Scroll untuk baca artikel
Terkini

Ilham Habibie Beberkan 3 Teknologi yang Paling Dibutuhkan Indonesia

Redaksi
×

Ilham Habibie Beberkan 3 Teknologi yang Paling Dibutuhkan Indonesia

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Teknologi dapat membantu membuat dunia kita lebih adil, lebih damai, dan lebih adil.  Kemajuan teknologi mempengaruhi cara orang belajar, bekerja, berkomunikasi, berpikir dan berefleksi.

Ini memainkan peran penting dalam masyarakat saat ini.  Ini memiliki efek positif dan negatif pada dunia dan berdampak pada kehidupan sehari-hari.  Kita hidup di era di mana kemajuan teknologi adalah hal biasa. 

Teknologi memengaruhi hampir setiap aspek kehidupan abad ke-21, mulai dari komunikasi, keamanan, efisiensi dan keselamatan transportasi, hingga akses pangan, inklusi keuangan, perawatan kesehatan, sosialisasi, dan produktivitas.

Revolusi teknologi pun semakin cepat mengalami perubahan. Penemuan dan inovasi menjadi kunci hampir di setiap sektor aktivitas manusia yang ada di sepanjang jalur industri.

Teknologi adalah tiket emas untuk mencapai tujuan mengakhiri kemiskinan pada tahun 2030.KImberly Quitzon

Teknologi yang Dibutuhkan Indonesia

Kepala Badan Riset dan Teknologi Kadin, Ilham Habibie mengatakan, terdapat tiga teknologi yang dibutuhkan oleh Indonesia kini dan nanti. Hal itu dia sampaikan dalam akun Youtube-nya.

Teknologi pertama yang dibutuhkan di Indonesia adalah Artificial Intelligence atau kecerdasan artificial. Ilham menjelaskan, karena teknologi ini sangat universal sehingga bisa dimanfaatkan dalam segala macam bidang, termasuk kerdigantaraan, kesehatan, bahkan ilmu agama.

“Kita lebih bisa mengerti apa yang kita belum pahami secara utuh menjadi lebih baik, kalau kita terapkan teknologi tersebut,” kata Ilham.

Menurutnya, jika dulu perusahaan raksasa itu dari bidang minyak dan gas, kini sudah beralih ke perusahaan yang memiliki banyak data.

“Dengan data, kita bisa berbuat banyak, mengubah industrinya, membuat inovasi yang baru, desain baru, dan banyak hal lainnya. Sebagai negara terbesar keempat di dunia dengan 276 juta jiwa penduduk yang satu hari nantiakan mencapai 300 juta jiwa, sumber data itu tentunya sebagian besar dari masyarakat kita,” ujar Wakil Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) itu.

Dia menyampaikan, bodoh jika Indonesia tidak memanfaatkan datanya sendiri.

“Kalau datanya sendiri dikuasai oleh bangsa lain dan kita harus beli produk-produk mereka yang menggunakan data kita untuk mengembangkan produknya lebih baik. Jadi, ilmu terkait teknologi AI itu penting,” tegas Ilham.

Teknologi yang kedua, Ilham sebut adalah energi terbarukan. Dia menjelaskan, saat ini, di Indonesia baru 10 persen energi berasal dari energi terbarukan.

“Padahal, kita sudah sama-sama tahu bahwa semakin banyak kita menggunakan energi terbarukan, semakin sedikit emisi karbon membuat iklim di Indonesia dan dunia lebih stabil. Tidak ada lagi perubahan iklim yang terjadi karena adanya efek rumah kaca,” jelasnya.

Ketua Dewan Penasehat Forum Dialog Nusantara (FDN) ini menyampaikan, sebagaian besar industrialisasi di dunia didorong oleh emisi karbon berlebih akibat pembangkit listrik yang menggunakan fosil.

Indonesia saat ini sudah komitmen menjadi net zero pada tahun 2060, namun Ilham menyebut, untuk mencapai target tersebut, negara ini harus lebih banyak mengembangkan teknologi dan juga pembangkit listrik yang menggunakan energi terbarukan.

“Misalnya, tenaga surya, tenaga bayu, geothermal, biomassa, pasang surut, dan banyak sekali. Kita sebagai negara bangsa kalau kita lihat rincian dari situasi kondisi Indonesia kita punya banyak sekali sumber energi terbarukan, tapi kita baru menggunakan 10 persen,” paparnya.

Oleh karena itu, Ilham berharap Indonesia bisa bangkit dalam pengembangan teknologi dari industri terkait dengan energi terbarukan.

Yang terakhir, Ilham menuturkan teknologi yang dibutuhkan Indonesia terkait dengan genetik. Meski sudah dilakukan, namun menurutnya, masih banyak lagi yang bisa dikembangkan.

“Genetik maksud saya engineering terkait dengan modifikasi genetik yang sesuai dengan apa yang perlu kita lakukan,” ujar Ilham.

Ilham mengakui, dalam hal ni masih banyak pertentangan termasuk soal masalah yang bisa saja terjadi.

“Kalau kita lihat masa depan dunia ini, kita memang harus membuat perkembangan yang lebih besar lagi di bidang misalnya pangan, makanan dan minuman, dan obat kesehatan itu semua harus kita tingkatkan efektivitas, efikasi, dan efisiensinya. Kita sebagai negara dengan populasi yang sangat besar perlu investasi ke situ dan kita jangan lupa kita negara yang agro dengan banyak sekali suplai pangan bukan saja untuk sendiri, tapi juga untuk dunia,” tambahnya.

Di tahun 2003, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) telah mengembangkan pedoman dan standar internasional untuk menentukan keamanan makanan transgenik. Kemudian, tahun 2015, BPOM AS (FDA) menyetujui permohonan modifikasi genetik pertama pada hewan, yakni salmon hasil rekayasa genetika. Dua tahun setelahnya, apel hasil rekayasa genetika mulai dijual di AS.

Dengan begitu, Ilham melanjutkan, agar industri agro ini lebih efektif dan efisien, maka perlu adanya penguasaan dari genetik tersebut.

“Marilah kita sebagai bangsa dan negara jangan kenal lelah untuk menggapai yang terbaik untk diri kita dan dunia dalam hal penguasaan teknologi. Jangan pernah takut kita itu bisa sebagai negara dan bangsa dan kita sudah pernah buktikan dengan adanya Hari Kebangkitan Teknologi Nasional,” terangnya. [rif]