Scroll untuk baca artikel
Puisi

Inilah Puisi Cinta Rabiah Al Adawiyah, Konsep Mahabbah 

Redaksi
×

Inilah Puisi Cinta Rabiah Al Adawiyah, Konsep Mahabbah 

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Puisi Cinta Rabiah Al Adawiyah merupakan manifestasi dari konsep tasawufnya yakni mahabbah. Rabiah Al Adawiyah memiliki nama lengkap Ummu al-Khai bin Ismail al-Adawiyah al-Qaisyiyah.

Rabiah Al Adawiyah lahir di Basrah di perkirakan pada tahun 95 H (717 M). Diceritakan dalam sebuah literatur karya Fariddudin al-Attar (w. 627 H.) Peristiwa-peristiwa ajaib tak jarang terjadi di masa kelahirannya. Pada malam kelahiran Rabi’ah tidak terdapat suatu barang berharga yang didapat dalam rumah Ismail.

Bahkan tidak terdapat setetes minyak untuk mengoles pusar putrinya, apalagi minyak untuk lampu penerang. Rumah tersebut juga tidak terdapat sehelai kain pun yang dapat digunakan untuk menyelimuti bayi yang baru lahir. Rabi’ah tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga biasa dengan kehidupan orang saleh yang penuh zuhud.

Diceritakan oleh Abdul Mu’in Qandil dan Athiyah Kamis, bahwa sejak kecil Rabi’ah sudah seperti orang dewasa, ia seakan-akan telah paham dan dapat merasakan kondisi yang dialami oleh orang tuanya, sehingga ia menjadi pendiam, tidak banyak menuntut kepada orang tuanya.

Sebagaimana layaknya gadis kecil yang menginjak remaja. Keistimewaan dan kekuatan daya ingat Rabi’ah juga telah dibuktikan sejak masa kanak-kanak.Al-Qur’an dihafalnya sejak usia 10 tahun.

Kecepatan Rabi’ah dalam menghafal Al-Qur’an ini dapat dimaklumi, karena ia sangat suka menghafal. Bila telah berhasil menghafal ia duduk lalu mengulanginyakembali dengan penuh khusyu’, penuh iman yang mendalam dan pemahaman yang sempurna.

Inilah puisi Cinta Rabiah Al Adawiyah

I
Alangkah sedihnya perasaan dimabuk cinta
Hatinya menggelepar menahan dahaga rindu
Cinta digenggam walau apapun terjadi
Tatkala terputus, ia sambung seperti mula
Lika-liku cinta, terkadang bertemu surga
Menikmati pertemuan indah dan abadi
Tapi tak jarang bertemu neraka
Dalam pertarungan yang tiada berpantai

II
Aku mencintai-Mu dengan dua cinta
Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu
Cinta karena diriku, adalah keadaan senantiasa mengingat-Mu
Cinta karena diri-Mu, adalah keadaan-Mu mengungkapkan tabir
Hingga Engkau ku lihat
Baik untuk ini maupun untuk itu
Pujian bukanlah bagiku
Bagi-Mu pujian untuk semua itu

III
Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cinta-Mu
Hingga tak ada satupun yang mengganguku dalam jumpa-Mu
Tuhanku, bintang gemintang berkelip-kelip
Manusia terlena dalam buai tidur lelap
Pintu pintu istana pun telah rapat
Tuhanku, demikian malam pun berlalu
Dan inilah siang datang menjelang
Aku menjadi resah gelisah
Apakah persembahan malamku, Engkau terima
Hingga aku berhak mereguk bahagia
Ataukah itu Kau tolak, hingga aku dihimpit duka,
Demi kemahakuasaan-Mu
Inilah yang akan selalu ku lakukan
Selama Kau beri aku kehidupan
Demi kemanusian-Mu,
Andai Kau usir aku dari pintu-Mu
Aku tak akan pergi berlalu
Karena cintaku pada-Mu sepenuh kalbu

IV
Ya Allah, apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di dunia ini,
Berikanlah kepada musuh-musuh-Mu
Dan apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di akhirat nanti,
Berikanlah kepada sahabat-sahabat-Mu
Karena Engkau sendiri, cukuplah bagiku

V
Aku mengabdi kepada Tuhan
bukan karena takut neraka
Bukan pula karena mengharap masuk surga
Tetapi aku mengabdi,
Karena cintaku pada-Nya
Ya Allah, jika aku menyembah-Mu
karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
Dan jika aku menyembah-Mu
karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya
Tetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata,
Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu
yang abadi padaku

VI
Alangkah buruknya,
Orang yang menyembah Allah
Lantaran mengharap surga
Dan ingin diselamatkan dari api neraka
Seandainya surga dan neraka tak ada
Apakah engkau tidak akan menyembah-Nya?
Aku menyembah Allah
Lantaran mengharap ridha-Nya
Nikmat dan anugerah yang diberikan-Nya
Sudah cukup menggerakkan hatiku
Untuk menyembah-Mu