginya tersebut.

“Sesampai di rumah nanti silahkan ajukan cuti barang beberapa hari.  Nanti akan Saya buatkan surat pengantarnya.  Jangan keburu bekerja,” sarannya lagi sembari menulis sebuah memo di atas kertas notesnya.  Nada bicaranya terdengar sangat penuh perhatian.

“Alkhamdulillah!” sahut Mak Darsem lega.  Mendadak wajah perempuan tua itu berbinar-binar ketika mendengar bahwa anaknya sudah boleh pulang.  Itu berarti Hansip Diran sudah dinyatakan sehat.

“Kalau boleh Saya tahu, bagaimana awal mula kejadiannya Pak?” tanya dokter Budiman dengan senyumnya yang ramah sekali. 

Melihat dokter Budiman hendak berbincang-bincang dengan pasiennya, perawat yang sedari tadi sibuk memeriksa lembar kontrol pasien segera menyeret sebuah kursi ke samping dipan Hansip Diran agar dokter Budiman dapat duduk dengan santai.  Berkali-kali terlihat Hansip Diran menghela nafas panjang.  Mungkin ia tidak tahu harus dari mana memulai ceritanya.

“Sudah dua tahun ini saya bekerja sebagai petugas keamanan kantor desa,” ucap Hansip Diran memulai ceritanya. 

Wajah dokter Budiman terlihat serius mendengarkan kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Hansip Diran.  Tampaknya dokter itu tidak hanya heran tapi juga takjub bercampur bingung menyimak seluruh cerita Hansip Diran.  Mungkin bagi dokter Budiman, cerita Hansip Diran tersebut lebih mirip dengan cerita film horor yang biasa ia lihat di televisi.

“Jangan-jangan kini Saya juga terlihat seperti Buto Genthong?” sahut dokter Budiman sesaat setelah mendengar cerita Hansip Diran.  Nadanya yang terdengar berkelakar itu spontan membuat semua penghuni ruang rawat inap puskesmas itu tertawa terbahak-bahak tak terkecuali dengan Hansip Diran.

“Lalu siapa saja yang tiba-tiba terlihat seperti Buto Genthong itu Pak?” tanya dokter Budiman sambil mematikan Hpnya. 

Dokter yang juga pengusaha itu tampaknya semakin penasaran saja dengan cerita yang keluar dari mulut Hansip Diran.  Detik selanjutnya dokter Budiman terlihat telah memberi isyarat kepada perawat yang membersamainya.  Rupanya dokter Budiman tak ingin pembicaraannya dengan Hansip Diran didengar oleh orang lain.  Sejurus kemudian perawat itupun telah lenyap ditelan kelokan lorong puskesmas.

Lama Hansip Diran tak segera menjawab pertanyaan dokter Budiman.  Ia seperti ragu-ragu untuk menjawab pertanyaannya.  Lelaki itu terus terang takut karrena dari perkataannya nanti,pastilah ia dapat dituduh telah mencemarkan nama baik seseorang.

“Bapak tidak perlu takut.  Saya akan menjaga kerahasiaan ini,” ucap dokter Budiman seolah tahu keraguan yang mendera batin Hansip Diran.  Namun begitu Hansip Diran masih saja terdiam seribu bahasa.  Ia tak yakin jika dokter Budiman akan sanggup merahasiakan seluruh omongannya nanti.

“Baiklah kalau Bapak tak mau mengatakannya,” kata dokter Budiman sambil matanya melirik ke arah arloji yang dipakainya.  Rupanya pancingan dokter Budiman berhasil.  Terlihat Hansip Diran menghela nafasnya.  Sepertinya ia tengah mengambil ancang-ancang untuk memulai ceritanya kembali.

“Pak Tua,” ucap Hansip Diran lirih seperti tengah berbisik. 

“Pak Kades maksudnya?” tanya dokter Budiman seperti ingin meyakinkan maksud perkataanHansip Diran.  Mendengar pernyataan dokter Budiman Hansip Diran hanya mengangguk saja.

“Lalu siapa lagi?” desak dokter Budiman semakin penasaran saja.

“Pak Muda dan Pak Brewok,” jawab Hansip Diran tetap dengan nadanya yang lirih seperti sebelumnya.

“Pak Carik dan Pak Mantri Polisi maksudnya?”   Sekali lagi dokter Budiman hendak menegaskan apa yang dimaksud oleh Hansip Diran. 

Dalam hati dokter Budiman semakin penasaran dibuatnya. Hansip Diran sengaja menggunakan nama-nama alias dari masing-masing orang yang ia maksud.  Apalagi nama alias itu memang sudah umum menjadi sapaan mereka. 

“Kabarnya lagi sewaktu Pak Diran dipanggil untuk menghadap Pak komandan polisi kecamatan, beliau saat itu juga terlihat seperti Buto Genthong juga ya?” tanya dokter Budiman seperti ingin mengkorek cerita yang sesungguhnya dialami oleh Hansip Diran. 

Lagi-lagi Hansip Diran hanya dapat menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan dokter Budiman.  Sebagai seorang pengusaha sebenarnya dokter Budiman sudah mendengar seluruh kabar tersebut.

“Apa yang Pak Diran lakukan ketika melihat pak komandan polisi tiba-tiba juga terlihat sebagai Buto Genthong?” tanya dokter Budiman penasaran.  Mendengar pertanyaan barusan, Hansip Diran terdiam sejenak. 

Tubuhnya tiba-tiba terlihat menggigil ketakutan.  Namun begitu tak seberapa lama mulutnyapun angkat bicara.

“Spontan Saya berteriak-teriak.  Ada Buto Genthong!  Ada Buto Genthong!  Sambil telunjuk saya menunjuk ke arah tempat duduk yang ditempati oleh pak komandan polisi,?\” jawab Hansip Diran menirukan kejadian saat itu.

“Lalu?” tanya dokter Budiman semakin tambah penasaran.

“Selanjutnya beberapa orang polisi masuk dan segera meringkus saya.  Beberapa bogem mentah sempat mendarat di muka saya.  Bahkan saya harus meringkuk di jeruji besi untuk beberapa hari,” lanjut Hansip Diran sedih.

“Di dalam jeruji itu Saya juga sempat diancam.  Katanya mata Saya akan dicongkel jika masih meneriaki pak komandan polisi dengan perkataan Buto Genthong,” ucap Hansip Diran melanjutkan ceritanya.  Suaranya terdengar terbata-bata saking takutnya.

Bagi dokter Budiman sebenarnya sepak terjang orang-orang yang tadi disebutkan oleh Hansip Diran sudah tak asing lagi.  Menurut kabar  yang sudah menjadi rahasia umum mereka semua memang terlibat bisnis haram mulai dari mengelola judi togel, sabung ayam, miras, warung remang-remang  hingga penyerobotan tanah warga desa. 

Namun karena amplopnya sudah beredar di berbagai meja, keempat orang tersebut bagai belut yang licin.  Bupati saja tak berani menyentuh Kepala Desa yang dimaksud  oleh Hansip Diran.  Demikian juga dengan Kapolres.  Komandan polisi itu seperti tutup mata saja dengan kelakuan anak buahnya yang nakal.  Padahal masyarakat sudah berkali-kali mengadukannya.

Kejadian aneh yang dialami oleh Hansip Diran ini sebenarnya oleh masyarakat hendak dimanfaatkan untuk mendongkel keempat orang bajingan tersebut  Tapi malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih. 

Beberapa hari setelah Hansip Diran pulang, sekelompok orang yang tak dikenal nekat mencegat lalu mencongkel mata Hansip Diran ketika lelaki petugas keamanan kantor desa itu turun dari sholat subuh berjamaah.