Scroll untuk baca artikel
Blog

Nasrudin Hoja dan Cita-cita Pembangunan

Redaksi
×

Nasrudin Hoja dan Cita-cita Pembangunan

Sebarkan artikel ini

NASRUDIN Hoja adalah kisah jenaka yang sudah melegenda di masyarakat. Membacanya seperti sebuah hiburan segar yang membuat decak kagum dan senyum. Salah satunya kisah Nasrudin kehilangan kunci.

Ceritanya, Nasrudin pusing tujuh keliling. Tetangganya heran dan bertanya pada Nasrudin yang sibuk mencari sesuatu di depan rumahnya. Kemudian terjadilah dialog ganjil antara tetangga dan Nasrudin.

“Apa yang sedang kamu cari, Nasrudin?”
“Aku mencari kunciku yang hilang”
“Di mana hilangnya kuncimu?”
“Di dalam rumah”
“Mengapa kamu cari di luar rumah?”
“Di dalam rumah gelap, di sini terang”

Silahkan cerna sendiri peristiwa Nasrudin di atas. Menurut saya ada banyak pelajaran penuh hikmah dari kisah jenaka tersebut. Nasrudin yang konon seorang sufi, seperti menyindir perilaku manusia yang acap mengambil jalan keliru. Celakanya, kekeliruan itu sebenarnya disadari tapi tetap dilakukan.

Ada banyak manusia dalam mengatasi kesumpekan hidup mengambil jalan pintas dengan misalnya, mengkonsumsi narkoba. Atau manusia ingin cepat punya banyak harta dengan cara mengundi nasib lewat judi. Pun banyak orang ingin mendapatkan kebahagiaan dengan mengejar kehidupan material yang gemerlap dan glamour.

Tak akan sampai. Mungkin itu yang akan dikatakan Nasrudin. Bagaimana sesuatu yang letaknya dikedalaman batin dicari dengan penuh kesibukan di luar batin. Itulah sindiran Nasrudin melalui kisah kunci yang hilang.

Pada skala yang lebih luas, semisal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kisah Nasrudin masih cukup relevan. Para pahlawan di masa lalu berjuang keras merebut kemerdekaan. Mereka ingin bangsa ini bebas dari cengkeraman penjajah dan menentukan nasib sendiri.

Setelah kemerdekaan, api revolusi terus dikobarkan dalam rangka menyatukan langkah, menemukan jatidiri dan identitas dengan penuh kebanggaan dan percaya diri.

Upaya itu ditempuh diantaranya melalui jalan pembangunan diberbagai sektor kehidupan. Para arsitek pembangunan berusaha keras mendapatkan resep yang tepat untuk negeri ini dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi dll.

Sayangnya, usai kemerdekaan kita belum cukup punya kesempatan untuk merumuskan secara serius tentang siapa kita sebagai sebuah bangsa merdeka dan apa langkah yang tepat untuk kita lakukan dengan modal sejarah dan budaya yang ada.

Kesegeraan bangsa ini untuk mengisi kemerdekaan dan mengejar ketertinggalan, pada akhirnya menggunakan resep yang sudah ada dan tersedia.

Kita akhirnya memilih jalan kehidupan modern dengan segala pernak perniknya sebagaimana bangsa bangsa dibelahan dunia. Pembangunan dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan dll, formulanya tak jauh beda dengan bangsa lainya.

Kita pernah mencoba berbagai resep pembangunan dari kencenderungan paham kiri sampai kanan, baik dalam lapangan ideologi, politik maupun ekonomi.

Berbagai resep pembangunan itu, yang sering berubah arah menandakan kita belum benar benar mampu merumuskan siapa kita sebagai sebuah bangsa merdeka dan pilihan konsep yang tepat buat kita.

Saat ini formula pembangun berbangsa dan bernegara mengikuti orkesta tunggal yang bernama kemodernan. Ukuran ukuran keberhasilan pembangunan mengikuti semua standar yang dibuat diluar kita. Dan saat ini, bersama dengan banga lain di dunia, kita sedang menuju arah yang kurang lebih sama: menjadi negara industri, dengan negara maju sebagai model.

Sementara kunci yang bernama jati diri bangsa itu harus dicari di dalam ‘rumah kebudayaan’ sendiri, tempat bersemi nilai nilai dan identitas. Formulasi pembangunan mestinya berpijak dari kaki kebudayaan sendiri tanpa harus menutup dinamika dari luar. Kondisi ini tidak bisa terbalik.