Saat mata terpejam dan tubuh tak lagi berdaya, ada penjagaan langit yang turun—asal satu ayat dibaca dengan penuh keyakinan.
BARISAN.CO – Tidur adalah kebutuhan biologis manusia, tetapi dalam perspektif Islam, tidur bukan sekadar proses fisik untuk memulihkan tubuh.
Tidur adalah kondisi setengah sadar, ketika jiwa beristirahat dan manusia berada dalam keadaan paling lemah.
Karena itu, Islam memberi tuntunan khusus agar tidur tidak hanya menjadi istirahat jasmani, tetapi juga berada dalam penjagaan spiritual.
Salah satu amalan yang paling dikenal dan memiliki landasan kuat adalah membaca Ayat Kursi sebelum tidur.
Al-Qur’an berulang kali menegaskan bahwa manusia tidak pernah benar-benar sendirian. Ada malaikat yang ditugaskan Allah untuk menjaga, mencatat, dan melindungi hamba-Nya.
Dalam kondisi terjaga, manusia masih mampu melindungi diri dengan kesadaran dan ikhtiar. Namun ketika tidur, seluruh daya kontrol itu dilepaskan.
Di sinilah makna penting perlindungan Ilahi menjadi sangat relevan. Tidur dalam Islam dipandang sebagai “kematian kecil”, sebagaimana firman Allah dalam Surah az-Zumar ayat 42, bahwa Allah mewafatkan jiwa ketika matinya dan ketika tidurnya, lalu mengembalikannya hingga waktu yang ditentukan.
Dikutip dari kitab Syamsul Ma’arif wa Latha’iful ‘Awarif karya Syekh Ahmad Ali al-Buni, disebutkan bahwa apabila seseorang ingin tidurnya dijaga oleh malaikat sehingga tidak ada makhluk jahat yang berani mendekat atau mengganggu, maka ketika hendak tidur hendaknya membaca Ayat Kursi dengan hati yang khusyuk.
Dalam keterangan tersebut dijelaskan bahwa Allah akan mewakilkan dua malaikat untuk menjaga tidur orang tersebut hingga pagi hari, sehingga ia terpelihara dari gangguan setan, jin jahat, dan mimpi buruk.
Penjelasan ini berada dalam kerangka tradisi hikmah dan pengalaman spiritual para ulama, yang kemudian dikuatkan oleh dalil-dalil sahih dari Al-Qur’an dan hadis.
Ayat Kursi sendiri adalah ayat ke-255 dari Surah al-Baqarah, yang oleh para ulama disebut sebagai ayat paling agung dalam Al-Qur’an karena kandungannya yang menegaskan keesaan, kekuasaan, dan penjagaan Allah atas seluruh makhluk.
Teks Ayat Kursi adalah sebagai berikut:
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Artinya: “Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Mahahidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa pun dari ilmu-Nya kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Dia Mahatinggi, Mahabesar.”
Kandungan ayat ini secara teologis menegaskan bahwa Allah adalah penjaga mutlak alam semesta. Ketika seorang hamba membacanya sebelum tidur, ia sedang menyerahkan seluruh dirinya kepada penjagaan Allah Yang tidak pernah tidur. Inilah dasar logis-spiritual mengapa Ayat Kursi menjadi benteng perlindungan.
Landasan hadis yang paling kuat terkait hal ini adalah hadis sahih riwayat Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah r.a.
Dalam hadis tersebut diceritakan bahwa setan mengajarkan kepada Abu Hurairah agar membaca Ayat Kursi sebelum tidur, lalu Nabi Muhammad ﷺ membenarkannya dan bersabda:
فَإِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ، فَإِنَّهُ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ
Artinya: “Jika engkau berbaring di tempat tidurmu, maka bacalah Ayat Kursi. Sesungguhnya engkau akan senantiasa dijaga oleh Allah, dan setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.” (HR. Bukhari)
Hadis ini menjadi dalil utama bahwa membaca Ayat Kursi sebelum tidur menghadirkan penjagaan malaikat dan perlindungan dari gangguan setan.
Dari sudut pandang ilmiah-psikologis, membaca ayat dengan penuh keyakinan dan ketenangan juga berpengaruh pada kualitas tidur.
Ketika hati tenang, sistem saraf parasimpatik bekerja lebih dominan, membuat tubuh lebih rileks dan pikiran lebih stabil.
Namun dalam Islam, ketenangan ini tidak berhenti pada efek psikologis, melainkan berlanjut pada dimensi metafisik berupa penjagaan malaikat, sebagaimana ditegaskan oleh hadis dan tradisi ulama.
Dengan demikian, praktik membaca Ayat Kursi sebelum tidur bukanlah sekadar kebiasaan turun-temurun, melainkan amalan yang memiliki landasan Al-Qur’an, hadis sahih, dan penjelasan para ulama.
Ia mengajarkan bahwa tidur bukan keadaan tanpa makna, tetapi momen penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah, Sang Penjaga yang tidak pernah terlelap. Dalam penjagaan itulah, seorang mukmin memejamkan mata dengan aman hingga datangnya pagi. []






