Scroll untuk baca artikel
Kolom

Hidup Sonder Validasi

Redaksi
×

Hidup Sonder Validasi

Sebarkan artikel ini
Hidup Sonder Validasi

Puasa Ramadhan mengajarkan hidup tanpa bergantung pada validasi manusia fokus pada keikhlasan, ridha Allah, dan ketenangan jiwa sejati.

Oleh: Imam Trikarsohadi

SEJATINYA, salah satu faedah ibadah puasa ramadhan secara sungguh – sungguh adalah membebaskan diri hidup atas prasangka orang lain, karena ini ibadah khusus antara manusia dengan Sang Pencipta.

Seperti kita ketahui, ada begitu banyak manusia yang merasa hidupnya penuh tekanan hanya karena terlalu berusaha memenuhi ekspektasi orang lain. Setiap keputusan yang diambil seringkali dirasa seperti harus sesuai dengan apa yang orang lain harapkan, hingga mereka lupa apa yang sebenarnya diinginkan.

Padahal mencari validasi dari orang lain itu melelahkan dan malah membatasi diri sendiri. Hidup ini bukan tentang menyenangkan semua orang, tapi tentang berani menerima diri apa adanya tanpa peduli pendapat orang lain.

Untuk sebagaian orang, mencari validasi dari orang lain kadang terasa seperti kebutuhan, padahal sebenarnya itu hanyalah kebiasaan yang keliru. Kita sering merasa bahwa opini orang lain menjadi tolok ukur apakah kita berharga atau tidak, hingga lupa bahwa hidup ini sepenuhnya milik kita.

Apa boleh buat, ekspektasi dari lingkungan sekitar bisa membuat seseorang kehilangan kebebasan untuk jadi diri sendiri. Ketika mulai melepaskan kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan, otamatis beban akan berkurang.

Tapi, bebas dari validasi bukan berarti menutup diri dari kritik atau masukan orang lain. Ini tentang berani mengambil langkah yang benar, terlepas dari apa yang orang lain pikirkan.

Filosofi hidup tanpa validasi orang lain sejatinya berakar pada konsep Ikhlas dan tauhid, di mana seorang melepaskan diri dari ketergantungan pujian atau pengakuan makhluk, dan fokus sepenuhnya pada keridaan Allah SWT.

Ini adalah bentuk “kemerdekaan jiwa” (hurriyah) yang membebaskan manusia dari rasa lelah akibat mencari persetujuan orang lain.

Sebab itu, salah satu caranya adalah bersikap ikhlas, yakni beramal hanya untuk Allah.

Ikhlas adalah inti dari tindakan tanpa validasi. Seseorang yang ikhlas melakukan kebaikan bukan agar dilihat (riya’) atau dipuji (sum’ah), melainkan karena perintah Allah. Pujian manusia hanyalah sementara dan acapkali palsu, sedangkan penilaian Allah adalah yang abadi.

Salah satu contohnya adalah beribadah atau berbuat baik tanpa mengumumkannya di media sosial (diam-diam sukses/amal). Kemudian menjadikan Allah menjadi satu – satunya sumber validasi.

Filosofi ini mengajarkan bahwa harga diri seorang mukmin tidak ditentukan oleh komentar atau angka “like” manusia, melainkan pada ketakwaannya kepada Allah.

Berikutnya adalah fokus pada Ridha Allah, sebab, jika Allah ridha, maka ketenangan hati akan didapatkan, meskipun manusia tidak menghargainya.

Yang tak kalah penting juga adalah menerima diri sendiri sebagai khalifah Allah, sadar bahwa kelebihan/kekurangan adalah ketetapan-Nya, sehingga membuat kita percaya diri tanpa perlu sorak sorai.

Lalu bertawakal; berserah diri sepenuhnya kepada Allah setelah melakukan ikhtiar maksimal. Ini mengurangi rasa cemas yang timbul dari ekspektasi agar orang lain menyukai usaha kita. Orang yang tawakkal tidak kehilangan harapan ketika tidak dipuji, dan tidak angkuh ketika dipuji.

Islam memperingatkan bahwa mencari validasi manusia adalah bibit penyakit hati (riya’). Melakukan sesuatu demi pencitraan dapat membuat amal ibadah menjadi sia-sia.

Di dunia yang penuh pamer, perbaikan diri yang paling indah adalah yang hanya diketahui oleh Allah (perbaikan diri yang senyap).

Ringkasnya, dunia adalah tempat beramal, bukan tempat mengejar sorak-sorai manusia. Sebab itu harus bebas dari ekspektasi manusia lainnya, sehingga benar – benar menjadi pribadi yang tegar, tidak bergantung pada validasi manusia untuk merasa berharga.

Hidup akan merasakan ketenangan jiwa yang hakiki jika hanya bersandar pada tujuan mulia, yaitu keridaan Ilahi. []

Membuka Tabir Kenikmatan Dunia
Kolom

Puasa Ramadhan bukan hanya menahan lapar, tetapi menumbuhkan…