Scroll untuk baca artikel
Kolom

Menunggu Batas Kesabaran Masyarakat Eropa

Redaksi
×

Menunggu Batas Kesabaran Masyarakat Eropa

Sebarkan artikel ini

EROPA dirundung malang. Ketergantungan pada energi (gas) Rusia menyebabkan mereka dihantui ancaman musim dingin yang paling mengerikan.

Perawatan saluran pipa utama Nord Stream 1 milik Gazprom yang memasok gas ke Eropa masih juga belum rampung — malah diperpanjang — disebut sebagai akal-akalan Rusia untuk memantik masyarakat Eropa marah kepada pemerintahnya. Logika itu ada benarnya.

Alasan Rusia mengurangi pasokan gas ke Eropa dengan dalih perawatan pipa jelas sebagai cara rezim Putin ‘menghukum’ Eropa. Cara ini dianggap balasan yang paling mangkus dan sangkil untuk melawan Eropa yang menghukum Rusia karena menyerang Ukraina.

Sejumlah pimpinan negara Eropa terus memutar otak untuk mencari jalan keluar sehingga tidak dipermalukan Rusia di depan warganya sendiri. Sejumlah pemerintah di Eropa terus berupaya meyakinkan warganya untuk tidak khawatir dan berjanji tidak akan terjadi pemadaman bergilir.

Misalnya di Prancis seperti dilaporkan The New York Times, penghematan dilakukan dengan cara mematikan lampu di jalan-jalan, video iklan di sejumlah tempat dimatikan sehingga keindahan malam Paris pun pudar. Dunia industri juga diminta menghemat energi sampai 10 persen. Sampai-sampai kolam renang pun ditutup.

Agnès Pannier-Runacher, Menteri Transisi Energi mengatakan pemerintah akan mencoba untuk menghindari tindakan pembatasan atas penggunaan energi di puncak musim dingin.

Sampai mana batas kesabaran warga Eropa? Sepertinya harus diuji sampai musim dingin tiba. Sampai saat itu warga Eropa kendati harga-harga melambung tinggi dan meningkatnya angka pengangguran karena penutupan pabrik dan juga pengurangan jam kerja, masih bisa bersabar.

Di Jerman misalnya Pemerintah memberikan sejumlah insentif dan juga paket bantuan semisal BLT di Indonesia pada Minggu lalu sebesar $65 miliar. Bedanya mungkin di sana tidak ada istilah salah sasaran atau penerima gaib atau dikorupsi seperti di Indonesia.

Namun, bantuan itu tidak sepenuhnya bisa mengatasi masalah karena inflasi juga tinggi. Kini, masyarakat berinisiatif berhemat dengan cara beralih menyiapkan kayu bakar untuk menghadapi musim dingin untuk di perdesaan sementara bagi yang di perkotaan terus berhemat seketat-ketatnya dengan mematikan termostat.

Seperti ditulis New York Times, di Prancis utara, beberapa sekolah menengah di Brittany dan di Normandia bereksperimen dengan menggunakan tungku pembakaran kayu untuk panas di beberapa sekolah sebagai alternatif untuk gas.

“Kami membutuhkan perubahan radikal. Setiap orang harus bertanya pada diri sendiri apa yang bisa mereka lakukan untuk mengurangi konsumsi,” kata seorang warga Prancis.

Paradoks

Di sisi lain ketika Eropa ketar-ketir dan melakukan penghematan besar-besaran sehingga pertumbuhan ekonomi terkoreksi, nun di Rusia justru pertumbuhan ekonomi terus naik. Sejumlah perusahaan multinasional seperti Coca Cola dan McDonals dan Strubucks ‘dinasionalisasi’. Industri tetap berjalan biasa hanya nama dan kepemilikan yang beralih setelah perusahaan Amerika Serikat hengkang dari Rusia.

Kepala Dinas Fiskal Federal Daniil Yegorov seperti dikutip sejumlah media mengatakan pertumbuhan ekonomi Rusia dalam semester pertama tahun 2022 melonjak signifikan. Sektor energi dan gas alam menjadi yang paling berpengaruh atas peningkatan ekonomi Rusia.

Laporan sebelumnya menyebut, Rusia untung Rp2.000 triliun hanya dari penjualan energinya saja. Sektor nonmigas juga mengalami peningkatan hingga 24 persen. Daniil Yegorov juga mengungkapkan bahwa anggaran konsolidasi Rusia tumbuh sebesar 32 persen pada paruh pertama tahun 2022.

Namun yang lebih menyedihkan, krisis energi di Eropa ini malah akan menyebabkan agenda dunia untuk menepati janjinya seperti menggunakan energi ramah lingkungan dan juga energi hijau semakin jauh dari kenyataan.

Jerman yang paling tergantung pada energi gas dari Rusia malah kembali mengaktifkan tunggu batubaranya untuk memasok listrik dan menunda penutupan reaktor nuklirnya yang rencananya diakhiri tahun ini.

Dampak perang Rusia-Ukraina ternyata sangat rumit dan kompleks. Para elite politik Eropa dan juga Rusia harus kompromi sehingga tidak sama-sama malu. Jangan sampai tunggu musim dingin tiba.

Bila Eropa menderita juga masyarakat di belahan dunia lain juga ikut menderita. Dalam kondisi seperti sekarang dan mungkin ke depan jangan sampai ada yang berpesta di atas penderitaan rakyat atas nama politik. Termasuk juga di Indonesia. Dunia tengah prihatin. [rif]