Scroll untuk baca artikel
Terkini

Oxfam: Atasi Pandemi, Pajaki Orang Kaya Lebih Tinggi Bisa Jadi Solusi

Redaksi
×

Oxfam: Atasi Pandemi, Pajaki Orang Kaya Lebih Tinggi Bisa Jadi Solusi

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Nyaris 1,5 tahun pandemi berlangsung di Indonesia sejak kasus pertama ditemukan pada 2 Maret 2020. Akibatnya, tingkat pengangguran pun meningkat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Februari 2021 lalu, jumlah pengangguran mencapai 8,75 juta orang atau meningkay 26,26 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu sebesar 6,39 juta orang.

Akhir-akhir ini, kemanusiaan semakin nampak. Fenomena rakyat bantu rakyat pun terjadi di berbagai daerah di tanah air. Bukan hanya mengumpulkan donasi melalui platform digital, mereka pun nampak turun ke lapangan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan.

Meski begitu, menurut analisis Oxfam Internasional pada Jumat (13/8), jika retribusi 99% satu kali atas perolehan kekayaan miliarder selama pandemi dapat membayar vaksinasi Covid-19 umat manusia serta memberikan hibah tunai sebesar US$20.000 kepada semua pengangguran di seluruh dunia. Oxfam bersama organisasi Fight Inequality Alliance, Institute for Policy Studies, dan Patriotic Millionaires menyebut pemerintah agar mengenakan pajak kepada orang-orang sangat kaya yang mendapat keuntungan dari krisis pandemi dalam membantu mengimbangi biaya.

Diperkirakan pajak miliarder Covid-19 darurat satu kali ini akan mengumpulkan US$5,4 triliun dan masih membuat 2.690 miliarder dunia lebih kaya US$55 miliar dibanding sebelum virus merebak. Akan tetapi, pemerintah di seluruh dunia memangkas besar-besaran pajak individu maupun perusahaan besar terkaya yang membuat rusak perjuangan melawan virus serta kemiskinan dan ketidaksetaraan.

Krisis Covid-19 telah mendorong setidaknya lebih dari 200 juta orang ke dalam kemiskinan dan juga membuat perempuan kehilangan pendapatan sekitar US$800 miliar di tahun lalu atau setara dengan PDB gabungan dari 98 negara di dunia. Di waktu bersamaan, 11 orang sekarat akibat kelaparan dan kekurangan gizi setiap menitnya melampaui kematian akibat virus.

Dilansir dari Forbes, kekayaan R. Budi Hartono dan Michael Hartono meningkat. Pada Sabtu (14/8), total kekayaan R Budi Hartono sekitar US$276 juta menjadi US$19,1 miliar sedangkan Michael Hartono sekitar US$265 juta menjadi US$18,4 miliar. Keduanya sama-sama mengalami peningkatan kekayaan sebesar 1,46%. Kedua bersaudara ini juga mengukuhkan posisi mereka di posisi teratas orang terkaya di Indonesia.

Selain Hartono bersaudara berikut update Forbes daftar 10 orang terkaya di Indonesia per Minggu (15/8) dari urutan kedua hingga kesepuluh;

2. Widjaja Family – US$11,9 miliar

3. Prajogo Pangestu – US$6 miliar

4. Anthoni Salim – US$5,9 miliar

5. Sri Pakash Lohia – US$5,6 miliar

6. Susilo Wonowidjojo – US$5,3 miliar

7. Jogi Hendra Atmadja – US4,3 miliar

8. Boenjamin Setiawan – US$4,1 miliar

9. Chairul Tanjung – US$3,9 miliar

10. Tahir US$ 3,3 miliar

Memimpikan Indonesia Mengambil Kebijakan Terhadap Orang Kaya di Tanah Air

Belum lama ini, Kementerian Keuangan menyebut jika pertumbuhan ekonomi pada triwulan II di tahun ini tumbuh positif sebesar 7,07 persen. Meski begitu, belum banyak masyarakat yang merasakan dampak dari pertubuhan ekonomi tersebut.

Ekonom Awalil Rizky mengungkapkan jika jumlah orang kaya meningkat di masa pandemi ini.

“Jika melihat data Credit Suisse, jumlah orang kaya dengan kekayaan bersih lebih dari 100 juta dolar yang masuk kategori sangat kaya meningkat. Tahun 2019 hanya 341 orang sedangkan di tahun 2020 bertambah menjadi 417 orang,” kata Awalil.

Menurutnya, hal itu berarti kelompok penduduk sangat kaya bertambah selama pandemi berlangsung.

“Dengan data yang ada, ini bisa menjadi pertimbangan dalam pengambilan kebijakan seperti pembahasan tentang UU ketentuan dan tata cara perpajakan yang saat ini berlangsung,” lanjut Awalil.