Scroll untuk baca artikel
Kolom

Major Combat Operations

Redaksi
×

Major Combat Operations

Sebarkan artikel ini
Major Combat Operations

“Major Combat Operations” bisa menjadi titik awal perang regional yang mengguncang Timur Tengah dan ekonomi dunia.

Oleh: Imam. Trikarsohadi

DUNIA, khususnya kawasan Timur Tengah dan Teluk Persia segera memasuki bababj kekacauan baru, menyusul serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dalam operasi yang disebut sebagai “Major Combat Operations” pada Sabtu 28 Pebruari 2026 pagi.

Serangan yang dipimpin langsung Donald Trump ini dapat dipastikan segera mengubah komposisi keamanan kawasan tersebut, bahkan dunia. Sebab pesan yang lewat jalur operasi militer terbuka ini bukan hanya ke Teheran, tetapi juga ke Moskow, Beijing, Riyadh, dan Brussel.

Apa boleh buat, serangan udara ke sekitar Teheran menandai eskalasi drastis. Ini bukan lagi pesan simbolik, melainkan demonstrasi kemampuan, keangkuhan dan ambisi barbar untuk menghantam pusat gravitasi politik dan militer Iran.

Keterlibatan AS secara langsung dan penuh gairah akan mengubah kalkulasi, sebab jika sebelumnya Israel dapat bertindak unilateral dengan risiko regional terbatas, kini konflik ini membawa dimensi kekuatan adidaya. Artinya, ambang eskalasi menjadi jauh lebih nihil.

Secara taktik militer, tujuan “Major Combat Operatios” adalah melumpuhkan sistem rudal balistik, jaringan komando dan kontrol, serta infrastruktur militer yang dinilai mengancam Israel dan pangkalan AS di kawasan Teluk. Target yang lebih sensitif adalah program nuklir Iran — isu yang selama ini menjadi sumber ketegangan utama.

Secara geopolitik, serangan ini adalah bentuk pemaksaan terhadap Iran agar menerima batasan yang sebelumnya gagal dicapai lewat diplomasi di Oman.

Tapi jangan salah, kelakukan brutal AS ini punya potensi chaos, karena sejarah mencatat bahwa tekanan militer eksternal sering kali memperkuat konsolidasi internal rezim, bukan melemahkannya.

Serangan terhadap wilayah metropolitan seperti Teheran berisiko membangkitkan nasionalisme defensif di dalam negeri Iran. Buktinya, konsolidasi demi besar – besaran yang dikonsolidasi agen – agen AS dan Israel beberapa waktu lalu terbukti gagal menumbangkan penguasa Iran.

Jadi, resiko terbesar bukanlah serangan pertama tetapi respons berikutnya. Iran memiliki spektrum balasan yang luas, rudal balistik, drone jarak jauh, serangan siber, hingga aktivasi jaringan proksi di Lebanon, Irak, Suriah, dan Yaman.

Jika kelompok seperti Hezbollah ikut terlibat, Israel akan menghadapi perang dua front. Jika pangkalan AS di Teluk diserang, Washington akan terdorong untuk memperluas operasi.

Bila situasi tersebut yang terjadi, maka konflik dapat berubah dari operasi terbatas menjadi perang regional yang melibatkan kawasan Teluk Persia secara simultan, lalu berubah menjadi konflik berkepanjangan yang destruktif.

Dampak paling cepat di depan mata adalah terganggunya distribusi minyak dunia, karena Selat Hormuz sebagai jalur vital ekspor minyak dapat dipastikan akan diblokade Iran dengan berbagai cara. Efeknya, harga minyak akan menggila.

Selain itu, geo politik dunia akan segera berubah drastis dan terjadi polarisasi baru. Kecemasan akut segera menghantui negara – negara Arab dengan ancaman instabilitas.

Dalam atmosfer yang sudah terlanjur meledak, ruang diplomasi semakin sempit dan rumit. Apalagi jika pembalasan oleh Iran dilakukan secara meluas, maka eskalasi bisa bergerak di luar kendali siapa pun.

Bagi Indonesia, konflik ini akan berdampak negatif, terutama melalui lonjakan harga energi (minyak mentah) akibat terganggunya jalur perdagangan di Selat Hormuz. Ini akan meningkatkan beban subsidi BBM/listrik dalam APBN, memicu inflasi, serta mengancam stabilitas nilai tukar Rupiah akibat ketidakpastian ekonomi global.

Dari aspek fiskal, dengan melonjaknya harga minyak mentah dunia akan menekan APBN, karena peningkatan subsidi BBM dan listrik, yang berisiko memperlebar defisit anggaran.

Selanjutnya, kenaikan harga impor energi dan pangan akan memicu inflasi. Hal ini dapat memaksa Bank Indonesia menaikkan suku bunga, yang berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Dari sisi pasar modal, ketidakpastian geopolitik memicu capital outflow (aliran modal keluar) dari pasar negara berkembang seperti Indonesia, melemahkan Rupiah, dan meningkatkan harga emas.

Sedangkan dampak sosial yang kemungkinan segera terjadi adalah dengan lonjakan harga kebutuhan pokok akibat kenaikan biaya energi dapat meningkatkan beban hidup masyarakat menengah ke bawah.

Untuk mengurangi dampak, Indonesia perlu mendiversifikasi sumber energi, mengurangi ketergantungan pada impor minyak, dan memperkuat ketahanan ekonomi domestik.

Dan itu semua bukan pekerjaan gampang di tengah situasi ekonomi yang memang sudah sesak napas. []