Scroll untuk baca artikel
Kisah Umi Ety

Mengembangkan Rasa Ingin Tahu Anak (Bagian Lima)

Redaksi
×

Mengembangkan Rasa Ingin Tahu Anak (Bagian Lima)

Sebarkan artikel ini

Belajar dengan suasana gembira adalah kunci dari keberhasilan menjaga dan mengembangkan rasa ingin tahu anak. Dalam suasana gembira, anak bisa menangkap pelajaran secara lebih mudah.

RASA ingin tahu anak tidak hanya ditunjukkan dengan sering bertanya. Melainkan juga dengan aktivitas membongkar mainan atau barang serta berusaha memasangnya kembali. Seolah mereka bereksperimen dengan benda-benda di sekitarnya, terutama yang berada dalam rumah.

Adli ketika kelas 2 SD pernah melakukan suatu percobaan dengan membuat adonan dari sabun, odol dan telur. Setelah diselidiki, rupanya dia pernah bertanya kepada neneknya mengapa pakai telor ketika sedang membuat adonan kue. Dijawab agar kuenya dapat mengembang.

Sebelumnya dia sudah cukup mengetahui jika sabun menimbulkan busa. Tampak terpikir oleh dia untuk mencampur sabun, odol dan telur. Ketika ditanya sedang membuat apa, maka dijawabnya mau membikin sabun yang menggelembung besar.

Jika kita perhatikan, sungguh banyak percobaaan atau eksperimen yang dilakukan oleh anak-anak. Ira dan Aya kecil dahulu suka memetik daun-daun kemudian ditumbuk, dan biasanya ditambahi air. Mereka cenderung tertarik melihat airnya berubah menjadi kehijauan.

Begitu pula dengan bunga-bunga yang diperlakukan sama, yang sering lebih menarik karena warna air lebih beragam. Risiko yang dihadapi memang tanaman dan bunga di rumah kami memang sering kehabisan daun dan bunga. 

Belum lagi ketika air dicampur dengan tanah. Campuran tanah suka ditambahi hingga tidak tampak lagi airnya, namun mudah diubah bentuknya oleh mereka. Mereka membentuk dengan cetakan dari mainan atau apapun yang tersedia.

Spidol kecil berwarna-warni satu pak tidak pernah berumur panjang di keluarga kami. Dipakai untuk berbagai eksperimen. Kadang dibuka tutupnya, lalu direndam air. Anak-anak tampak senang dengan perubah warna sesuai spidol.

*******

Banyak percobaan yang terlihat sepele bagi orang dewasa. Namun perlu disadari orang tua bahwa hal demikian merupakan proses belajar yang sangat baik. Mereka mencoba dan akan menemukan sesuatu.

Satu faktor penting dalam segala percobaan tersebut adalah hadirnya rasa gembira anak-anak, serta merupakan keinginan mereka sendiri. Orang tua tidak boleh memaksa mereka mempelajari sesuatu.                                                                         

Keluarga kami memiliki satu pengalaman yang kurang baik. Bermula dari rasa ingin agar anak bisa bermain musik karena menganggapnya penting bagi perkembangan mereka. Suami saya membeli alat musik keyboard, meski kami berdua tidak memiliki keterampilan memainkannya.

Antusiasme terhadap hal baru membuat Ira mencoba-coba alat musik tersebut. Dia dengarkan demo musiknya, dia ketuk tuts-tuts keyboard mengikuti petunjuk bukunya yang saya terjemahkan. Saya hanya bisa mengajari tuts-tuts yang dibunyikan di jari kanan. Jari kiri untuk pengiring tidak bisa.

Melihat Ira bersemangat, abahnya meminta seorang teman untuk mengajar Ira bermain keyboard. Kami lupa membicarakannya terlebih dahulu dengan Ira. Di luar dugaan, reaksinya bukan senang karena akan bisa mempelajari hal baru dengan dibimbing, malah tampak enggan. Dibujuk dan dijelaskan bahwa ummi tidak bisa mengajari pun masih kurang terima.

Pengajarnya kemudian bermain musik sendiri dan ternyata Adli yang terbujuk untuk mencoba. Ketika saya bertanya mengapa Ira tidak mau belajar main keyboard, dijawab bukannya tidak mau. Melainkan lebih senang mencoba-coba sendiri tanpa guru. Pelajaran lanjutan kemudian lebih diikuti Adli dan nantinya sesekali Aya. Ira hanya sesekali main keyboard dan tetap cenderung tidak mau diajari guru hingga dewasa.