Aliran manunggaling kawulo gusti atau wahdatul wujud Syekh Siti Jenar, manusia memiliki potensi sifat Tuhan, tapi potensi sifat berbeda kadar antara manusia dengan Tuhan
BARISAN.CO – Ajaran manunggaling kawulo gusti tersematkan kepada Syekh Siti Jenar, sehingga tidak dapat lepas pentingnya sejarah Walisongo. Hingga kini keanggotaan Walisongo, Syekh Siti Jenar masih diperdebatkan, karena ada yang memberikan anggapan ia adalah salah satu sosok Walisongo. Meski daftar Walisongo tidak ada nama Syekh Siti Jenar.
Menurut versi babad Demak dan Babad Tanah Jawa tidak menyebut nama Syekh Siti Jenar sebagai anggota atau dewan Walisongo. Lain lagi dengna versi Cerita Purwaka Caruban Nagari, Babad Tanah Sunda maupun Babad Cirebon yang mengaitkan nama Syekh Siti Jenar sebagai bagian dari dewan Walisongo.
Sebagaimana babad Negara Kertabumi menggambarkan sosok Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang sebagai orang yang terhormat. Menurut silsilahnya ia dilahirkan di semenanjung Malaka, putra dari Syekh Datuk Soleh, adik sepupu Syekah Datuk Kahfi seorang penyebar agama Islam di Jawa Barat.
Bahkan dalam kitab Negara Kertabumi, Syekh Siti Jenar masih memilik darah keturunan dengan Sunan Ampel.
Sementara itu, pandangan ajaran manunggaling kawulo gusti menurut Syekh Siti Jenar yang menyatakan bahwa hakikatnya manusia itu adalah manisfestasi Tuhan. Manifestasi Tuhan sebagaimana teori tajalli yaitu Tuhan memiliki dua wajah yakni tanzih dan tasbih.
Tanzih memiliki arti mensucikan Tuhan, antara dzat Tuhan dan dzat menusia berbeda. Sedangkan tasbih adalah antara Tuhan dan manusia bersatu dalam sifatnya.
Jadi ajarang manunggaling kawulo gusti Syekh Siti Jenar terkait dengan manifestasi sifat Tuhan, bukan secara dzatnya Tuhan. Sehingga ketika manusia memiliki sifat pemaaf, ramah, sabar, syukur, dan lain sebagainya, maka manusia memiliki sifat Tuhan.
Sebab manusia memiliki postensi sifat Tuhan tersebut, akan tetapi potensi sifat tersebut berbeda kadar antara manusia dengan Tuhan.
Gus Baha: Manunggaling Kawulo Gusti
Bagaimana pandangan ulama tafsir dari Rembang yakni KH Ahmad Bahauddin Nursalim yang dikenal dengan Gus Baha. Sebagaimana dikutip dari Iqra.is, Gus Baha pernah menjelaskan tentang ajaran Syekh Siti Jenar yakni manunggaling kawulo gusti.
Gus Baha menjelaskan aliran manunggaling kawulo gusti atau wahdatul wujud ketika seseorang menjelaskan terlalu terburu-buru. Beranggapan bahwa Tuhana bersemanyam dalam diri masing-masing, akhirnya mempunyai keyakinan manunggaling kawulo gusti.
Lantas Gus Baha menceritakan kisah Syekh Siti Jenar:
Siti Jenar dipanggil Walisongo untuk diadili sebab mempunyai aliran Wahdatil Wujud. Ketika dia berada di rumah, ada utusan Walisongo yang datang, “Siti Jenar, kamu dipanggil Walisongo.”
“Di sini tidak ada Siti Jenar, adanya Allah!”
Akhirnya, utusan Walisongo pulang. Kata Syekh Siti Jenar, tidak ada makhluk, yang ada hanyalah Allah. Entah Walisongo lupa atau memang keliru, namanya wali juga manusia.
“Ya sudah, Allah panggil..!!” kata Walisongo. Karena kalau disebut Siti Jenar tidak mau. Utusan Walisongo tadi akhirnya datang lagi, “Siti Jenar, kata Walisongo, Allah dipanggil.”
“Wali bodoh, Allah jangan dipanggil, tidak sopan!” kata Syekh Siti Jenar kepada utusan Walisongo.
Sudah dua kali utusan tadi keliru terus. Memanggil Siti Jenar tidak mau datang, memanggil Allah malah tidak sopan.
Masyhur cerita ini, akhirnya Walisongo kesal lalu mengutus Sunan Kalijaga untuk mengajak perang Syekh Siti Jenar.
Nah, salahnya Siti Jenar, dia kalah dalam peperangan tersebut. Akhirnya kita secara sederhana kan bisa menyimpulkan, bahwa jelas itu bukanlah Allah, masak Allah kok kalah sama Sunan Kalijaga.
Setelah itu, cerita Syekh Siti Jenar dibolak-balik. Para penggemar Wahdatul Wujud menyebut yang menang perang adalah Syekh Siti Jenar, jenazahnya wangi, lalu mengarahkan Walisongo yang curang.
Apapun itu, aliran Wahdatul Wujud tidak mungkin benar, karena bagaimana pun kita pernah “tidak ada” menjadi “ada”, itu bukti bahwa kita adalah “makhluk”.





