Scroll untuk baca artikel
Terkini

PKJS-UI Gelar Workshop Pesantren dan Santri Keren Tanpa Rokok

Redaksi
×

PKJS-UI Gelar Workshop Pesantren dan Santri Keren Tanpa Rokok

Sebarkan artikel ini

Peran tokoh agama dalam mengedukasi masyarakat tentang dampak perilaku merokok sangat diperlukan.

BARISAN.CO – Kiai dan santri dari empat pesantren yang berlokasi di wilayah DKI Jakarta mengikuti Workshop “Pesantren dan Santri Keren Tanpa Rokok” di Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jakarta. Acara itu diselenggarakan Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) bekerja sama dengan Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) pada Sabtu (25/2/2023).

Kegiatan ini merupakan bagian dari dukungan oleh santri dan kiai Nahdlatul Ulama di empat pesantren di DKI Jakarta dalam mendukung perlindungan anak dan remaja, termasuk santri, dari bahaya rokok.

Rangkaian kegiatan diisi dengan pemaparan edukasi oleh para ahli agar santri memperoleh wawasan dan pemahaman yang luas mengenai bahaya rokok, dan ditutup dengan pembacaan deklarasi dukungan perlindungan anak dan remaja, terutama santri, dari bahaya rokok oleh LKNU, Duta Santri “Keren Tanpa Rokok” dan perwakilan kiai dari empat pesantren.

Seperti diketahui, rokok memiliki dampak buruk terhadap kesehatan, sosial, dan ekonomi. Selain kandungan zat yang bersifat karsinogen, rokok mengganggu dalam proses tumbuh kembang anak. Sementara, dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 28 B Ayat 2 tertera amanat jelas agar anak-anak memiliki hak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang.

Selain itu, sebagaimana diatur dalam Konvensi Hak Anak, anak-anak memang memerlukan upaya perlindungan dari ancaman bahaya rokok tersebut. Namun yang menyedihkan, data dari Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) justru menunjukkan, prevalensi perokok anak Indonesia terus mengalami peningkatan dari 7,2% pada tahun 2013 menjadi 9,1% pada tahun 2018 atau setara dengan 7,8 juta perokok anak.

Padahal, Pemerintah Indonesia melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) telah memiliki target penurunan prevalensi perokok pada anak usia 10-18 tahun menjadi 8,7% di tahun 2024 mendatang.

Penelitian PKJS-UI di tahun 2021 mengungkapkan, akses terhadap pembelian rokok oleh anak masih mudah dan murah, serta dapat dibeli secara batangan. Hasil studi itu menunjukkan, masih banyaknya warung rokok yang berlokasi dekat dengan area sekolah (≤100 meter).

Apabila hal ini terus dibiarkan, maka prevalensi perokok anak di Indonesia akan terus mengalami peningkatan dan target Pemerintah untuk mencapai Indonesia Emas 2045 dengan Sumber Daya Manusia yang unggul dan berkualitas akan terhambat.

Berbagai upaya untuk menjauhkan keterjangkauan anak dan remaja, termasuk santri, dari bahaya rokok menjadi sangat penting. Dengan ini, peran tokoh agama dalam mengedukasi masyarakat tentang dampak perilaku merokok pun sangat diperlukan.

Oleh karena itu, Aryana Satrya, Ketua PKJS-UI, dalam sambutannya menjelaskan, kegiatan ini dikhususkan untuk mengajak para kiai dan santri dari 4 Pondok Pesantren di DKI Jakarta, yaitu Pondok Pesantren Daarul Rahman, Al Mawaddah, PPQS Nuraini, dan Al Fauzan untuk bersama-sama menyelamatkan generasi bangsa dari candu rokok.

“Kyai dan santri yang hadir menunjukkan kepedulian terhadap dampak perilaku merokok terutama bagi santri. Melalui pengendalian konsumsi rokok, salah satunya berupa harga yang tidak terjangkau, diharapkan dapat menjauhkan anak dan remaja dari akses terhadap rokok, sehingga dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia,” jelas Aryana dalam sambutannya.

Dia juga menurutkan, kegiatan tidak hanya berhenti pada paparan edukasi oleh para ahli saja, namun juga pembentukan Duta Santri “Keren Tanpa Rokok” yang terdiri dari empat Santriwan dan empat Santriwati.

Para duta santri tersebut akan menjadi representasi santri dari masing-masing pesantren untuk terlibat secara aktif dalam memberikan motivasi dan edukasi kepada santri lainnya agar terhindar dari produk rokok, serta aktivitas edukasi terkait pengendalian konsumsi rokok di media sosial ke depannya.

HM. Zulfikar As’ad, Ketua LK-PBNU, atau yang disapa Gus Ufik menyampaikan, pihak LKNU sangat mendukung dan mengapresiasi adanya kegiatan workshop Pesantren dan Santri Keren Tanpa Rokok ini.

Dalam hal ini, Gus Ufik menyetujui pentingnya peran tokoh agama dalam membentengi dan memberikan bimbingan kepada santri secara rohani agar santri jauh dari rokok.

“Perilaku merokok yang dimulai dari masa anak-anak ini menjadi ancaman ketika mereka tumbuh sebagai seorang remaja, maka generasi muda harus dijaga demi masa depan. Karena semakin dini usia seseorang mulai merokok, maka tubuh akan semakin rentan dengan efek yang akan terjadi di kemudian hari,” ungkap Gus Ufik.

H. Imaduddin, Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Rahman Jakarta sepakat. Dia menyebut, melalui kegiatan workshop ini, para santri akan semakin terdorong untuk menjauhi rokok, sekaligus meningkatkan wawasan dan pengetahuan para santri mengenai bahaya dari rokok itu sendiri.

“Perokok di Indonesia sudah terlampau banyak, kita memerlukan upaya agar generasi selanjutnya bisa lebih baik dan lebih sehat,” tegas Imaduddin dalam sambutannya sebagai harapan untuk kesejahteraan generasi muda.

Dia juga mengutarakan, keprihatinannya terhadap perilaku merokok karena sekarang seolah-olah semua orang sudah mewajarkan perilaku merokok tersebut.

“Maka itu, kegiatan workshop ini menjadi sebuah gerakan untuk mencegah terjadinya peningkatan perokok anak dan remaja, dan memberikan ruang perlindungan untuk anak dan remaja, termasuk para santri di Indonesia,” terangnya.