Scroll untuk baca artikel
Ragam

Filosofi Wayang Kulit, Islam dan Media Dakwah

Redaksi
×

Filosofi Wayang Kulit, Islam dan Media Dakwah

Sebarkan artikel ini

Wayang sebagai media dakwah dipakai Sunan Kalijaga, sedangkan filosofi wayang kulit adalah filsafat yang kompleks, karena ia adalah filsafat moral yang kongkret tentang kehidupan.

BARISAN.CO – Dakwah merupakan kewajiban bagi orang muslim, seperti perbuatan amar ma’ruf nahi munkar. Sehingga bagi orang muslim secara otomatis ia menjadi juru dakwah dalam kehidupannya.

Perintah amar ma’ruf nahi munkar ditunjukan untuk mengajak orang lain berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan. Proses mengajak ini juga disebut dengan dakwah, oleh karena itu perlu penunjang kesuksesan dalam berdakwah.

Jika untuk saat ini, jika dirinya sudah tertanam jiwa pendakwah maka dapat memanfaatkan teknologi informasi untuk berdakwah. Seperti memanfaatkan media sosial dan media online untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan.

Berdakwah menggunakan media sosial dan media online itu sendiri merupakan media dan metode yang dipakai dalam berdakwah. Dalam berdakwah untuk mencapai sasaran atau tujuan, medialah yang dipakai disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

Sebagaimana yang dicontohkan Wali Songo yang menjadi pelopor masuknya agama Islam di tanah Jawa. Para wali tidak serta merta menyampaikan dakwahnya secara terang-terangan. Akan tetapi mereka menggunakan metode dan media dalam menyampaikan ajarannya.

Para Wali Songo telah mengajarkan pentingnya berdakwah melalui jalur kebudayaan. Mereka berdakwah menggunakan media, seperti kebudayaan Jawa dan Hindu, seni suara, kawawitan, tani, sastra, hingga seni wayang.

Jalur yang ditempuh para Wali Songo yang berbudaya ini sehingga dakwahnya lebih indah dan mampu menarik hati masyarakat. Seperti halnya yang dilakukan Sunan kalijaga berdakwah dengan jalur kebudayaan masyarakat jawa yakni dengan media wayang.

Bahkan diatara Wali Songo nama Sunan Kalijawa paling populer, selain pandai bergaul di setiap lapisan masyarakat. Sunan Kali Jaga memiliki jiwa toleransi yang tinggi, sehingga ia memiliki andil bersar dalam perkembangan agama Islam dan juga turut mengembangkan kebudayaan bangsa Indonesia.

Perlu diketahui bahwa wayang bagi masyarakat Jawa sebelum agama Islam telah berkembang dan menjadi pandangan hidup. Melalui wayang inilah Sunan Kalijaga menebarkan nilai-nilai ajaran Islam.

Dakwah dan Filosofi Wayang Kulit

Sunan Kalijaga menggunakan media wayang kulit untuk menanamkan nilai-nilai agama Islam. Bahkan kesenian wayang kulit, Sunan Kalijaga mampu menghasilkan kreasi baru seperti segala perangkat gamelannya.

Wayang kulit sendiri adalah pengembangan dari wayang beber yang sudah ada semenjak era Erlangga. Selain pengembangan budaya dengan seperangkat gamelan, Sunan Kalijaga menciptakan tokoh Punakawan yakni Semar, Gareng, Petruk dan Bagong.

Wayang bagi masyarakat Jawa selain sebagai pandangan hidup, memang mengandung makna yang mendam. Sebab dalam wayang mengungkapkan gambaran hidup manusia denan gambaran hidup semesta.

Wayang mampu menyajikan gambaran lakon kehidupan umat manusia dengan berbagai persoalannya. Di tangan dingin Sunan Kalijaga inilah wayang menjadi titik temu nilai budaya Jawa dan Islam.

Jadi wayang bukan sekadar hiburan bagi masyarakat Jawa, akan tetapi menjadi media komunikasi yang memiliki alur cerita. Sehingga mampu memberikan informasi pendidikan dan pengajaran bagi masyarakat.

Hal inilah yang memberikan keyakinan bahwa Islam orang Jawa tidak dapat lepas dari peran wayang sebagai jalur komunikasi dakwah. Wayang hikmah dari Sunan Kalijaga sebagai seorang dai yang pandai dalam bidang kesenian dan kebudayaan sebagai sarana dakwah.

Hakikat dan Filsafat Wayang

Berbicara tentang wayang selalu menjembataninya dengan filosifi wayang kulit itu sendiri. Sebab di ranah filsafat ada pengertian cinta dan kebijaksanaan. Sehingga filosofi wayang kulit mencerminkan kandungan cinta dan kebijaksanaan.

Hazim Amir dalam bukunya berjudul Nilai-nilai Etis dalam Wayang berpandangan bahwa wayang menawarkan ajaran filosofis yang bersumber pada ajaranajaran religius. Pandangan ini tercermin dipenjabaran yang termaktub dalam suatu konsep etika tradisional yang diekspresikan dalam suatau karya seni.

Pandangan filsafat jawa yang membahas wayang kulit dalam pembahasannya tidak ditemukan kesamaan pendapat dan pendirian. Karena titik tolaknya berlainan. Hal tersebut tidak perlu dipermasalahkan karena justru sangat diperlukan karena perbedaan tersebut akan bersifat saling melengkapi satu dengan lainnya.

Wayang kulit sebagai pertunjukan dengan beragam peralatannya merupakan ungkapan dan penjabaran pengalaman religus. Meski pengalaman religus ini masih ada peran mitos dan ritus yang dala pada setiap lakon.

Namun jika ditelisik secara mendalam, seperti mitos yang digambarkan dalam pertunjukan wayang merupakan cerminan atau gamabaran kehidupan sesungguhnya.

Filosofi wayang kulit tercurahkan pada pertunukan dimainkan oleh dalang yang memegang perang penting dalam pengembangan budaya daerah dan terlebih kebudayaan nasional. Filosofi dapat dirasakan jika dalang meramu pertunjukan khas jawa yang bernama senggit yakni kemampuan dalang yang lahir dari kedalaman filsafat.

Filsafat wayang kulit adalah filsafat yang kompleks, karena ia adalah filsafat moral yang kongkret. Pada prinsipnya, wayang menawarkan jawaban yang simpel tentang hidup. Pandangan hidup orang Jawa lazim disebut kejawen atau yang dalam kesusasteraan jawa dinamakan ilmu kesempurnaan jawa/jiwa.

Ilmu kesempurnaan jiwa ini termasuk ilmu kebatinan dan dalam filsafat Islam disebut tasawuf atau orang Jawa menyebutkan suluk atau mistik.