Bagi sebagian kalangan, Starlink menjadi simbol perlawanan karena menyediakan akses internet di luar sensor ketat “Intranet Nasional” Iran.
Dengan mematikan akses internet satelit, pemerintah Iran berupaya memutus jalur distribusi video dan informasi mengenai kerusuhan domestik ke dunia internasional.
Situasi ini menciptakan apa yang disebut sebagai “kegelapan digital”, di mana warga sulit berkoordinasi dan dunia luar kesulitan memverifikasi kondisi di lapangan.
Keberhasilan Iran dalam memblokir Starlink akan menjadi pembelajaran penting bagi banyak negara, baik yang memiliki persoalan serupa maupun tidak.
Di dalamnya terkandung taktik strategis dalam melindungi kedaulatan negara. Bukan tidak mungkin Rusia akan berkoordinasi dengan Iran terkait hal ini, mengingat dalam konflik dengan Ukraina sebelumnya, Rusia gagal melumpuhkan Starlink.
Apa yang terjadi di Iran menegaskan bahwa teknologi tidak pernah sepenuhnya bebas dan mutlak. Meski satelit berada ribuan kilometer di atas permukaan bumi, transmisi data tetap harus “mendarat” pada perangkat yang berada di bawah kendali fisik suatu negara. Peristiwa ini menandai babak baru dalam perlombaan senjata elektronik global.
Pertanyaannya, bagaimana dengan Indonesia? Apakah kita sudah siap menghadapi peperangan elektronik yang dapat ditancapkan oleh para agresor, di tengah peta konflik dunia yang kian meluas dan metode yang semakin barbar?. []






