Kandungan kitab Al-Hikam tentang zuhud, bahwasanya dunia adalah perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.
BARISAN.CO – Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari menjadi kajian dari berbagai perspektif. Kajian kitab ini tidak hanya oleh para akademisi, santri, kiai bahkan kalangan tarekat apapun mengkajinya. Meski Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari merupakan mursyid Tarekat Syadziliyah.
Salah satu ajaran penting dalam kitab ini kandungan kitab Al-Hikam tentang zuhud. Arti zuhud sendiri memiliki makna meninggalkan sesuatu yang hina atau yang dapat merusak dunia. Dalam artian bahwa zuhud bukan semata-mata meninggalkan dunia. Akan tetapi dunia sekadar perantara atau wasilah, bukan goyah atau menjadi tujuan.
Adapun kandungan kitab Al-Hikam tentang Zuhud, Syekh Ibnu Athaillah dalam maqolahnya mengatakan:
ماَقـَلَّ عَملٌ بَرَزَ من قلْبٍ زاَهِدٍ ولاكَثـُرَ عملٌ بَرَزَ من قلبٍ رَاغِبٍ
Artinya: “Tidak dapat dianggap sedikit amal perbuatan yang dilakukan dengan hati yang zuhud, dan tidak dapat dianggap banyak amal yang dilakukan oleh seseorang yang cinta dunia.”
Dalam ajaran tasawuf, kedudukan dunia tidak begitu diutamakan apalagi menjadi tujuan. Sebagai orang yang memahami zuhud, maka ia tidak berkeinginan untuk hidup berfoya-foya atau berlomba-lomba menumpuk harta dunia.
Jika Allah Swt memberikan anugerah kepada hambanya berupa kekayaan dan harta dunia. Maka hal itu menjadi perantara seorang hamba untuk beramal, sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Pada maqolah tersebut seorang hamba yang beramal, hendaknya tetap memiliki rasa zuhud. Bukan ingin menunjukkan dirinya atau sekadar pamer. Begitu juga ketika seseorang yang memiliki harta yang sedikit hendak beramal. Meski amalnya sedikit namun ketika hatinya zuhud pada hakikatnya ia beramal banyak.
Pada syarahnya Kitab Al-Hikam, Ali bin Abi Thalib Ra berkata: “Tumpahkan semua hasrat keinginanmu itu kepada usaha untuk diterimanya amal perbuatanmu. Sebab tidak dapat dianggap sedikit amal perbuatan yang diterima oleh Allah.”
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27).
Ahli ibadah
Kandungan kitab Al-Hikam tentang Zuhud dilanjutkan dengan maqolah yang berbunyi:
اِنَّماَ يَسْتوحِشُ العِباَدُ وَالزُّهاَدُ مِنْ كُلِّ شيءٍ لِغَيْبَتِهِمْ عَنِ اللهِ فِى كُلِّ شىءٍ فَلَو شَهِدوُهُ فِى كُلِّ شىءٍ لَمْ يَسْتوحِشُوا مِنْ شَىءٍ
Artinya: “Sesungguhnya yang menyebabkan kerisauan hati para ahli ibadahdan orang-orang yang ahli zuhud dari segala sesuatu itu karena mereka masih terhijab atau tidak melihat Allah dalam apa yang mereka lihat itu, tatapi andaikan mereka melihat Allah dalam segala sesuatu (mahluk), pasti dia tidak akan risau terhadap segala sesuatu.”
Orang-orang yang ahli ibadah ialah orang yang senantiasa bertaqorub atau senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Swt. Salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah Swt selain mengerjakan yang wajib, ia juga mengerjakan berbagai malam amal ibadah.
Sedangkan orang-orang yang zuhud adalah orang yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan jalan tawakal. Jalan tawakal tersebut yakni menyerahkan diri hanya kepada Allah Swt.
Inilah dua golongan yang senantiasa berupaya mendekatkan diri kepada Allah yakni orang-orang yang ahli ibadah dan orang-orang zuhud.
Dalam syarahnya, kedua golongan ini selalau ingin menjauh dari sesama makhluk. Hal tersebut karena mereka merasa bahwa mahluk menjadi halang rintang dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Tapi sekiranya mereka lebih mendalam dalam marifat kepada Allah Swt. Tentu mereka tidak dapat terhalang oleh suatu apapun, sebab Allah berada dalam segala sesuatu. Maka tidak ada sesuatu yang melupakan dari Allah Swt, bahkan sebaliknya mahluk itu bisa mangingatkan kepada Allah Swt.
Tingkatan zuhud
Perilaku zuhud sebagai laku hidup, menurut Al-Ghazali memiliki tingkatan. Adapun tingkatan zuhud menurut Al-Ghazali dibagi menjadi tiga yakni:
Pertama, tingkatan terendah orang zuhud di dunia dan ia rindu kepada-Nyaya. Namun hatinya masih cenderung kepada dunia. Nafsunya berpaling kepada dunia. akan tetapi, ia berusaha sungguh-sungguh mencegahnya.
Kedua, tingkatan tengah yakni ia meninggalkan dunia dengan mudah. Ia memandang dunia terasa hina, namun masih memiliki harapan. Tingkatan ini menunjukkan bahwa perilaku para zahid ini masih menginginkan balasan dari Allah Swt.
Ketiga, tingkatan tertinggi adalah para zahid tidak ada keinginan sesuatu apapun, selain Allah Swt. Perilaku dan hatinya tidak berpaling pada kekasihnya yakni Allah Swt, ia begitu menikmati dan menghabiskan waktunya kepada Allah Swt. ia benar-benar bertahuid yang hakiki tidak dicarinya selain Allah Swt.
Pada maqolah lain kandungan kitab Al-Hikam tentang zuhud yakni:
الزهّاد اذامدحواانقبضوالشهودهم الثناءمن الخلق ، والعارفون اذامدحوا انبسطوا لشهودهم ذالك من الملك الحقّ.
Artinya: “Orang-orang yang zuhud jika dipuji oleh orang lain, mereka merasa ketakutan. Karena kuatir terpengaruh, pujian itu datangnya dari sesame makhluk. Sebaliknya orang arif jika dipuji mereka merasa senang dan gembira karena mengerti benar-benar pujian itu datang dari Allah raja yang haq.” (Luk)








