Masih sibuk menghitung derita? Jangan-jangan itu sebab sabarmu cepat runtuh.
Oleh: Imam Trikarsohadi
SALAH satu penyebab manusia berperilaku tidak sabar, karena kita amat suka menghitung derita.
Lalu apa benar bahwa sabar itu ada batasnya?. Jika benar, lantas kenapa Allah SWT tak berhenti bersabar kepada kita?. Dan juga kenapa DIA tak pernah meninggalkan kita?.
Jawabnya, karena kesabaran Allah adalah rahmat, bukan sekadar menahan murka. Allah bersabar bukan karena kita taat, tetapi memberi waktu untuk kita kembali.
Allah melihat dosa yang kita ulangi, lalai kita, janji yang acapkali kita langgar, namun pintu taubat tetap DIA buka.
Jadi, jika sabar manusia ada batasnya, itu karena hatinya lemah. Sedangkan sabar Allah lahir dari kasih sayangnya yang maha luas.
Mungkin kita lah yang keliru memahami, karena sabar bukan hanya menahan, melainkan belajar meneladani kasihNYA yang tak pernah berakhir.
Maka, jika sabar kita masih runtuh, itu karena kita masih menghitung derita. Padahal sejati sabar adalah menyerahkan hitungan apapun kepadaNYA.
Jadi, pada dasarnya, filosofi sabar adalah kemampuan mengendalikan diri, menahan amarah, dan tetap tabah menghadapi rintangan tanpa mengeluh, guna mencapai tujuan atau keridaan Allah.
Ia bukan kelemahan, melainkan tanda kekuatan jiwa dan iman yang kokoh. Sabar bermakna aktif mencari solusi dan ketenangan, bukan sekadar diam.
Dengan demikian sabar adalah tindakan aktif menahan diri dari hal yang dilarang dan tetap istiqomah dalam ketaatan atau perjuangan. Ia juga merupakan indikator kekuatan jiwa seseorang, sering disamakan dengan kepala bagi jasad.
Dan jangan salah, sabar merupakan proses menuju keberhasilan, karena ia adalah kunci untuk menghadapi ujian hidup dan mencapai hasil yang baik.
Sabar juga berarti mengetahui kapan harus berhenti (evaluasi) ketika diri sudah mencapai batasnya, karena kesabaran sejati juga mencakup menjaga harga diri dan kesehatan mental.
Dalam filosofi Jawa, banyak pepatah yang menekankan pentingnya kesabaran sebagai kunci kemuliaan hidup, ketenangan hati, dan keberkahan, seperti “Wong sabar rejekine jembar, ngalah urip luwih berkah” (orang sabar rezekinya luas, mengalah hidup lebih berkah).
Sabar dianggap sebagai perhiasan laku hidup (mustikaning laku) dan kekuatan menahan cobaan hidup.
Falsafah ini mengajarkan masyarakat Jawa untuk selalu tenang (sareh), menerima keadaan dengan ikhlas (nrimo), dan tidak terburu-buru dalam bertindak. []









