Scroll untuk baca artikel
Blog

Mereka Orangtua Tauladan

Redaksi
×

Mereka Orangtua Tauladan

Sebarkan artikel ini

SAMUEL Hutabarat dan isteri sedang di luar rumah saat anaknya pulang dalam peti mati. Mereka pun buru-buru pulang, bagai tak percaya pada kenyataan di depan mata.

Isterinya meraung sambil merengkuh peti mati, meratapi putera yang dibanggakan. Anak yang dilahirkan dan dibesarkan, dengan dirinya sebagai guru SD dan suaminya petani kecil.

Sampai si anak berhasil lulus terbaik dari pendidikan kepolisian, hingga mencapai pangkat Briptu. Tapi Joshua, si anak kesayangan pulang tanpa nyawa.

Anggota polisi yang membawa jenazah, salahsatunya berbintang satu, minta Samuel menandatangani surat tanda terima. Tapi ia menolak tandatangan sebelum melihat jazad J. Ia bersikeras peti mati dibuka. Bagaimana saya bisa tahu kalau di dalam peti ini anak saya, tegasnya, bagaimana kalau bukan.

Sampai di sini kita perlu mengapresiasi sikap tegas Samuel. Dia bukan tipe orang yang ‘yes man’, yang sedia menerima jazad anaknya dalam peti mati. Mau menandatangani surat tandaterima. Apalagi atas bujuk menekan polisi berbintang.

Kalau dia type penjilat, maka ceritanya akan lain. Pembunuhan anaknya oleh perintah seorang jendral berbintang dua, tidak terungkap. Satu bulan lebih kasus itu baru terbuka lebar, seperti yang empat kali dinyatakan oleh Presiden Jokowi agar dibuka jujur dan apa adanya.

Joshua mengalami kematian atas pembunuhan berencana dan berkelompok. Bahkan pembunuhan disertai penyiksaan, menggunakan senjata api dan alat penyiksaan.

Kapolri telah mengumumkan empat tersangka, Irjen FS sebagai dalang pembunuhan sadis, dan tiga bawahannya sebagai eksekutor. Tidak kurang dari empatpuluh personil polisi diperiksa. Beberapa di antaranya perwira. Sebagian besar dari mereka masih ditahan.

Motif besar apa sebetulnya yang menggerakkan pembunuhan itu. Tentu dengan melibatkan puluhan anggota polisi plus sekian perwira, bukan perkara biasa dengan motif kecil. Seperti keterangan tambahan, menurut pengakuan FS: ia memerintah bawahannya untuk membunuh, lantaran ia mendapat laporan bahwa J melakukan pelecehan terhadap isterinya.

Pelecehan yang bagaimana, yang sekali lagi, sang jendral didukung oleh puluhan anggota polisi plus sekian perwira. Sungguh cerita komedi yang tidak lucu.

Andai Polri memercayai pengakuan FS, misalnya, demi menjaga marwah kepolisian, maka kewibawaan Polri di mata masyarakat akan anjlok hingga sampai ke tingkat paling bawah.

Sebab seperti yang disinyalir pengacara keluarga Samuel Hutabarat, FJ ada dalam jaringan mafia perjudian, sabu, dan narkoba. Ia pun menekankan agar motif besar ini dibuka selebar-lebarnya.