Scroll untuk baca artikel
Kolom

Perang Ketahanan

Redaksi
×

Perang Ketahanan

Sebarkan artikel ini
Hidup Sonder Validasi

Perang Iran melawan AS dan Israel memasuki fase baru: bukan lagi soal siapa paling kuat menyerang, tetapi siapa yang paling lama mampu bertahan menanggung biaya dan tekanan perang.

Oleh: Imam Trikarsohadi

MEMASUKI pekan terakhir bulan Ramadhan, perang yang melibatkan Amerika Serikat (AS) + Israel versus Iran sedang berubah bentuk, ia tidak lagi sekadar saling serang secara cepat, bukan lagi ihwal berbalas rudal, bukan juga siapa yang paling cepat menggempur, atau bukan lagi siapa yang lebih dulu membalas.

Perang tersebut kini tiba pada bentuk dari fase kekuatan menjadi fase ketahanan. Dan itu merupakan fase yang jauh lebih berbahaya, karena fase ketahanan yang diuji bukan hanya senjata, bukan hanya pertahanan udara, bukanya hanya jumlah misil atau luasnya kerusakan, tapi yang diuji adalah siapa yang sanggup lebih lama menahan rasa sakit, siapa yang lebih lama sanggup menanggung biaya, dan siapa yang lebih lama bisa menjaga sistemnya tetap berdiri.

AS dan Israel masih terus menekan Iran, tapi mulai melakukan taktik adu domba. Tekanan terhadap Iran juga tidak hanya pada target militer biasa, tapi mulai menyasar jaringan minyak Iran, terutama wilayah Karl Island.

Ini menunjukkan bahwa jantung ekonomi energi Iran mulai dihancurkan. Artinya jelas, Iran tak dapat cepat dijatuhkan secara militer, maka kini dibidik urat nadinya.

Pesoalannya, Iran juga membaca dan menyadari logika yang sama. Sebab itu Iran tidak memainkan taktik untuk kemenangan yang cepat, tetapi memainkan perang ini menjadi konflik yang teramat mahal untuk dimenangkan.

Dan ada satu indikator paling nyata dan tak bisa ditutupi propaganda apapun yakni raungan sirine tanda bahaya yang menjerit – jerit setiap hari di seluruh penujuru Israel. Inilah poin yang sangat penting.

Selama gempuran Iran masih terus masuk, selama drone dan rudal Iran masih intensif menjaga tekanan dan gempuran, selama tiap serangan mampu memaksa Israel hidup dalam alarm, dan menghadirkan malam – malam yang menakutkan dan mencekam, maka tak cukup fakta dan alasan bahwa perang ini akan segera masuk fase deskalasi.

Realitas ini harus dilihat secara obyektif dan jujur bahwa Iran belum menang, sebaliknya AS dan Israel pun demikian. Tapi Iran masih sanggup memaksa lawannya terus berjaga, terus menyalakan sirine tanda bahaya, terus menguras intreceptor, dan terus hidup dalam ketegangan dan ketakutan.

Iran masih memegang kapasitas tekanan strategis. Dan inilah yang sering gagal dipahami banyak orang.
Iran dalam serangan balasan kali ini, tidak sedang dalam tekad menghabiskan Israel dalam tempo cepat, tetapi sedang dalam fase membikin Israel dari negara yang menyerang menjadi negara yang berjaga – jaga dengan penuh ketakutan.

Iran bukan sekedar menghancurkan target, tapi memaksa Israel hidup dalam alarm, hidup dalam shelter – shelter mirip tikus got, membakar stok intreceptor, membagi radar, membagi fokus, membagi sorti udara antara Iran, Lebanon dan seluruh tekanan kawasan.

Disatu sisi, selat Hormuz tetap dipertahankan sebagai tuas tekanan utama. Ancaman terhadap jalur pelayaran, kapal-kapal komersial, stabilitas energi, dan psikologi pasar global, membuat perang ini tidak lagi terbatas pada langit Iran atau wilayah Israel saja.

Dan ketika perang mulai menyentuh kapal, pelabuhan, minyak, asuransi, rantai pasok dan rasa aman negara – negara teluk, maka perang telah berubah dari konflik militer menjadi perang sistem.

Sementara itu, Lebanon tak bisa lagi dianggap sebagai front sampingan. Aksi Hisbullah dari negara itu, kini telah benar – benar menguras saya tahan Israel.

Karena, setiap muncul front tambahan berarti harus lebih banyak radar yang dinyalakan, lebih banyak intreceptor yang ditembakan, lebih banyak pesawat tempur yang harus dibagi, dan lebih banyak fokus komando dipecah.

Dalam perang ketahanan, kelelahan strategis sering bekerja lebih pelan, tetapi lebih dalam. Hal yang penting kali ini, bukan lagi bertanya siapa lebih kuat, tetapi siapa lebih tahan, siapa yang sanggup menjaga ekonominya lebih lama, siapa yang lebih sanggup memikul biaya perang, dan siapa yang lebih sanggup menjaga sekutunya tetap percaya, siapa yang lebih sanggup menjaga rakyatnya tidak panik, dan siapa lebih lama sanggup membuat lawannya kelelahan lebih dulu.

Jika demikian realitasnya, maka sulit bagi AS dan Israel menemukan jalan keluar dari perang kali ini, kalau pun ada, tentu akan sulit dan amat mahal. []

Hidup Sonder Validasi
Kolom

Runtuhnya gunung sampah di Bantargebang menewaskan warga. Apakah…