Scroll untuk baca artikel
Blog

Mengingat Kembali Pembantaian Khojaly di Azerbaijan

Redaksi
×

Mengingat Kembali Pembantaian Khojaly di Azerbaijan

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Peristiwa Tragedi Kemanusiaan Khojaly pada 26 Februari 1992 di Republik Azerbaijan, masih menjadi catatan kelam di mata dunia hingga saat ini.

Saat itu, musim dingin membekap Azerbaijan, pasukan Armenia, dibantu personel Resimen Senapan Bermotor 366 Uni Soviet, membantai 613 warga Khojaly. Di antara korban tewas terdapat 106 perempuan, 63 anak-anak, dan 70 manula.

Duta Besar Republik Azerbaijan untuk Republik Indonesia, Jalal Mirzayev, menyebut kejadian ini sebagai “kejahatan terhadap kemanusiaan”.

“Itu adalah pembantaian yang brutal di abad ke-20,” kata Jalal Mirzayev saat membuka diskusi bertajuk ‘Recognize to Reconcile: Perspektif Hubungan Internasional dan Hukum’, Senin (27/2/2023) di Aula Buya Hamka Masjid Raya Al-Azhar Jakarta.

Mirzayev hanya dapat menegaskan bahwa pembantaian itu terjadi karena adanya penentangan atas okupasi yang dilakukan Armenia terhadap Azerbaijan dalam konflik Nagorno-Karabakh.

Menurut Mirzayev konflik tersebut telah menyebabkan 20 persen wilayah negaranya diokupasi Armenia. Pada 1993, Dewan Keamanan PBB sebenarnya telah menerbitkan resolusi terkait konflik kedua negara.

Dalam resolusi itu disebutkan bahwa pasukan bersenjata Armenia harus menarik diri dari wilayah okupasi Azerbaijan tanpa syarat. “Tapi sayangnya mereka belum melakukannya,” ungkapnya.

Dia mengatakan Azerbaijan berkomitmen untuk menyelesaikan konflik itu secara damai dan melalui proses pembicaraan atau kompromi. Namun proses tersebut harus terikat dengan prinsip hukum internasional.

Karena Impunitas atas kasus tersebut menurut Mirzayev mengarah pada kejahatan internasional jenis ini, dan menekankan pentingnya membawa para pelaku genosida Khojaly ke pengadilan.

Peringatan 31 Tahun Pembantaian Khojaly

Acara peringatan Khojaly ini diorganisir oleh Pemuda Organisasi Kerjasama Islam Indonesia (OIC Youth Indonesia) dan Indonesia NYC dengan dukungan Eurasian Regional Center (ICYF-ERC).

Hadir dalam diskusi tersebut Presiden OKI Youth Organization of Indonesia Ibu Astrid Nadiya Rizqita, Plt Dirjen ICYF-ERC Vusal Gurbanov. Sementara Wakil Presiden ICYF dan Indonesia NYC Tantan Taufiq Lubis menyampaikan pidato tentang acara yang didedikasikan untuk pengakuan internasional atas tragedi Khojaly di dunia.

Pembicara juga menyebutkan bahwa pemuda Indonesia menyuarakan kebenaran Karabakh di kawasan Asia Tenggara dan selalu membela posisi Azerbaijan yang adil.

Pembicara sesi panel yang dimoderatori oleh Ibu Sururoh Uthman dari Santri Diplomacy Academy, yakni Ketua Komisi Hubungan Internasional dan Kerjasama Internasional Majelis Ulama Indonesia, Dubes Bunyan Saptomo. Dosen Kajian Global Strategis Universitas Indonesia Dr. Sya’roni Rofi’i, Direktur Pusat Studi Konstitusi Universitas Andalas Feri Amsari S.H. M.H. LL.M, Serta Dekan Fakultas Hukum Universitas Al Azhar Indonesia Dr. Yusuf Hidayat S.Ag, M.H.

Panel dilakukan dalam perspektif hubungan internasional, OKI, Hukum Internasional dan Humaniter, dan amanat konstitusi Indonesia untuk mengambil bagian dalam perdamaian dunia.

Dalam pidato dan diskusi mereka mencatat pentingnya pengakuan tragedi Khojaly sebagai genosida oleh masyarakat dunia dalam skala yang lebih besar.

Di akhir acara, peserta membacakan doa untuk para korban Khojaly, serta digelar juga pameran foto yang menggambarkan tragedi tersebut, dan menonton film dokumenter pendek dalam rangka acara peringatan Khojaly. [rif]