Akan tetapi, setiap kali lidah dan bibir mereka digunting, lidah dan bibir tersebut kembali seperti sedia kala. Mereka melakukan hal tersebut terus menerus tanpa berhenti.
Jibril yang menemani perjalanan Nabi berkata bahwa itu adalah para pengkhutbah dari ummat Nabi. Mereka fasih bicara agama. Akan tetapi, isi khutbahnya menimbulkan fitnah dan keburukan bagi ummat.
Itulah orang yang paham tapi tidak dipuji, malah dikecam keras oleh agama. Mereka adalah orang-orang yang menjual agama demi mendapatkan keuntungan duniawiah.
Dengan berjubah dan bertopeng agama, biasanya, perilaku buruk mereka malah lebih mudah untuk dilakukan.
Masyarakat awam lebih mudah dibohongi jika kejahatan mereka itu dibungkus oleh perilaku yang “seolah-olah” religius.
Jadi, jika ditemukan banyaknya pejabat di kementerian agama yang berlaku korup, sebenarnya hal tersebut bukanlah hal yang mengherankan. Ini adalah fenomena ketika orang-orang jahat menjadikan agama sebagai jubah dan topeng yang menutupi hakikat keburukan mereka.
Masyarakat Indonesia yang religius perlu mengambil sikap tegas terhadap korupsi keagamaan ini agar pelakunya divonis berat.
Yang juga penting, masyarakat perlu menjaga dana dan proyek keagamaan agar tidak dikorupsi. []









