BARISAN.CO – Penyedia layanan video We TV saat ini tengah menayangkan film remaja dengan judul Little Mom. Film ini mengisahkan gadis remaja bernama Naura (16 tahun) yang sangat populer di sekolahnya. Dia tak hanya cantik tapi juga pintar dan menjadi kebanggan guru, teman-temannya juga orang tuanya. Naura juga dipercaya sebagai ketua OSIS di sekolahnya.
Naura berpacaran dengan Yuda, cowok popular di sekolahnya yang juga jago main basket. Suatu hari kejadian yang tak seharusnya terjadi. Naura dan Yuda melakukan hal di luar batas. Singkat cerita, Naura pun telat datang bulan. Naura yang panik kemudian membeli alat tes kehamilan di toko terdekat. Ketakutan Naura pun terjadi, ia memang hamil.
Naura kemudian pergi ke sekolah untuk bertemu Yuda. Keduanya mencari jalan keluar untuk menggugurkan kandungan. Dari mulai makan durian, jamu, obat-obatan, hingga pergi ke dukun bayi. Tapi semua usahanya sia-sia. Seolah-olah janin yang ada di rahim Naura tetap mau hidup.
Naura menelpon Yuda dan menangis. Tak sengaja ibunya mendengar percakapan mereka berdua dan sangat kaget. Ayah Naura marah besar dan langsung pergi ke rumah Yuda. Ia menuduh Yuda sudah memaksa Naura melakukan seks bebas. Yuda meyakinkan ayah Naura bahwa dirinya tidak memaksa Naura dan hal itu terjadi berdasarkan suka sama suka. Namun ayahnya tetap memukul Yuda.
Saat ayah Naura sudah pulang, rumah Yuda berantakan. Orang tuanya pulang dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Yuda kemudian menceritakan kejadian yang sebenarnya. Keesokan paginya orang tua Yuda membawanya pergi dari Jakarta.
Bersamaan dengan itu Naura dan keluarganya datang ke rumah Yuda untuk menyelesaikan masalah dengan cara baik-baik. Tapi betapa terkejutnya mereka, Yuda dan keluarganya sudah tidak ada dan diketahui sedang dalam perjalanan menuju bandara. Naura dan keluarganya pun segera menyusul ke bandara, tapi usahanya sia-sia.
Yuda pergi bak ditelan bumi. Tak ada kabar dan nomor teleponnya pun tak bisa dihubungi.
Orang tua Naura yang begitu sayang kepada anaknya itu, mencoba mencari jalan keluar. Mereka memutuskan untuk pindah ke Bali. Di sana Naura akan melahirkan anaknya. Ia tetap bersekolah tapi home schooling. Dengan cara tersebut, orang tua Naura merasa yakin masa depan anaknya bisa diselamatkan. Naura yang berkeinginan menjadi dokter, diharapkan tetap bisa mewujudkan cita-citanya.
Apakah cara orang tua Naura berhasil? Film ini terdiri dari 13 episode dan bisa Anda saksikan di We TV setiap hari Jum’at pukul 6 sore. Kabarnya seri web Indonesia garapan sutradara Guntur Soeharjanto ini trending di 22 negara.
Wajar saja, bukan saja alur ceritanya yang menarik tapi seri web ini memberikan banyak pelajaran bagi anak – anak muda dan para orangtua, dari dampak melakukan seks bebas hingga pentingnya edukasi seks sejak dini.
Jika kembali ditelaah, film ini mengingatkan kita dengan kisah Bima dan Dara dalam Dua Garis Biru. Dua sejoli itu nekat bersenggama di luar nikah, padahal masih duduk di bangku SMA. Ketidaktahuan mereka terhadap dampak seks di luar nikah membuat hidup mereka berantakan. Bima terpaksa mencari nafkah dan Dara menjadi seorang ibu di usianya yang masih sangat belia yaitu 17 tahun.
Baik Little Mom maupun Dua Garis Biru adalah representasi pentingnya sex education atau pendidikan seks sejak dini. Pendidikan seks bukan untuk mengajari anak untuk melakukan hubungan seks di luar nikah tapi memperingatkan mereka bahayanya seks bebas. Dari sekolah berantakan hingga memengaruhi kesehatan si wanita baik fisik maupun mental.
Berbagai studi mengungkapkan seorang perempuan yang hamil di bawah usia 20 tahun memiliki risiko lebih tinggi melahirkan secara prematur sehingga memengaruhi tumbuh kembang sang anak. Belum lagi stigma hamil di luar nikah di Indonesia yang dipandang sebagai aib. Dalam kasus ini, perempuan lah yang akan banyak dirugikan.
Dalam kesehatan, melakukan hubungan seks di luar nikah tanpa alat pengaman juga berpotensi menularkan berbagai penyakit kelamin seperti AIDS atau HIV, bahkan bisa memicu terjadinya kanker serviks di kemudian hari.
Dr. Boyke dalam acara The Merry Riana Show mengatakan di Indonesia seks masih dianggap tabu. Jika terdengar aneh, Dr. Boyke menyarankan menggantinya dengan kata pendidikan kesehatan reproduksi atau kesehatan keluarga. Sebab, pendidikan ini sangat penting agar anak-anak memiliki informasi yang benar terkait reproduksi. Jika tidak diajarkan sejak dini, khawatirnya anak – anak tidak tahu atau sadar ketika sedang dilecehkan.
Apalagi di zaman sekarang ini, arus informasi begitu deras. Berbagai informasi mengenai seks dapat diakses dengan mudah di Google. Pendidikan kesehatan reproduksi bisa mencegah anak – anak terjerumus pada hal – hal yang tidak diinginkan.
Memberi tahu anak tentang kesehatan reproduksi juga tidak perlu menunggu pihak sekolah, tapi bisa dilakukan saat di rumah. Orang tua, baik ayah maupun ibu memiliki peran yang sama besarnya. Wajib memberi tahu anak tentang kesehatan reproduksi terlebih ketika anaknya sudah menginjak remaja. Misalnya ibu memberi tahu puterinya tentang menstruasi dan ayah menjelaskan tentang air mani juga mimpi basah kepada puteranya.
Selain itu, orang tua juga perlu menjelaskan tentang jatuh cinta. Apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan, serta konsekuensi yang diterima jika melanggar. [ysn]





