Scroll untuk baca artikel
Edukasi

Mengenal Kesitimewaan ‘Kecerdasan Buatan’ ChatGPT dan Bahayanya

Redaksi
×

Mengenal Kesitimewaan ‘Kecerdasan Buatan’ ChatGPT dan Bahayanya

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Platform kecerdasan buatan ChatGPT baru-baru ini mendadak menjadi buah bibir. Penggunaannya memiliki berbagai tujuan, mulai dari membantu kerja kantoran hingga membuat “istri” virtual. Bahkan juga dapat membantu mahasiswa menyelesaikan ujian kuliahnya.

Mulai diperkenalkan pada acara World Economic Forum di Davos, Swiss, beberapa waktu lalu, ChatGPT adalah kecerdasan buatan generatif yang dikembangkan oleh OpenAI. Startup yang fokus pada riset kecerdasan buatan. OpenAI sendiri didirikan oleh ilmuwan dan tokoh besar teknologi, salah satunya Elon Musk.

Melansir Reuters, ChatGPT berupa chatbot canggih yang bisa mempelajari data dalam jumlah yang sangat banyak supaya bisa menjawab berbagai pertanyaan. ChatGPT dilatih supaya bisa menjawab semirip mungkin dengan manusia, bahkan disebut bisa memberikan jawaban yang panjang.

Kemampuan ChatGPT untuk menjawab pertanyaan kompleks dari pengguna ternyata ‘mengancam’ mesin pencari Google. Dua pendiri Google (Larry Page dan Sergey Brin) bahkan harus turun tangan untuk menghadapi tantangan baru ini.

Cara Kerja ChatGPT

ChatGPT merupakan Natural Language Processing (NLP) tool yang memungkinkan chatbot untuk berkomunikasi dengan pengguna layaknya manusia. Alat tersebut bisa digunakan untuk berbagai hal, mulai dari menjawab pertanyaan yang Anda berikan, membantu Anda membuat email, menulis esai, sampai menemukan bugs pada kode programming.

Selain kemampuan untuk berkomunikasi dalam bahasa yang mudah dimengerti, ChatGPT juga punya keunikan lain, yaitu kemampuan untuk mengingat percakapan dengan pengguna. Dengan begitu, AI ini dapat memberikan jawaban berdasarkan konteks yang pengguna berikan sebelumnya.

Keunikan ChatGPT membuat banyak orang tertarik untuk mencobanya. Hanya dalam waktu beberapa hari sejak diluncurkan, ChatGPT telah dicoba oleh lebih dari satu juta orang.

Sama seperti kebanyakan AI, ChatGPT harus dilatih menggunakan data dalam jumlah besar. Untuk melatih ChatGPT mengenali pola percakapan manusia, OpenAI memanfaatkan internet. Selain itu, mereka juga melatih ChatGPT menggunakan Reinforcement Learning from Human (RLHF). Melalui metode ini, AI akan diberikan contoh percakapan antara manusia dan asisten digital, yang dibuat oleh pelatih manusia. Dengan begitu, AI akan bisa berkomunikasi dengan lebih luwes.

Mengingat OpenAI menggunakan data di internet untuk melatih ChatGPT, pengetahuan AI ini akan suatu topik akan tergantung pada ketersediaan informasi yang ada. ChatGPT akan lebih menguasai topik yang sering dibicarakan di internet dan memiliki banyak informasi yang bisa digunakan sebagai latihan, seperti yang disebutkan oleh CNET.

Perlu Kehati-hatian

Seiring kemudahan yang ditawarkan ChatGPT, Open AI memperingatkan bahwa ChatGPT tidak sempurna. AI ini bisa saja memberikan informasi yang salah atas pertanyaan pengguna.

Para peneliti juga mengingatkan agar pengguna tetap perlu berhati-hati. Sebagian kekhawatiran mengacu pada peran ChatGPT dalam pendidikan, di mana sekolah umum Kota New York telah melarang penggunaannya.

Menurut para ahli, perusahaan perlu memikirkan kebijakan mereka untuk teknologi instan tersebut. Jika tidak, mereka berisiko masuk ke dalam jebakan yang dapat ditimbulkan oleh ChatGPT dan model AI lainnya, seperti kesalahan faktual, pelanggaran hak cipta, dan kebocoran informasi perusahaan yang sensitif. [rif]