Scroll untuk baca artikel
Blog

Kado Natal untuk Cicilia – Cerpen Noerjoso

Redaksi
×

Kado Natal untuk Cicilia – Cerpen Noerjoso

Sebarkan artikel ini

JAM di ruangan loby kantor berdentang 8 kali, pertanda malam sudah menjemput.  Hawa dingin pun mulai menyergap tubuh Ahmad.  Beberapa kali lelaki itu membetulkan kancing jaketnya untuk mengusir hawa dingin. 

Di luar hujan sedari tadi siang sepertinya belum terlihat letih menumpahkan muatannya.  Kaca-kaca jendela kantor mulai buram oleh embun.  Jalan di depan kantor pos tempat Ahmad bekerja bukan hanya terlihat gelap tetapi juga lengang.  Hanya sesekali saja terdengar bunyi derit rantai becak dan derum mesin sepeda motor atau mobil yang melaju malas membelah rintik hujan.

Suka tidak suka, sebagai petugas pengantar surat, Ahmad harus menyelesaikan tugasnya hari ini juga karena besok pagi libur Natal.  Ia tidak ingin surat-surat itu terlambat sampai ke alamat yang dituju.  Satu per satu surat-surat itu ia pisahkan menurut kode posnya masing-masing untuk mempermudah dalam pengantaran. 

Dari kode pos itulah Ahmad dapat mengetahui daerah mana saja rute pengantarannya kali ini.  Ahmad terlihat bingung ketika tangannya menjumput surat terakhir.  Lama sekali ia tertegun mengamati amplop berwarna merah bata dengan gambar pohon natal dan dua buah lonceng di salah satu sudut amplopnya.  Berkali-kali Ahmad hanya dapat menghela nafas panjang.

“Ke manakah surat ini harus Aku antar?” tanya hati Ahmad bingung. 

“Paling-paling pengirimnya orang kurang waras,” gumam Ahmad seketika sambil membalik amplop berwarna merah bata tersebut.  Lama sekali Ahmad mengeja alamat pengirim surat yang tertera di balik amplop tersebut. 

“Dasar anak-anak,” gumam Ahmad lagi setelah membaca nama dan mengamati tulisan tangannya.  Tulisan tangan itu terlihat kurang rapi dan banyak coretan di sana-sini. 

“Mungkin saja ini adalah surat pertama yang ditulisnya,” bisik hati Ahmad sekali lagi sembari meletakkan kembali surat tersebut di atas meja kerjanya.   

“Atau sebaiknya aku baca saja isi   surat ini.  Eh tapi bukankah perbuatan itu melanggar sumpahku sebagai petugas pos,” bisik hati Ahmad seketika tatkala tangannya hendak meraih kembali surat yang baru saja ia letakkan tersebut.

“Ataukah sebaiknya aku antar saja surat ini ke Gereja?” bisik hati Ahmad ragu-ragu. 

“Surat yang aneh,  seumur-umur Baru kali ini aku mendapati surat seperti ini, pikir Ahmad kembali sembari tersenyum tipis dan menepuk jidatnya.  Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar bunyi lonceng Gereja yang terbawa angin malam.  Mungkin misa natal sudah dimulai.

Entah bagaimana akhirnya Ahmadpun memberanikan diri untuk membuka surat tersebut.  Dalam hati ia merasa bersalah karena telah membuka surat yang semestinya harus ia jaga.  Hati-hati sekali Ahmad membuka amplop surat tersebut.  Ia tidak ingin merusaknya sedikitpun. 

Beberapa kali ia harus menggunakan alat bantu pembuka rekatan lem agar tidak merusak sedikitpun amplopnya.

“Tuhan Yesus yang baik,….”

Begitulah kalimat pembuka surat yang dialamatkan kepada  Tuhan Yesus tersebut.  Seketika itu juga jantung Ahmad seperti berdetak lebih kencang daripada biasanya.  Hampir saja surat itu terjatuh.  Entah bagaimana jari-jemarinya seperti bergetar tak karuan.

“Tuhan!  Ini sudah Natal ke dua sejak bapakku meninggal.  Ibu pun sering jatuh sakit.  Akibatnya aku harus sering membolos.  Karena harus merawat ibu.”

Demi membaca paragraf ke dua surat tersebut, tak terasa mata Ahmad berkaca-kaca sembab oleh air mata.  Angannya melayang membayangkan raut muka kesedihan gadis kecil si penulis surat tersebut. 

“Sudah dua natal pula ibu tak sanggup untuk membuat pohon natal.  Kata Ibu, uangnya hanya cukup untuk makan sehari-hari.  Ibu juga tidak membelikanku baju baru buatku.  Padahal aku ingin sekali punya baju baru seperti milik Sisca atau Maria.”

Sekali lagi pipi Ahmad basah oleh butiran air matta yang sungguh tak dapat ia bendung.  Padahal ia sama sekali tidak mengenal gadis kecil yang menulis surat untuk Tuhan Yesus tersebut.  Dadanya terasa sesak sekali.

“Apakah tuhan Yesus sudah lupa padaku?Mungkin karena aku miskin sehingga Tuhan Yesus dapat begitu saja melupakanku?  Tapi Bukankah seharusnya Engkau datang kepadaku yang lemah ini?”

Demi membaca paragraf keempat tersebut, dada Ahmad seperti dihimpit oleh benda yang teramat berat.  Ingatannya segera melayang pada Nuning anak perempuannya yang mungkin seusia dengan gadis penulis surat tersebut.  Malam ini mungkin Nuning tengah bersendau gurau dengan ibu, kakek, nenek serta kakaknya menikmati tayangan TV.  Meski tak ikut merayakan Natal, Nuning pastilah ikut bergembira karena besok pagi libur sekolah. 

“Tuhan Yesus,… Datanglah padaku meski hanya dalam mimpi.  Itu sudah cukup bagiku.  Natal tahun ini Ibu juga tak membuat kue Natal.  Namun begitu aku tetap bersuka cita karena Aku masih memiliki seorang Ibu.  Aku tidak dapat membayangkan andai saja Engkau juga mengambil ibuku sekalian seperti Diana yang kini sudah yatim piatu.  Pastilah ia lebih sedih ketimbang diriku.”

“Tuhan Yesus ,… Di perayaan Natal tahun ini, Aku hanya ingin Engkau memberikan baju bbaru untuk ibuku.  Aku ingin ibuku tersenyum dan sejenak melupakan kesusahannya.  Ibuku tentu lelah sekali.  Setiap hari ia hrus bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkandagangannya.  Sudah seperti itu, kadangkala dagangannya tidak habis terjual.  Kalau sudah seperti itu modalnya juga ikut habis pula.  Aku sebenarnya ingin membantu ibuku mencari uang.  Tapi aku tidak tahu harus bekerja apa?  Kata Ibuku, Tubuhku masih terlalu kecil untuk bekerja.” 

“Suratku sudah dulu ya Tuhan,  Kalau Engkau ingin menemuiku di Gereja besok pagi, biasanya aku duduk di bangku paling belakang.  Di sampingku ada seorang perempuan setengah baya yang berwajah pucat.  Itu adalah ibuku.  Ia saat ini kurang sehat.”

HambaMu Yang Yatim

Cicilia

Mengakhiri membaca surat tersebut, Ahmad tak henti-hentinya menghela nafas panjang.  Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.  Tak lama kemudian, surat itupun segera ia masukkan kembali ke dalam amplopnya.  Dan bergegas ia pun segera mengeluarkan sepedanya.  Jalanan masih basah oleh air hujan ketika surat terakhir telah ia antarkan.   

Tanpa pikir panjang lagi diarahkannya setang sepedanya ke sebuah toko.  Dibelinya dua buah baju.  Sebuah untuk perempuan yang disebut oleh Cicilia sebagai ibunya.  Dan sebuah ia beli untuk Cicilia sendiri.  Ahmad tidak pikir panjang apakah baju yang ia beli itu nantinya kebesaran atau kekecilan.  Pokkoknya ia beli saja.  Dibelinya pula beberapa biskuit dan permen serta sirup. 

Usai membayarnya, lelaki pengirim surat itupun segera bergegas mengayuh pedal sepedanya menuju ke alamat yang tertulis di balik surat beramplop merah bata tersebut.  Bagi Ahmad  tak sulit menemukan alamat tersebut.  Pekerjaannya sebagai pengantar surat membuatnya mengenal seluruh lika-liku jalan di kotanya.  Ibarat kata jalan tikus sekalipun Ahmad tahu persis.

Rumah Cicilia terletak di ujung gang sempit yang becek.  Ahmad harus menuntun sepedanya agar tidak terperosok ke lubang jalan.  Benar sekali dugaan Ahmad.  Rumah itu tepat berada di bawah rumpun babmbu dekat pekuburan kampung.  Hanya terlihat nyala sebuah pelita kecil yang bergoyang-goyang dipermainkan angin ketika Ahmad melongok dari jendela rumah yang berdebu tersebut.

Setelah berkali-kali Ahmad mengetuk pintu, Barulah terdengar suara langkah mendekati pintu.

“Siapa di luar?  Kami orang miskin tak punya apa-apa.  Pergilah!  Jangan ganggu Kami.” Ucap suara dari dalam rumah yang mirip gubuk tersebut.  Mendengar perkataan tersebut, sekali lagi dada Ahmad seperti dihantam oleh benda berat.  Lagi-lagi air matanya menetes.

“Saya Ahmad.  Saya petugas Pos.  Ini ada kiriman untuk anak ibu,” sahut Ahmad dengan nada yang ramah.  Lama sekali tidak terdengar jawaban dari dalam rumah.  Hanya terdengar suara tangis.  Mendengar suara tangis yang sedemikian memilukan itu, lagi-lagi dada Ahmad terasa sesak dibuatnya.

“Kalau memang benar Bapak adalah tukang pos, Sebutkan nama pengirim paket tersebut?  “ sahut suara di dalam rumah tersebut seperti ketakutan.  Ahmad sendiri bingung ketika harus menyebutkan nama si pengirim paket tersebut.  Lelaki pengirim surat itu hanya terdiam tak tahu harus menjawab apa.  Pikirannya diliputi kebingungan.

“Pergilah!  Jangan ganggu Kami.  Kami tidak punya apa-apa,” sekali lagi suara di balik pintu itu seperti mengusir Ahmad.  Nada suaranya bergetar menahan ketakutan

“Percayalah!  Saya bukan orang jahat.  Saya hanya petugas pos yang hendak mengantar paket untuk Cicilia.  Mohon maaf kalau mengantarnya kemalaman karena hari ini banyak sekali surat yang harus diantar.  Sementara besok pagi kantor libur,” jawab Ahmad berusaha memberi penjelasan.  Rupanya penjelasan Ahmad yang terakhir ini membuat perempuan yang ada di dalam rumah itu percaya dan tidak ketakutan lagi.  Berikutnya barulah pintu rumah terkuak sedikit.  Terlihat wajah perempuan setengah baya dengan rona muka yang pucat seperti menahan rasa sakit.

Bergegas Ahmad pun segera menyerahkan bungkusan kepada perempuan setengah baya tersebut.  Seketika itu juga perempuan itupun menerima dan mendekapnya dengan erat-erat sambil menangis sesenggukan.  Melihat itu semua, hati Ahmad semakin luluh lantak dibuatnya.  Lama sekali perempuan itu larut dalam tangisnya tanpa memperdulikan Ahmad yang sedari tadi memperhatikannya.  Ia baru tersadar ketika Ahmad hendak meminta ijin pulang. 

“Cicilia sudah mati!  Tadi pagi, seorang pengendara mobil berplat merah yang dikawal polisi telah menabraknya.” Ucapnya kemudian sambil menatap lekat-lekat wajah Ahmad.  Suaranya terdengar parau menahan pilu.

“Pagi tadi aku menyuruhnya membeli obat di warung seberang jalan sana.    Mungkin ia tidak menengok ke kanan dan ke kiri tatkala hendak menyeberang jalan.  Mungkin saja ia tergesa-gesa,” sambungnya  lagi tanpa dapat menyembunyikan kesedihannya.  Suaranya terdengar sedemikian lemah.  Belum sempat Ahmad menjawabnya, tiba-tiba saja tubuh perempuan itu terlihat limbung.  Dan sedetik kemudian tubuh itu  telah jatuh tersungkur.  Berkali-kali mulutnya memanggil Cicilia hingga akhirnya suara itupun seperti lenyap ditelan kesunyian.  Dan ketika tangan Ahmad meraba urat nadinya, detak nadi perempuan itu pun telah lenyap.