Ungkapan bahwa rezeki tidak akan tertukar bukanlah sekadar kata bijak, melainkan jaminan pasti dari Allah Swt yang telah digariskan sejak manusia dalam kandungan.
BARISAN.CO – Dewi pernah merasa tertinggal ketika melihat teman-temannya lebih dulu sukses, memiliki pekerjaan mapan, dan hidup berkecukupan, sementara dirinya masih berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, perlahan ia belajar bahwa rezeki tidak akan tertukar, sebab setiap orang memiliki perjalanan hidup dan ketentuan Allah SWT yang berbeda.
Keyakinan itu membuat Dewi memahami bahwa rezeki bukan hanya soal materi, melainkan juga tentang ikhtiar, kesabaran, rasa syukur, dan keberkahan dalam menjalani kehidupan.
Acapakali mendengar kata bijak “rezeki tidak akan tertukar” dan persoalan rezeki merupakan hal dunia yang senantiasa dikhawatirkan manusia. Banyak orang bekerja keras ingin mendapatkan materi, sehingga lupa makna rezeki yang hakiki.
Berikut ini akan jelaskan makna yang terkandung dari kata bijak ‘rezeki tidak akan tertukar.’ Sebelumnya perlu dipahami arti rezeki, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBB) rezeki adalah sesuatu yang dipakai untuk memelihara kehidupan, selain itu memiliki arti penghidupan dan pendapatan.
Sementara menurut teks bahasa arab, rezeki berasal dari kata razaqa, yarzuqu, rizqan yang artinya anugerah baik itu kekayaan, nasih, kenikmatan, nafkah.
Manusia harus meyakini atau beriman atas rezeki yang dilimpahkan Allah Swt, sebagaimana Allah Swt berfirman dalam surah Al-Hud ayat 6:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
Artinya: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).” (QS. Hud: 6).
Makna yang terkandung dari ayat di atas yakni bahwa Allah Swt telah menjamin rezeki setiap makhluk. Bergitu juga hewan melata di bumi baik itu kecil maupun besar, hidup di darat maupun di lautan.
Bahkan Allah Swt mengetahui tempat dimana hewan atau binatang tersebut tinggal, sehingga rezeki setiap makhluk tentunya tidak akan tertukar.
Hal ini sudah digariskan dan dituliskan dalam lauh mahfudz (kitab), bahwasanya telah tercatat Allah Swt berfirman dalam surah Al-An’am ayat 38:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ وَلا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ
Artinya: “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kalian. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.” (QS. Al-An’am: 38).
Jadi perihal rezeki tidak akan tertukar, jodoh, maut, maupun senang dan bahagia sudah tercatat dalam kitab lauh mahfudz. Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda tentang takdir:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ الـْمَصْدُوْقُ: (إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمَاً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الـْمَلَكُ فَيَنفُخُ فِيْهِ الرٌّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَالله الَّذِيْ لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إلاذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَايَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إلا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.
Artinya: “Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bercerita kepada kami, dan beliau adalah orang yang benar lagi dibenarkan: ”Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama 40 hari berwujud nuthfah (mani), kemudian menjadi ‘alaqah (gumpalan darah) selama itu juga, kemudian menjadi mudghah (gumpalan daging) selama itu juga. Kemudian diutus seorang malaikat, lalu dia meniupkan ruh kepadanya, dan dia (malaikat tadi) diperintah untuk menulis 4 kalimat (perkara): tentang rezekinya, amalannya, ajalnya dan (apakah) dia termasuk orang yang sengsara atau bahagia.
Demi Allah, Dzat yang tidak ada sesembahan yang haq selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kalian, benar-benar beramal dengan amalan penduduk jannah (surga) sehingga jarak antara dia dengan jannah itu tinggal sehasta.
Namun dia didahului oleh al kitab (catatan takdirnya) sehingga dia beramal dengan amalan penduduk neraka, maka diapun masuk ke dalamnya. Dan sunguh, salah deorang dari kalian beramal dengan amalan penduduk neraka hingga jarak antara di dengan neraka tinggal satu hasta. Namun dia didahului oleh catatan takdir, sehingga dia beramal dengan amalan penduduk jannah, maka dia masuk ke dalamnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Rezeki Tidak Akan Tertukar Bukan Berarti Manusia Berhenti Berikhtiar
Ungkapan “rezeki tidak akan tertukar” kerap menjadi pengingat bagi manusia agar tidak berlebihan dalam mengkhawatirkan kehidupan dunia. Keyakinan ini mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki ketentuan Allah SWT yang tidak perlu dihadapi dengan kecemasan berlebihan, apalagi dengan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekayaan.
Namun, keyakinan terhadap takdir tidak semestinya dipahami sebagai alasan untuk berhenti bekerja, berusaha, atau memperbaiki kehidupan.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tetap perlu menjalankan tanggung jawabnya, mencari nafkah, mengembangkan kemampuan, dan memanfaatkan kesempatan yang tersedia.
Seseorang yang ingin memperoleh penghidupan lebih baik, misalnya, tetap perlu bekerja dengan tekun, meningkatkan keterampilan, membangun usaha, atau mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya. Ikhtiar tersebut merupakan bagian dari usaha manusia dalam menjalani kehidupan, sedangkan hasil akhirnya berada dalam ketentuan Allah SWT.
Dengan demikian, ungkapan rezeki tidak akan tertukar dapat dipahami sebagai ajakan untuk menyeimbangkan usaha dan tawakal. Manusia berusaha sebaik mungkin tanpa harus menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran mutlak keberhasilan dirinya.
Memahami Rezeki Lebih Luas daripada Kekayaan Materi
Dalam pemahaman sehari-hari, rezeki sering kali dikaitkan dengan uang, pekerjaan, rumah, kendaraan, atau kekayaan yang dapat dihitung. Padahal, pengertian rezeki dalam uraian di atas juga mencakup kenikmatan, nafkah, dan anugerah yang menunjang kehidupan.
Kesehatan, kesempatan belajar, keluarga yang mendukung, persahabatan yang baik, waktu untuk beribadah, serta kemampuan menjalani kehidupan dengan tenang juga dapat disyukuri sebagai bentuk karunia. Hal-hal tersebut tidak selalu dapat diukur dengan nominal uang, tetapi mempunyai arti penting bagi kehidupan manusia.
Pemahaman ini bukan berarti kebutuhan ekonomi boleh diabaikan. Penghasilan yang layak tetap penting untuk memenuhi kebutuhan dasar, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan keluarga. Akan tetapi, keberhasilan hidup tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak materi yang dimiliki seseorang.
Karena itu, keyakinan bahwa rezeki tidak akan tertukar dapat menjadi pengingat agar manusia tetap bersyukur atas apa yang dimiliki, sembari terus berusaha memperbaiki keadaan. Rasa syukur dan ikhtiar dapat berjalan beriringan tanpa harus membuat seseorang merasa bersalah ketika ingin meningkatkan taraf hidupnya.
Menghindari Iri Hati dan Persaingan yang Tidak Sehat
Kekhawatiran mengenai rezeki terkadang muncul ketika seseorang membandingkan kehidupannya dengan pencapaian orang lain. Melihat orang lain memperoleh pekerjaan yang lebih baik, memiliki usaha yang berkembang, atau mencapai keberhasilan finansial dapat memunculkan perasaan tertinggal.
Dalam situasi seperti itu, ungkapan rezeki tidak akan tertukar dapat menjadi bahan introspeksi. Setiap orang mempunyai kondisi, kesempatan, kemampuan, dan perjalanan kehidupan yang berbeda. Perbandingan yang berlebihan justru berpotensi menghilangkan rasa syukur dan mendorong seseorang menempuh cara yang tidak benar demi mengejar pencapaian orang lain.
Keyakinan terhadap ketentuan Allah SWT seharusnya mendorong manusia untuk tetap menjaga kejujuran, menghormati hak sesama, dan tidak merugikan orang lain. Rezeki tidak semestinya dijadikan alasan untuk membenarkan penipuan, kecurangan, maupun tindakan yang melanggar hak orang lain.
Sebaliknya, keberhasilan orang lain dapat dijadikan sumber pelajaran dan motivasi. Seseorang dapat mempelajari cara bekerja, membangun keterampilan, atau mengelola usaha dengan lebih baik tanpa harus menginginkan hilangnya nikmat yang dimiliki orang lain.
Tawakal, Syukur, dan Tanggung Jawab dalam Mencari Nafkah
Keyakinan bahwa rezeki berasal dari Allah SWT juga berkaitan dengan sikap tawakal. Tawakal bukan sekadar menyerahkan hasil kepada Allah tanpa melakukan usaha, melainkan menjalankan ikhtiar dengan sungguh-sungguh sembari menyadari bahwa manusia tidak sepenuhnya mengendalikan hasil yang diperolehnya.
Dalam mencari nafkah, prinsip tersebut dapat diwujudkan melalui pekerjaan yang halal, sikap jujur, tanggung jawab terhadap keluarga, serta kesediaan untuk terus belajar ketika menghadapi kesulitan.
Ketika hasil belum sesuai harapan, seseorang dapat mengevaluasi langkah-langkahnya dan mencari jalan keluar tanpa kehilangan harapan.
Syukur juga mempunyai peran penting dalam menjalani kehidupan. Bersyukur tidak berarti menolak perubahan atau menerima ketidakadilan tanpa upaya memperbaiki keadaan.
Syukur berarti menghargai karunia yang ada, sekaligus menggunakan kemampuan dan kesempatan yang dimiliki untuk melakukan kebaikan.
Pada akhirnya, ungkapan rezeki tidak akan tertukar mengandung pesan agar manusia tidak diperbudak oleh kecemasan terhadap urusan dunia.
Keyakinan terhadap takdir perlu berjalan bersama ikhtiar, kejujuran, kesabaran, dan tanggung jawab. Dengan demikian, pencarian rezeki tidak hanya berorientasi pada jumlah materi, tetapi juga pada keberkahan dan manfaatnya bagi diri sendiri, keluarga, serta sesama. []









