Ilham Akbar Habibie menyayangkan Indonesia belum punya visi itu dan hanya lebih mengandalkan SDA yang ada.
BARISAN.CO – Sejak tahun 1960-an, Korea Selatan melepaskan diri dari status negara berkembang. Para pengamat menyebut pesatnya pertumbuhan ekonomi di sana dengan Miracle on the Hangang River (Keajaiban Sungai Han) karena sebagian besar fasilitas industri Korsel hancul selama Perang Saudara yang berlangsung selama tiga tahun, dan negara itu tidak memiliki modal serta sumber daya alam.
Namun, kini Korsel menunjukkan daya saing global. Contohnya saja, Samsung yang menjadi pemain kunci dalam membantu membangun perekonomian di sana. Tahun lalu, Samsung memimpin pasar smartphone global di tahun 2021 dengan pengiriman tahunan sebesar 271 juta unit. Perusahaan itu terus berinovasi dan membuktikan diri bahwa Korsel mampu bersaing di pasar global.
Inovasi yang hadir dari negara itu menarik banyak perhatian dunia, terutama kebangkitan pasca Perang Saudara, termasuk dari Wakil Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Ilham Akbar Habibie.
Ilham menyebut bahwa meski Korsel tidak memiliki sumber daya alam, namun mampu memanfaatkan keadaan tersebut. Dia memberikan contoh seperti nikel yang dapat dibuat turunan-turunannya atau sesuatu yang tidak harus 100 persen buatan dalam negeri, misalnya gawai.
“Kalau kita lihat handphone dari Samsung, apakah metalnya dari Korea? Mungkin saja tidak, karena mereka tidak punya sumber daya alam. Jadi, impor saja, tapi mampu mengubah SDA yang diperoleh dalam bentuk relatif mentah membuat sesuatu yang bernilai tambah tinggi. Peranan insinyur di situ untuk membuat nilai tambah tinggi itu,” kata Ilham kepada Barisanco.
Kutukan Melimpahnya SDA
Hal itu justru berbeda dengan kondisi di tanah air. Ilham menyayangkan Indonesia belum punya visi itu dan hanya lebih mengandalkan SDA yang ada. Ilham pun melihat kondisi saat ini, seperti kutukan yang terjadi karena kekayaan sumber daya alam dan menjadi mentalitas.
“Istilah lain dari orang pra-ekonomisnya, mereka katakan the dutch diseases (penyakit Belanda). Di tahun 2000-an pernah ada kejadian di Belanda ditemukan cadangan gas di pesisirnya yang cukup besar, entah itu terkait tidak, penelitian untuk pengembangan itu turun. Itu Belanda, contoh negara yang sebenarnya sudah maju, tapi begitu mereka menemukan adanya SDA yang besar mentalitas mereka berubah,” tambah Ilham.
Sehingga, untuk mengubahnya, Ilham mengingatkan Indonesia sebagai negara kaya akan SDA, perlu memiliki visi karena apabila SDA yang ada dibagi dengan jumlah penduduk di Indonesia, hitungannya masih tetap sedikit. Sebagai orang yang lahir dan besar di Jerman, Ilham melanjutkan bahwa bagi orang yang belum melihat secara langsung akan sulit percaya.
“Menurut saya ada banyak orang yang mengatakan kenapa indonesia masih industrialisasi? Padahal itu membuat lingkungan kita tercemar, kehilangan apa yang kita miliki, bukannya kita sudah melihat kerusakan yang telah dibuat oleh industri terhadap lingkungan di luar negara lain? Di Cina atau India parah sekali, kenapa kita harus seperti itu?” lanjut putra sulung B.J. Habibie ini.
Dampak Industri Terhadap Lingkungan
Ilham tidak menampik adanya kerusakan lingkungan yang terjadi akibat industrialisasi karena banyak contoh yang terjadi, seperti Cina dan India yang lingkungan rusak parah. Sehingga, untuk itu, Ilham menyarankan agar industri bersepakat agar menajdi industri yang ramah lingkungan.
“Tidak harus dibayar dengan kerusakan alam yang sebesar itu. Kalau banyak di Indonesia yang rusak seperti itu karena banyak yang ilegal. Kayak di Kalimantan itu ditebang tahu sendiri kalau kita dari Balikpapan ke Samarinda bukit Soeharto tandus, setandus-tandusnya,” tegasnya.
Ilham menyangsikan pembabatan hutan di Kalimantan itu semuanya legal. Yang jelas, baginya, Indonesia belum memiliki perencanaan yang baik atau walaupun sudah direncanakan dengan baik, perencanaan itu justru cenderung dilanggar.
Dia enggan beragumentasi bahwasanya industri itu punya potensi untuk merusak lingkungan, sebab melihat dunia saat ini menyadari hal itu. Terutama negara yang mengalami dampak besar dari perubahan iklim, seperti di Jerman tahun lalu, yang untuk pertama kalinya melihat langsung bahwasanya perubahan iklim itu bukan saja merusak, tapi hilangnya banyak nyawa akibat banjir. Sehingga di pemilihan yang lalu dimenangi Partai Sosial Demokrat dan Partai Hijau Jerman yang memang pro akan isu tersebut.
Ilham tidak menampik, masyarakat Jerman termasuk konservatif, namun sekali merasa terancam, mereka langsung berubah.
“Bukan satu masalah di negara yang jauh dari kita. Di negara kita sendiri juga menjadi masalah. Tapi memang manusia begitu, harus dirasakan dulu, baru percaya,” tuturnya. [rif]




