Scroll untuk baca artikel
Blog

Kisah Kesuksesan Fitri Khoerunnisa Ph.D, Peraih Penghargaan Peserta Terbaik World Class Professor 2021

Redaksi
×

Kisah Kesuksesan Fitri Khoerunnisa Ph.D, Peraih Penghargaan Peserta Terbaik World Class Professor 2021

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Program World Class Professor (WCP) 2021 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi memberi penghargaan dan dana hibah kepada peneliti terpilih. WCP merupakan event bergengsi di kalangan akademisi perguruan tinggi di tanah air.

Salah satu peneliti yang terpilih adalah Fitri Khoerunnisa, Ph.D. Dosen Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung ini mendaftar dan mengikuti seleksi sejak bulan Juni lalu.

Perempuan asal Garut yang akrab disapa Fitri tersebut kemudian mendapat undangan untuk menghadiri Annual Seminar World Class Professor tahun 2021 yang diadakan di Jakarta sebagai salah satu peserta terbaik.

Kepada Barisanco, Fitri mengaku, hal yang mendorongnya mengikuti program bergengsi ini salah satunya adalah keinginan memberi inpirasi bagi para mahasiswanya. Sebagai pendidik, dirinya merasa tanggungjawabnya bukan hanya content delivery dengan materi ilmu kimia. Melainkan juga mengubah pola pikir dan perilaku mahasiswa.

Menurutnya, menjadi pendidik tidak cukup berbekal ilmu atau kepintaran dalam bidang yang diajarkan, tetapi butuh kemampuan mengedukasi. Bagian mengedukasi yang sulit adalah menginspirasi. Seperti semboyan Tut Wuri Handayani yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara, Fitri ingin menjadi teladan dengan memberikan dorongan berupa banyak karya berkualitas tinggi yang diraih selama ini. Dengan begitu, tanpa banyak kata, mahasiswanya dapat terdorong untuk mengikuti jejaknya.

Fitri menyadari tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama seperti dirinya. Itulah alasannya untuk selalu meluangkan waktu 5 hingga 10 menit untuk menceritakan pengalaman kepada mahasiswanya di kelas. Ia juga selalu menyampaikan kepada mahasiswanya jangan pernah berpikir tidak mungkin karena manusia tidak pernah tahu batas kemampuannya.

“Misalnya seperti saya, ga ke Jepanglah karena ga bisa bahasa Jepang. Ternyata ga begitu menghadapi opportunity itu, jalani saja. Nanti, kamu akan menemukan cara untuk beradaptasi. Tidak ada yang tahu limitnya sehingga kita perlu mencobanya,” kata Fitri pada Kamis (9/12/2021).

Dukungan Suami

Dalam percakapan itu, Fitri tak lupa menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan yang diberikan oleh keluarganya, termasuk dari suami. Ia mengungkapkan bahwa suaminya selalu memberikan dukungan terhadapnya. Hal itu juga sangat dirasakan ketika memperoleh beasiswa pendidikan doktoral ke Jepang pada 2011 hingga 2017.

Fitri menyebut suaminya merupakan anugerah Allah untuknya. Banyak yang mengungkapkan istilah di balik laki-laki sukses, ada perempuan hebat di belakangnya. Fitri menganggap itu berlaku baginya. Di balik perempuan sukses yang telah berkeluarga itu ada kontribusi besar dari suaminya.

“Jadi, ridho suami saya itu menjadi tanggung jawab juga. Saya tidak boleh leha-leha. Saya harus menunjukkan performa terbaik seperti sekarang ini untuk membalas kebaikan atas kerelaannya memberikan ijin,” tambah peraih  penghargaan Academic Leader Award untuk Dosen sebagai Academic Leader pertama bidang sains dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tahun 2018 ini.

Selama menuntaskan pendidikan di Jepang, Fitri mengaku ia menjalankannya dengan perasaan tenang. Fitri menceritakan saat dia berada di Jepang dan anaknya terbentur kepalanya hingga berdarah, suaminya tidak menghubunginya karena menganggap itu masih bisa diatasi sendiri. Inilah yang membuat Fitri takjub dengan kedewasaan dari suaminya.

Jika kebanyakan laki-laki merasa rendah diri ketika isterinya sukses, berbeda dengan suaminya. Fitri menuturkan banyak teman-teman dari suaminya yang membahas tentang berbagai kemungkinan dampak negatif yang bisa terjadi nantinya. Namun, suaminya menanggapi hal itu dengan santai karena masih menjadi kepala rumah tangga.

“Jadi kadang kalau saya ada high-load di lab atau di kampus, ngurusin dokumen apa itu diantar, ditungguin, dia tidur, saya ngerjain. Itu yang saya sebut support system itu. Makanya, tadi kenapa bisa sukses, saya pikir ini bukan kerjaan saya sendiri dan support di belakang itu jauh luar biasa,” tutur Fitri.

Orang-orang mungkin beranggapan hanya Fitri yang bekerja hingga bisa sukses, tapi ia menyebut tanpa ada kontribusi dukungan dari suaminya, ia tak mungkin bisa melangkah sejauh ini.

Sama halnya dengan anaknya yang kini telah duduk di bangku kuliah. Sebab sejak kecil sudah ditinggal Fitri ke luar negeri, anaknya menjadi mandiri dan sudah mampu mengambil keputusan.

“Hal yang perlu didiskusikan, dia diskusikan. Itu juga yang mungkin membuat saya itu tenang bekerja itu,” ucap Postdoctoral di Shinsu University ini.

Fitri menyampaikan kepada keluarganya bahwasanya di kampus, ia bukan hanya pengajar, tetapi juga ketua prodi. Ia memiliki banyak tanggung jawab di luar rumah. Setiap kali ada kesempatan untuk promosi atau riset, Fitri selalu meminta nasehat suaminya.  

“Kata suami saya, Tuhan sudah menitipkan berbagai kompetensi, kemampuan dan ilmu kepada saya, jika hanya berguna bagi keluarga itu akan sangat disayangkan. Akhirnya, saya berpikir untuk mewakafkannya. Kalau suami saya selalu bilang sebaik-baiknya umat itu yang banyak bermanfaat bagi sesama,” ujar Fitri.

Sehingga, meski rasa lelah terkadang muncul ketika ada yang memintanya berbagi pengalaman dan ilmu, Fitri tak pernah menolaknya. Dia berharap banyak orang yang akan terinspirasi dengan pengalamannya.

“Jadi, satu hal yang harus disyukuri itu sistem dukungan itu yang mempermudah segalanya dan menjadi motivasi juga ke saya untuk berkarya, lanjutnya.

Dukungan suaminya itu juga menunjukkan rasa bangga terhadapnya. Dan, itu jarang dilakukan oleh kebanyakan laki-laki. Mungkin, banyak perempuan yang diberi ijin pada awalnya, namun pada akhirnya harus berhenti karena larangan suami. Namun, suaminya selalu mendorongnya untuk maju dan berkarya serta menginspirasi banyak orang di luar sana. [rif]