Oleh: Agung Wibowo
SUARA azan berkumandang dari corong masjid memanggil jamaah untuk melakukan salat Isya. Bersamaan itu suara alunan musik dangdut yang tidak terlalu keras terdengar tak jauh dari masjid.
Keadaan ini adalah hal yang biasa terjadi di sebuah perkampungan lokalisasi tempat Pak Ahmad menetap sebagai imam masjid di daerah itu.
Sejak awal pembangunan masjid yang dulunya merupakan surau kecil, Pak Ahmad selalu mendapat teror dari orang yang memang kehidupannya bergantung dari lokalisasi.
Dari hardikan sampai ditemukannya kotoran manusia di depan surau, Pak Ahmad tetap melanjutkan pembangunan masjid dengan hati lapang. Mengingat bahwa mengemban dakwah adalah merupakan tanggung jawab seorang mukmin meskipun sulit dan penuh tantangan.
Bersama dukungan para jama’ah, ia tak pernah merasa berat mengemban amanah. Dan beranggapan bahwa tantangan kesulitan yang dihadapi, tak sebanding nikmat yang diberikan Alloh kepadanya.
“Seandainya saja orang yang meneror tahu dan sadar, pastilah mereka tidak akan mau melakukan hal itu,” ujar Pak Ahmad kepada Jalil, pemuda tekun yang selalu membantu mengurus surau.
Dan Jalil pun selalu setia mendengarkan tiap kata-kata Pak Ahmad, karena membuat dirinya bersemangat untuk terus bersama menegakkan kebenaran.
* * *
Surau kampung lokalisaai sebelum menjadi sebuah masjid, adalah sebuah tempat ibadah sederhana yang jauh dari kata layak.
Dengan berdinding dan berlantai papan, serta beratap genting yang kadang bocor jika musim hujan tiba, Pak Ahmad bersama jama’ahnya yang berjumlah lima orang tetap menjalankan ibadah.
Pak Ahmad sebenarnya berprofesi sebagai tukung pijat urut yang sering membantu warga dengan keahliannya. Tak jarang beliau sering menangani sebuah cidera patah tulang disebabkan karena kecelakaan maupun perkelahian dari keributan di sebuah karaoke.
Beliau membantu warga tanpa menyebutkan besarnya upah. Sehingga banyak di antara mereka menaruh simpati dan hormat. Meskipun tidak sedikit yang tak mau bertegur sapa lantaran merasa berseberangan.
Dengan rasa solidaritas kepada warga, membuat keadaan surau lambat laun ramai oleh jama’ah. Sehingga sedikit demi sedikit bisa melakukan renovasi pembangunan.
* * *
Azan Subuh berkumandang dari surau yang masih dalam keadaan renovasi itu. Sebagian warga sudah berdatangan untuk melakukan salat. Namun tidak demikian bagi Pak Wiro pemilik karaoke yang baru tutup untuk beristirahat.
“Kurang ajar itu surau! Kenapa sekarang pakai corong yang keras untuk azan! Membuat bising dan mengganggu orang tidur saja. Awas kalian!” ujar Pak Wiro terganggu dari tidurnya yang baru sebentar.
Dengan langkah kaki marah, Pak Wiro keluar rumah menuju surau.
“Hei, Ahmad! Keluar kau dari surau! Mengganggu orang tidur saja dengan suara corongmu itu! Keluar kau!” Teriak Pak Wiro sambil berkacak pinggang di depan surau.
Orang-orang yang masih berada di surau seketika keluar dengan geramnya menghampiri Pak Wiro. Terutama Pak Sastro, seorang begal yang bertaubat.
“Apa Wiro! Beraninya teriak-teriak di depan tempat ibadah! Apa kamu mau mengganggu orang yang akan salat?!” bentak Pak Sastro sengit.
“Assalamualaikum, Pak Wiro. Ada apakah sehingga Bapak marah-marah pada kami yang akan menunaikan ibadah? Jika Bapak berkenan ikut jama’ah, kami persilakan,” kata Pak Ahmad menengahi dengan sopan.
” Dasar sok alim kamu, Ahmad! Aku ke sini bukan mau salat! Salat kok disuruh-suruh kayak anak kecil saja! Aku ini terganggu oleh suara corong suraumu itu! Apa kamu tidak tahu kalau orang capek kerja ngurus karaoke, heeeh …?! Dulu enak sebelum ada corong, malah sekarang dipasang membuat bising saja!” ujar Pak Wiro marah.
“Beraninya kamu!” ujar Pak Sastro mencincing sarungnya menghampiri Pak Wiro untuk menantang berkelahi.
“Sudah … sudah. Saudara- saudara sekalian mohon bersabar. Pak Wiro, kami di sini sedang beribadah mencari pahala seperti halnya Bapak mencari penghasilan. Maka, apa kami tidak diperbolehkan untuk mencari sesuatu penghidupan seperti halnya Bapak. Meskipun berbeda caranya. Jika Bapak terganggu dengan suara corong surau, maka kami mohon maaf. Dan nanti akan dikecilkan suaranya. Tetapi apakah anda juga tidak merasa mengganggu orang lain yang bisa saja tidak berkenan dengan pengeras suara dari tempat Bapak? Corong surau itu untuk mengundang orang agar mau datang beribadah, seperti halnya pengeras suara karaoke ditempat Bapak. Bukankah begitu, paham?” Pak Ahmad mencoba menasihati secara santun.
“Ya, sudah. Kamu itu malah ceramah di depanku,” kata Pak Wiro jengkel dan berjalan pulang tak menjawab balik pertanyaan Pak Ahmad.
Setelah agak jauh berjalan dari surau itu, Pak Sastro berujar,”Hei, Wiro! Kamu kalau berani mengganggu orang beribadah, aku akan menghadapimu!” kata Pak Sastro sambil mengancam.
“Sabar, Pak Sastro. Kita harus sabar menghadapi hal seperti ini. Kekerasan tidak selalu diselesaikan dengan kekerasan pula, melainkan juga dengan kelembutan. Rasulullah mendakwahkan islam itu dengan cara santun. Jika dengan kekerasan, maka islam tidak akan diterima oleh umat. Terkecuali jika memang umat ditindas oleh orang kafir dan zalim, maka kita pun diperintahkan untuk secara keras menghadapinya. Itu pun dengan pertimbangan sisi manusiawi. Maka kita harus sabar tawakal dalam berdakwah, serta tetap berdoa memohon kemudahan atas jalan-Nya. Mari kita salat, ayo!” ujar Pak Ahmad menasihati.
* * *
Sejak kejadian pagi itu, Pak Wiro tak henti-henti ngomel di rumahnya.
“Sialan si Sastro itu, malah ngajak ribut sama aku,” gumam Pak Wiro sambil meminum segelas Wisky, “kalau saja dia bukan mantan kepala bandit, sudah aku sobek-sobek mulutnya.”
Terbersit sebuah pikiran jahat dalam kepala Pak Wiro. Dia berencana untuk meletakkan kotoran manusia di depan pintu surau, untuk memberi pelajaran bagi para jama’ah. Dan dia pun meletakkannya pada malam hari ketika semua orang tertidur lelap.
Sementara waktu subuh telah datang, Pak Ahmad beserta Jalil telah sampai di depan pintu surau. Tak ayal terkejut dengan apa yang dilihatnya, Jalil pun berujar geram, “Kurang ajar orang yang meletakkan kotoran ini di depan surau! Semoga dibalas oleh Yang Maha Kuasa!”
“Sabar, Jalil. Cukup bersihkan saja dan cepatlah sebelum yang lainnya pada datang, terutama Pak Sastro!” kata Pak Ahmad.
“Baik, Pak. Ini kalau ketemu Pak Sastro malah nanti jadi ribut ya, Pak?”
Jalil pun segera membersihkan kotoran itu. Tanpa memberitahu yang lainnya akan apa yang terjadi sampai usai salat.
Tuhan memang Maha Adil. Setelah kejadian itu, Pak Wiro merasa kurang sehat. Ia tak bisa buang air besar selama seminggu sehingga perutnya membesar. Berbagai cara dan obat-obatan telah diminum. Namun tidak membuahkan hasil selain semakin menambah sakit.
Dia ingat apa yang telah dilakukannya seminggu lalu terhadap surau di kampung itu. Kemudian dipanggillah salah seorang wanita anak asuhnya untuk mengantarkan ke rumah Pak Ahmad.
“Assalamualaikum, Pak Ahmad saya Wiro. Tolong saya, Pak?”
“Waalaikum salam, Pak Wiro apa yang terjadi? Kenapa Bapak duduk di lantai depan rumah saya? Dan kenapa dengan perut Bapak?” tanya Pak Ahmad terkejut.
“Ampun, maaf, Pak. Saya ngaku salah karena telah meletakkan kotoran manusia di depan pintu surau seminggu lalu. Sehingga saya jadi begini. Apa yang harus saya perbuat agar bisa sembuh dari sakit perut ini?” ujar Pak Wiro menghiba menceritakan awal sakitnya.
“Hmmm … baiklah, Pak Wiro. Karena anda sudah mengaku telah berbuat salah, maka minta ampunlah kepada Alloh,” kata Pak Ahmad dengan lembut.
“Apa hanya begitu saja? Saya harus bagaimana lagi?”
“Kembali ke jalan Alloh dan bersedekahlah, Pak Wiro,” kata Pak Ahmad singkat.
Dengan tertegun merasa berat, Pak Wiro mengiyakan saja ucapan Pak Ahmad. Mengingat jika dia kembali ke jalan yang benar, maka akan dikemanakan tempat karaoke dan para anak asuhnya yang mereka semua adalah gadis penghibur.
Bersama lantunan doa dan segelas air putih yang didoakan, Pak Wiro meminumnya. Kemudian dengan sedikit memaksa, ia memberikan sebuah amplop kepada Pak Ahmad sebagai alasan sedekah.
Setelah mohon pamit, Pak Wiro meniggalkan rumah Pak Ahmad naik becak sampai rumahnya.
Dengan dibantu turun ke halaman karaoke yang sekaligus rumahnya yang luas, Pak Wiro merasa sudah tak kuat lagi untuk membuang hajat.
Rumah tinggalnya agak masuk ke dalam dari ruang depan yang dipakai sebagai tempat karaoke. Serasa tak kuasa dijangkau, maka tak ayal perutnya yang mulas sudah tak tertahan untuk mengeluarkan isinya.
“Aduuuhhh, perutkuuu ….,” teriakan lemah Pak Wiro sambil tangan kiri memegang perut dan tangan kanan pada bagian belakang celananya.
Kontan para anak asuhnya, dan pengunjung yang ada di tempat itu kaget melihat pemandangan menjijikkan. Pak Wiro buang hajat yang keluar dari celana pendeknya di tengah ruangan!
Itulah balasan atas apa yang ia lakukan seminggu lalu terhadap surau sebagai tempat ibadah. Dan berita memalukan ini tersebar ke penjuru kampung lokalisasi.
Banyak orang mengaitkan berita itu kepada hal mistis telah terjadi. Ada juga yang menyangkutkan kepada hikmah keimanan. Namun semua itu juga mengangkat nama Pak Ahmad sebagai seorang alim yang bisa membantu kesembuhan sebuah penyakit.
Semenjak kejadian itu, rumah Pak Ahmad ramai didatangi para tetangga maupun orang luar kampung untuk meminta doa.
Semua dihadapinya secara sabar dengan mengedepankan keikhlasan membantu sesama dan mengajak para tamu meningkatkan amal baik, sedekah, salat, serta ibadah lainnya. Karena dengan inilah ia bisa mengembangkan dakwah, selain menolong bagi yang membutuhkan.
“Semua dari Alloh, maka kita kembalikan kepada Alloh juga,” kata Pak Ahmad kepada para tamunya.
* * *
Surau kecil sederhana itu telah berubah bangunannya. Dengan banyak bantuan yang diberikan dari para tamu Pak Ahmad, renovasi surau berjalan lancar. Sehingga ruang ibadah yang sempit itu sekarang bisa menampung puluhan jama’ah.
Ucapan syukur tak henti-henti keluar dari mulut Pak Ahmad. Namun di dalam hatinya, serasa belum puas beliau mendakwahkan agama secara penuh kepada warga lokalisasi itu.
Harapan beliau semua ini bisa diteruskan oleh generasi setelahnya, sambil berpasrah kepada Alloh. Karena ia paham, bahwa makhluk-Nya tidak dapat memaksakan kebaikan kepada semua orang selain rida Alloh Yang Maha Pemberi Petunjuk.
Ba’da Isya para jama’ah masih banyak yang berada di dalam masjid baru itu. Pak Lurah tadi siang meresmikannya sekaligus memberikan nama baru bagi masjid ini, yaitu Masjid Nurul Huda.
Dengan masih bersila, Pak Ahmad didatangi Jalil sambil memberikan salam.
“Assalamualaikum, Pak Ahmad. Ada orang yang mau bertemu Bapak tetapi tidak mau menyebutkan namanya, “ujar Jalil.
“Waalaikum salam, biarkan ia masuk ke masjid,” jawabnya.
Setelah orang itu dipertemukan, mereka duduk bersila saling berhadapan di bagian pinggir ruang belakang masjid. Orang itu adalah seorang utusan.
“Assalamualaikum, Pak Ahmad. Maaf saya seorang utusan dari orang yang tidak mau disebutkan. Beliau mengucapkan terimakasih banyak atas bantuan bapak yang membantu kesembuhan beliau. Dan berniat memberikan sedekah amal jariyah bagi masjid ini. Tetapi maaf, beliau tidak bisa menyampaikannya secara langsung karena Bapak akan mengira ini adalah uang haram. Dan beliau menekankan bahwa uang ini adalah halal dari warisan ayahnya yang disimpan. Maka, mohon Bapak terima, ” kata orang itu.
“Waalaikum salam, Saudaraku. Sampaikan kepada beliau bahwa kami menerimanya dengan tangan terbuka serta rasa syukur untuk pembangunan masjid ini. Dan juga kami akan doakan untuk beliau entah siapapun itu agar amal ibadahnya diterima Alloh, serta diberikan hidayah yang banyak bagi beliau, amiiin,” ujar Pak Ahmad.
Setelah mengucapkan salam, orang itu berlalu pergi. Sedangkan Pak Ahmad dan Jalil sama sekali tak mempermasalahkan siapa orang yang banyak memberi sedekah itu. Sebuah cek sebesar seratus juta rupiah!
“Sungguh orang yang mulia,” ujar Jalil terpana melihat sebuah kertas bernilai itu.
Di balik rerimbunan tanaman depan masjid, seseorang merasa lega menyaksikan percakapan itu. Beserta air mata haru, orang tersebut mengucapkan syukur dan melangkah kembali pulang menuju rumahnya yang juga adalah sebuah tempat hiburan karaoke. [Luk]

Agung Wibowo; Penyair tinggal di Semarang, menulis puisi dan cerpen. Buku kumpulan puisi tunggalnya berjudul “Jalan Cinta.
