Tokoh & Peristiwa

Kiprah KGPAA Paku Alam VIII, Raja dari Yogyakarta yang Jadi Pahlawan Nasional

Avatar
×

Kiprah KGPAA Paku Alam VIII, Raja dari Yogyakarta yang Jadi Pahlawan Nasional

Sebarkan artikel ini
Paku Alam VIII (wikimedia.org)

BARISAN.CO – Pemerintah hari ini, Senin (7/11/2022) secara resmi menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada lima tokoh, salah satunya adalah almarhum KGPAA Paku Alam VIII. Ia merupakan Raja Paku Alam dari tahun 1937 hingga 1989.

Penganugerahan itu berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 96 TK Tahun 2022 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional, yang ditetapkan di Jakarta 3 November 2022.

Beberapa jasa yang telah diberikan almarhum K.G.P.A.A. Paku Alam VIII, antara lain, bersama Sultan Hamengkubowono IX dari Keraton Yogyakarta mengintegrasikan diri pada awal kemerdekaan RI sehingga Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi utuh hingga saat ini.

“Sehari sesudah (kemerdekaan) itu beliau menyatakan bergabung ke Negara Kesatuan Republik Indonesia, kemudian Yogyakarta menjadi ibu kota yang kedua dari Republik Indonesia ketika terjadi agresi Belanda pada tahun 1946,” ujar Mahfud MD selaku Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan
mengutip dari keterangan tertulis Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden, Kamis (3/11/2022).

Profil KGPAA Paku Alam VIII

Paku Alam VIII selain sebagai raja juga menjabat sebagai Wakil Gubernur Yogyakarta I Usai proklamasi kemerdekaan RI. Dan merupakan sosok Wakil Gubernur terlama yaitu sejak tahun 1945 hingga 1998. Selain itu juga menjadi Pelaksana Tugas Gubernur terlama 1988 hingga 1998 serta Pangeran Pakualaman terlama 1937-1998.

Melansir dari situs resmi Pemprov DIY, KGPAA Paku Alam VIII bukan hanya sebagai pemimpin, tapi juga pejuang yang berjuang untuk kemerdekaan RI. Peran Paku Alam VIII bagi bangsa dan negara begitu besar, terutama kiprah dan perhatiannya tentang dunia pendidikan.

Diketahui juga, guna meningkatkan kemajuan pendidikan rakyat di Kadipaten Pakualaman, Paku Alam VIII tidak pernah letih melakukan pemberantasan buta huruf dengan mengajarkan baca tulis kepada rakyatnya. KGPAA Paku Alam VIII juga bersama Sultan Hamengku Buwono IX memberikan dukungan penuh atas berlangsungnya pendidikan yang ada di Yogyakarta.

Hal tersebut terbukti dengan dibangunnya perguruan tinggi seperti, UGM, UNY (yang dulu dikenal dengan nama IKIP), dan IAIN. Selain itu, didirikannya juga SD Puro Pakualaman (yang dulu dikenal dengan nama Sekolah Rakyat) serta SMP Puro Pakualaman.

Tak berhenti sampai disitu, pada Juni 1979, dibanguni Yayasan Notokusumo. Melalui yayasan tersebut, Paku Alam VIII secara resmi membuka sekolah dalam bidang Akademi Administrasi Negara serta Akademi Keperawatan Notokusumo.

Demikian sedikit dari rentetan kiprah Paku Alam VIII yang hobi pencak silat dalam mendukung perjuangan kemerdekaan. Meskipun perannya selalu berada di bawah bayang-bayang Sultan Hamengkubuwono IX, dalam masa-masa sulit perannya justru sangat menentukan. Kiprah sebagai buah dari sikapnya itu terus
dimainkannya hingga jauh setelah republik berdiri. [rif]