Sebuah catatan kecil dari anak 10 tahun mengguncang nurani: ketika kemiskinan, kesunyian, dan abainya sistem merenggut nyawa polos.
Oleh: Imam Trikarsohadi
“Mama saya pergi dulu, relakan saya, jangan menangis.” Itulah tulisan tangan anak berusia 10 Tahun berinisial YBR sebelum ia melakukan bunuh diri.
Seperti diketahui, YBR, siswa kelas IV sekolah dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), gantung diri pada Kamis 29 Januari 2026, dan tulisan tangan itu ditemukan di sekitar lokasi kejadian.
Dada kita tentu sesak dan teriris mendapat kabar peristiwa tersebut. Anak yang mestinya tumbuh dengan keceriaan masa kanak – kanaknya, mesti mengakhiri hidupnya lantaran (patut diduga) karena tak mampu membeli pulpen dan buku tulis yang harganya sekitar Rp. 10.000,-.
Tentu, dugaan ihwal pulpen dan buku tulis hanyalah puncak pemicu yang pamungkas. Dibalik itu, tentu, ada kepedihan nan kelam – dalam kesunyian – yang dialami YBR.
Dari fakta – fakta yang diberitakan, dimana sejak usia 1 Tahun 7 Bulan, YBR tinggal bersama neneknya yang berusia 85 Tahun di pondok kecil nan reot berukuran sekitar 2×3 meter, sebab ekonomi sang Ibu yang teramat sulit, dan tinggal di desa yang berbeda.Maka, bisa ditebak; ada tangisan perih nan panjang yang dialami YBR semasa hidup, dan itu harus ia alami dalam kesunyian dan ketidakpedulian.
Di pondok reot yang terbuat dari bambu dan di ruang sempit dengan tungku untuk memasak yang bersatu dengan tempat tidur YBR dan neneknya, maka disana ada kemiskinan akut yang dibiarkan sonder kepedulian.
Dan kemiskinan akut yang dialami YBR atau anak-anak dan keluarga lainnya di negeri ini, merupakan kombinasi kompleks dari faktor ekonomi, sosial, dan alam sekitar yang membuat seseorang atau sebuah keluarga tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar (pangan, sandang, papan). Celakanya, sistem sosial acapkali abai terhadap realitas ini.
Padahal, kemiskinan akut seringkali membentuk lingkaran setan, di mana kemiskinan menyebabkan kekurangan gizi dan penyakit, yang kemudian kembali menurunkan kemampuan untuk bekerja maupun berpikir secara rasional.
Jadi jelas, apa yang dialami YBR tidak disebabkan oleh satu peristiwa tunggal, melainkan hasil akumulasi berbagai faktor tekanan yang saling berkaitan; ekonomi, sosial, lingkungan, dan untuk kemudian menghancurkan mental.
Peristiwa YBR sejatinya, merupakan produk dosa sosial atau kegagalan lingkungan sosial keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam memberikan perlindungan emosional dan dukungan terhadap anak seperti YBR.
YBR adalah korban dari ketidakberdayaan sosial, dan ada begitu banyak anak yang menderita situasi serupa, sebab itu diperlukan peningkatan sensitivitas masyarakat untuk lebih mendengarkan tanpa menghakimi dan menciptakan lingkungan yang merangkul kerentanan anak – anak. []









