Saputangan Merah – Cerpen Eko Tunas

  • Whatsapp
Lukisan eko tunas
Ilustrasi/Lukisan karya Eko Tunas

DIA muncul di undak-undakan sana, menyongsong Saya dari trap-trap sini. Wajahnya seperti mula kami bertemu. Wajah yang selalu tersenyum, sebab bibir itu dari sononya sudah membentuk senyuman.

Bias cahaya dari sinar lampu di belakangnya menyebarkan bayangan badannya ke lengkung dinding. Dinding dan lengkung atap beton yang sekarang melingkupi deka peluk Saya dan Dia.

Cium pika-piki, lalu – apalagi? Saya berusaha tertawa, Dia tampak mencoba tertawa pula. “Jadi, ini benar pertemuan kita?” desah Saya. Dia mencetus, “ya, seperti katamu, pertemuan adalah keindahan…”

Terdengar jerit simpanse, lenguh gajah, juga aum harimau. Saya berusaha mengingat-ingat, di mana awal Saya dan Dia bertemu. Saya hanya mengingat bibirnya yang membentuk senyuman.

Jadi tolonglah, siapa bisa tunjukkan, teks yang bicara tentang bibir membentuk senyuman. Barangkali, saking langkanya bibir macam itu, Dia tergolong makhluk yang terlahir dari satu teks pertunjukan teater.

Saya sebenarnya telah mencoba mereka-reka teks untuk monolog saya, tentang bibir, tapi jadinya yang menceplos malah bibir dower, manyun lagi! – maklum monolog saya bersifat komedi, campur sedikit tragedi.

Beberapa kali Saya berusaha mau mengontak Halim HD, net worker yang tinggal di Solo. Sebabnya setiap saya mengingat-ingat awal pertemuan Saya dan Dia, yang terbayang suasana di Taman Budaya Surakarta (TBS).

Selalu Saya menggagalkan diri menelepon Halim, sebab Saya malu, nanti dikira Saya ada macam-macam dengan gadis Surakarta Hadiningrat – padahal Saya kan orang asli Tegal yang terkenal ngapak-ngapak dan wartegnya.

Beberapa kali Saya juga mau mengontak Afrizal Malna atau Boedi S Otong. Sebab bayangan suasana TBS dengan Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta tumpang-tindih. Selalu pula Saya pending, sebab mereka lagi di Jerman – bisa boros pulsa kan, lagian mana ada jaringan?

Ya, setiap Saya melihat wajah dengan bibir menyenyum itu, Saya jadi ingat pertunjukan Teater Sae beberapa tahun lalu. “Biografi Yanti 12 Menit” – itu judul pertunjukan yang disutradarai Boedi S Otong, dengan teks Afrizal Malna.

Dua kali – memang – Saya menyaksikan “Yanti…”, di TIM dan di TBS.
Apakah Dia Yanti, dan Saya Yanto? – batin Saya, hapal satu dialog dalam “Yanti…” Ah, sudahlah, biarin waktu berjalan serutin jarum jam.
Dia lantas duduk di trap.

Saya mau menjejeri, tapi agak sungkan juga. Jadi Saya menirukan dia tadi, menyandarkan punggung ke dinding sini, dia duduk mepet ke dinding sana berjarak kira-kira tiga meteran. Lengkung atas tidak kurang dari tiga meteran dari lantai dasar. Panjang lorong Saya taksir ada dua puluhan meter.

Saat Saya berjalan ke bagian belakang taman ini, dan menapaki trap-trap leter ‘u’, Saya mengira-ira gigir arena selebar dua puluh meteran. Sungguh teater arena yang layak untuk pementasan kolosal.

Layak, Teater RSPD Tegal yang mau pentas malam ini, akan memainkan teater dalam bentuk kolosal, berdasar babad Tegal “Martoloyo-Martopuro”. Sebagai sesama orang Tegal, Saya bermaksud ingin mengawani. Sekaligus menemani si bibir tersenyum, tentu, yang baru sekarang memang kami berkopi-darat.

“Jadi, ini lorong bawah tanah,” gumam saya, “luarbiasa…”

Mendadak Saya jadi ingat skenografi “Yanti…” rancangan Roedjito.
Sertamerta, ajaib, seting itu seperti hadir dari pertunjukan waktu, ke lorong ini. Ya, lihat, lihat skenografi Mbah Jito itu – begitu panggilan akrab beliau – telah dihadirkan oleh lorong teater…..

Layar putih menutupi dinding sekeliling penonton, juga di langit-langit. Skenografi Roedjito itu seolah hendak mengatakan bahwa, penontonlah yang perlu diberi setting. Atau dengan kata lain, penontonlah yang harus disaksikan dan orang-orang di atas panggung itulah yang justru menyaksikan.

Atau dengan kemauan Boedi S Otong, dunia penontonlah yang justru fiktif dan pertunjukan di atas panggung adalah kenyataan sehari-hari yang non fiksi. Dan keseharian itu memang tampak di atas panggung.

Ada penggorengan seterika listrik, baskom, dot bayi, sebongkah batu – nyaris digeletakkan begitu saja di atas panggung yang luas, berlayar putih tanpa level. Beberapa tali terentang di atas, dengan selampai saputangan warna merah tergantung di satu tali.

Ajaib, benda-benda itu bagai hadir di kornea lorong jarak, di retina lantai waktu. Beberapa jurus aku jadi alpa siapa Saya, ya, mendadak blank… Segera Saya gedek-gedekkan kepala Saya – macam extasy – Saya menjadi disadarkan kembali oleh esktase kenangan.

Belum ada yang muncul dari mulut lorong berundak sana. Saya tilik arloji Saya, belum jam delapan, rombongan teater juga belum tiba.


DIA tampaknya mafhum yang sedang saya pikirkan. “Ini pekan raya,” cetusnya, di taman hiburan rakyat pula… Orang lebih suka beramai-ramai melihat promosi atas nama pembangunan, ketimbang nonton teater.”

“Taman hiburan rakyat di hutan kota,” gumam Saya.

“Jangan lupa di hutan kota ini juga ada kebun binatang,” tukas Dia.
Kembali terdengar jerit simpanse, lenguh gajah, aum harimau. Sesaat kemudian Dia bertanya, “kamu dengar suara binatang itu..?”

“Ya..?”
“Itu adalah suara saksi…”
“Saksi?”

Dia menghela serangkum napas, sejurus menatap saya dengan pandang senyumnya, kemudian Dia bertutur.

“Teater arena ini pernah dijadikan pentas tertutup. Karena para pemainnya bugil bulat, dan, semuanya wanita. Satu-satunya busana, hanya saputangan merah yang diikatkan di leher macam duk. Penontonnya angkatan bersenjata, regu penembak, dan mata-mata. Ada adegan joged, kekerasan, pemerkosaan. Permainannya realis, nyata, keseharian, dan penonton bebas masuk ke dalam pertunjukan. Bagi pemain yang memberontak akan segera dihadapkan pada regu tembak, di lorong ini.”


BEBERAPA saat kami terdiam. Pandangan Saya terpaku ke mulut lorong. Kemudian seraya menghela serangkum napas, Saya menolehinya, sedari tadi dia tertunduk bisu.

Ah, mirip benar Dia dengan Yanti dalam pertunjukan Teater Sae. Sungguhkah kamu Yanti, dan benarkah Aku Yanto..? gumam Saya. Tapi Yanti yang mana? Sebab ada beberapa Yanti dalam lakon “Yanti…”

Ah, kembali gambaran nyata lakon itu hadir di lorong yang berubah menjadi skeno Mbah Jito.

Seorang Yanti membuat gerakan ritmis dan hening, menyiramkan ember.. Yanti pembantu? Lalu di belakang, pada demarkasi layar, Yanti yang lain membuat gerakan ritmis dan hening pula.. menggapai-gapai.. kadang tersiram ember.. Yanti gila ?

Kemudian muncullah seorang Yanti yang lain, membawa tempat sampah plastik berwarna hijau, membuat gerakan aneh, mencelupkan diri ke dalamnya, lalu mengangkat tempat sampah yang telah menutupi kepala dan sebagian dada. Yanti terpenjara?

Lalu muncullah Yanti yang lain lagi, menyanyikan sebuah lagu dengan nada-nada patah.. menyepi-nyepi. ”ikan emas…..” ..Yanti kesepian?

Lalu muncul seorang Yanti yang lain lagi, memetik gitar kecil sambil mendialogkan data dengan intonasi cepat.. Yanti karier Kemudian lagi muncul Yanti yang lain lagi dengan kostum pakaian dalam, masuk ke ember sambil menyeterika..Yanti pelacur?

Belakangan, muncullah Yanti yang dalam adegan wawancara diketahui sebagai wanita berwajah dan bertubuh Asia tapi berbahasa dan beralam pikiran Jerman – diperankan oleh Anouk Soetardjo, gadis kelahiran Nganjuk yang memang dibesarkan dan hidup di Jerman. Yanti terasing?

Yanti kesepian yang dibawakan oleh Margesti dan Yanti pelacur yang diperankan Zainal Abidin Domba, memulai pergulatannya yang getir dalam narasi biografi yang membebaskan watak-watak tunggal, bahkan jenis kelamin tidak menjadi penting, karena ini memang sebuah biografi non gender.

Lalu di manakah Yanti sebagai manusia dalam biografinya? Dialog semua Yanti pada akhirnya memperkatakan :

”Namaku Yanti, seperti perempuan yang berada di bak mandi itu, dan kalau anda menjumpai saya di jalan, supermarket, di kantor, sadarilah bahwa saya Yanti yang pernah berdiam selama 12 menit di dalam diri anda.

”Benarkah keberadaan Yanti adalah kegentingan selama 12 menit, dan selebihnya adalah senjata?”

Adegan terakhir para Yanti bersenjata makin tampak nyata di depan mata Saya, sungguh seperti berdarah-daging. Anehnya, musik yang mestinya garapan Tony Prabowo, yang terdengar justru suara kanak-kanak menyanyikan lagu dengan kata-kata tunggal yang diulang-ulang mirip senggakan lagu sing-singso: reformasi..reformasii..reformasiii……
Anehnya lagi, Si Dia seperti tampak tidak mempedulikan adegan nyata itu, Dia masih tetap tertunduk.

Rombongan Teater RSPD belum datang juga. Jam berapa sekarang, hari apa, bulan apa, tahun berapa..?

Saya mendadak kena virus bingung, sekaligus penyakit menular tak tega melihat diam tunduknya Si Dia. Diam-diam Saya melangkah ke mulut lorong, menapaki undak-undakan ke atas. Tapi di atas, yang Saya lihat penontonnya semua angkatan bersenjata.

Bisa gawat kalau Teater RSPD tidak datang, dan pertunjukan utama jadi gagal.

Cergas Saya kembali menuruni undak-undakan, dan Saya jadi terpana. Saya lihat tidak ada lagi pertunjukan “Yanti…”, tapi skenografi Mbah Jito masih terpampang. Lengkap dengan saputangan merah itu.

Dan Saya lihat Dia bagai Yanti memainkan adegan dengan gerak ritmis, dan, bugil bulat! Suaranya terdengar seperti nyanyi sunyi Yanti Anouk Sutardjo tentang ikan emas, tapi yang terucap: “ikan busuk..dari kepala…”

Lalu nyanyian kanak-kanak itu…
Terbawa oleh magnit teater dalam kumparan posmo, saya tergerak masuk ke dalam permainannya, memainkan monolog “Kursi” saya.
“Aku Yanti, apakah kamu Yanto..?”
“Ya, aku Yanto, tapi kamu Yanti yang mana?”
“Aku Yanti Entah…”

Mendadak dari arah belakang sosok Yanti Entah, muncul sosok-sosok regu penembak, mengarahkan senjata.

Terdengar suara tembakan gencar, tubuh Yanti tertegak, menyeru kepada Saya, “lawan!” lalu rubuh. Selampai saputangan merah itu terjatuh, tepat di dada Yanti. Lampu mendadak padam, kemudian Saya tidak ingat apa-apa lagi.

Lagu kanak-kanak selalu terdengar menyepi-nyepi jiwa…
Jerit simpanse, lenguh gajah, aum harimau..terdengar selalu meluluh jauh…


SAYUP-SAYUP lagu kanak-kanak itu terdengar seperti bisikan di telinga Saya. Pelan-pelan Saya tersadar, dan pertama yang Saya lihat adalah matahari bulat bundar. Ah, bukan, bukan matahari, tapi ternyata itu lobang di atas Saya. Ada di mana Saya. Saya mencoba bergerak, berusaha mengingat-ingat.

Ah, ya, sore itu Saya baru membesuk seorang teman di rumah sakit, karena luka-luka setelah melakukan unjuk rasa yang berubah menjadi kerusuhan. Saya berjalan ke arah belakang Taman budaya. yang memang terletak tidak jauh di belakang rumah sakit.

Sore mulai menggelap, Saya melompati buhul, yang akan sampai di teater arena di bagian belakang Taman budaya. Taman budaya yang dibangun di Taman Hiburan Rakyat, setelah kebun binatang dipindah, dan sebagian besar hutan kotanya terpapras, untuk pembangunan gedung pertemuan dan perkantoran. Belakangan, separo taman budaya itu disewa pihak swasta untuk taman rekreasi.

Saya berjalan di area yang seingat Saya letak teater arena itu. Tidak ada lampu, dan tiba-tiba Saya terperosok dalam..!

Jadi, saya pingsan, dan mimpi itu, mimpi itu… Sungguh seperti rekaman kenangan yang bangkit nyata. Badan Saya terasa ngilu, Saya berusaha merambat ke arah lobang, hingga Saya muncul ke permukaan tanah. Saya pun berdiri, dan Saya lihat ke sekeliling, teater arena itu telah rata tanah. Bongkahan tanah bercampur urugan bekas bangunan.

Saya berjalan terperosok-perosok selutut ke arah taman budaya. Tentu, tak ada lagi jeritan simpanse, lenguh gajah, atau aum harimau. Yang ada teriakan-teriakan anak-anak muda sedang melakukan performance menentang penggusuran taman budaya yang akan dibangun mall.

Matahari sangat terik. Saya merogoh kantong celana untuk mengambil tisu yang biasa Saya bawa, karena Saya mudah berkeringat di kening dan di leher.

Ternyata yang terambil bukan tisu, tapi saputangan. Warnanya, merah..!***

Eko Tunas
Latest posts by Eko Tunas (see all)

Pos terkait