BARISAN.CO – Penanaman pendidikan lingkungan hidup untuk anak didik bukan sekedar dikenalkan arti penting lingkungan hidup. Hal ini terkait berbagai aspek nilai, yaitu anak dapat mengetahui makna kebenaran, keindahan dan kebaikan.
Persoalan lingkungan yang selama ini menjadi perbincangan internasional semenjak global warming menjadi isu sentral. Juga komitmen pemerintah dalam Nationally Determined Contribution (NDC) yang termaktup dalam Paris Agreement. Yakni upaya komitmen pemerintah dalam mitigasi perubahan iklim untuk menurunkan emisi karobon atau CO2.
Sekolah ataupun lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab tersebut. Oleh karena itu Pendidikan lingkungan hidup anak harus diperhatikan oleh para penyelengara dan pendidik, terutama untuk anak usia dini.
Perlu diketahui bahwasanya pendidikan anak usia dini cenderung diajarkan melalui bermain. Melaui bermain untuk menanamkan nilai lingkungan hidup akan dapat melejitkan semua potensi. Potensi tersebut meliputi motorik, bahasa, kognitif, emosional dan penumbuhan karakter untuk sadar terhadap mahluk hidup lainnya.
Pendidikan anak usia dini memberikan lingkungan yang kaya akan rangsangan, kebebasan, berkreativitas dan menumbuhkan sikap sadar. Kesemuanya itu berorintasi pada kebutuhan anak sebagai individu yang gemar bermain.
Pendidikan lingkungan hidup untuk anak usia dini tentunya tidak secara langsung diterapkan dalam kurikulum sendiri. Akan tetapi sangat aspiratif jika terdapat kurikulum lokal yang mendukungnya. Pendidikan nilai lingkungan bisa diintergrasikan dengan kegiatan pembelajaran. Misalnya sentra peran, sentra balok, sentra persiapan, sentra bahan alam, sentra seni dan kreativitas maupun sentra musik dan budaya.
Kegiatan penunjang pembelajaran lingkungan hidup
Penanamana pendidikan lingkungan hidup untuk anak usiadini tidak hanya proses kegiatan belajar mengajar di kelas. Akan tetapi ada berbagai kegiatan penunjang pembelajaran lingkungan diantaranya:
1. Outbound
Merupakan kegiatan pembelajaran sebagai upaya untuk pembentukan sikap kepemimpinan anak (kepercayaan diri, kerja sama tim). Caranya yaitu dengan pembagian team melalui permainan puzzle, permainan kelompok dengan memainkan barang bekas (bathok triguna), dan.melatih kesimbangan anak dengan membagi team/kelompok (blind walk).
2. Berkebun atau bertani
Kegiatan ini bertujuan untuk mencintai lingkungan dan menghargai alam. Kegiatannya bisa dilakukan semacam menanam bunga di halaman sekolah.
3. Berternak
Pembelajaran berternak memang terkadang membuat repot, sebab terkait prasarana sekolah. Berternak dimaksudkan untuk membekali anak supaya mencintai lingkungan dan kegiatan ini dijadikan sebagai media pembelajaran untuk mengetahui aspek-aspek perternakan.
4. Market day
Kegiatan semacam ini sebagai upaya mengenalkan anak untuk berlatih berwirausaha. Siswa dilatih untuk bisa membuat perencanaan, promosi hingga yang terpenting yaitu menjualnya. Yaitu bisa menjual hasil karya dari anak-anak sendiri dari pemanfatan bahan alam menjadi karya seni.
5. Outing
Kegiatan ini merupakan kegitan sebagai jalan untuk memperdalam materi yang telah disampaikan pada pembelajaran di kelas. Kegiatan ini dilakukan dengan mengunjungi tempat-tempat sesuai dengan tema materi pembelajaran lingkungan.
6. OTFA (Out Tracking Fun Adventure)
Merupakan keberlanjutan dari outbound dan outing, namun ini merupakan sebagai evaluasi akhir dari berbagai kegiatan. Kegiatan ini bisa dilakukan di sekolah maupun di luar sekolah. Bentuk kegiatannya tergantung dari kesepakatan yang terpenting menarik bagi siswa, baik berupa outbound, rekreasi, camping maupun tracking.
Eksperiental learning
Ada pepatah bijak mengatakan pengalaman adalah guru terbaik, pepatah ini bisa dijadikan metode dalam outbound. Sangat tepat bila outbound (experiential learning) ini menjadi konsep pembelajaran modern.
Para peserta yang mengikuti outbound tak hanya dihadapkan tantangan kemampuan intelegensi, tetapi juga fisik dan mental. Hal ini perlu terus dilatih menjadi pengalaman untuk belak menghadapi tantangan lebih nyata dalam persaingan di kehidupan sosial masyarakat.
Experiential learning adalah belajar melalui pendekatan pengalaman yakni memberikan pengalaman langsung kepada peserta pelatihan dengan simulasi permainan. Anak didik langsung merasakan sukses dan gagal dalam pelaksanaan tugas.
Hal ini sebagai penunjang kurangnya guru berpengalaman pada pembelajaran pendidikan lingkungan. Sebab guru atau pendidikan pada anak usia dini tingkat kecakapan perihal pendidikan lingkungan masih rendah.
Guru menerapkan metode pembelajaran experiential learning, merupakan suatu alternatif untuk penunjang kegiatan pembelajaran. Seorang guru dituntut profesional untuk menerakan kesadaran lingkungan. Karena anak merupakan sentra pembelajaran sebagai salah satu tumpuan utama mengelola dan memakmurkan alam.
Penerapan kegiatan experiential learning dengan memberikan pengalaman langsung contohnya aktivitas kesadaran lingkungan eksperimen air berwarna, es batu dalam air, membuat mentega, dan membuat alat permainan dengan kertas bekas.
Selain mengembangkan kemampuan apresiasi atau kreativitas dan penghargaan terhadap perbedaan dalam sebuah kelompok, juga memberikan kontribusi memupuk jiwa kepemimpinan, dengan meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi
Penanaman Pendidikan lingkungan hidup merupakan upaya menanamkan keyakinan bahwa semesta adalah ciptaan Allah yang harus di hargai. Menamkan kebenaran bahwa semua yang di ciptakan di langit dan di bumi ada manfaat bagi keberlangsungan hidup manusia.
Kesadaran estetika bahwa anak mampu mendalami makna keindahan, sebab Allah itu indah dan mencintai keindahan. Contohnya anak dapat berkreativitas dengan mengambar, mewarnai, berpuisi, menyanyikan senandung alam, dan syair-syair Islam.









