Lima hari setelah menikah, ada tradisi lama yang diam-diam menjaga keseimbangan rumah tangga.
BARISAN.CO – Dalam khazanah budaya Jawa, pernikahan tidak berhenti pada akad dan resepsi semata. Ada rangkaian tradisi lanjutan yang sarat makna, salah satunya adalah tradisi sepasar manten. Tradisi ini masih dijumpai di sejumlah wilayah pedesaan di Jawa Tengah, termasuk di Kabupaten Blora.
Melalui tradisi ini, pasangan pengantin tidak hanya merayakan kebersamaan, tetapi juga memperkenalkan diri secara lebih luas kepada keluarga dan lingkungan sekitar.
Pertanyaan yang kerap muncul dari generasi muda adalah sepasar berapa hari sebenarnya? Dalam hitungan kalender Jawa, sepasar berarti lima hari.
Siklus ini merujuk pada pertemuan kembali hari pasaran Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Maka, tradisi sepasar manten dilaksanakan lima hari setelah akad nikah atau resepsi pernikahan.
Makna Sepasar dalam Tradisi Jawa
Secara tradisional, sepasaran adalah penanda waktu yang dianggap cukup untuk menenangkan batin, menata kembali energi, sekaligus menandai fase baru kehidupan.
Dalam konteks pernikahan, sepasar menjadi simbol masa transisi dari kehidupan lajang menuju kehidupan rumah tangga yang utuh.
Dalam beberapa tradisi lisan Jawa, disebutkan bahwa selama lima hari pertama setelah menikah, pengantin khususnya mempelai perempuan belum sepenuhnya diperkenankan beraktivitas bebas atau berpindah tempat.
Setelah memasuki hari kelima, barulah pasangan dianggap “lengkap” secara sosial dan kultural. Di sinilah tradisi sepasar manten dijalankan.
Pada praktiknya, sepasaran manten sering dimaknai sebagai waktu ketika mempelai perempuan secara resmi diperkenalkan atau dibawa ke rumah keluarga mempelai laki-laki.
Momentum ini menjadi ajang pertemuan kembali kedua keluarga besar setelah rangkaian pernikahan yang melelahkan.
Di beberapa daerah, terdapat pula tradisi lanjutan yang disebut telung dinanan (tiga harian), yakni selamatan kecil yang dilakukan tiga hari setelah pernikahan. Namun, sepasaran tetap dianggap lebih utama karena menyangkut hitungan pasaran Jawa.
Apakah Sepasar Manten Wajib Dilaksanakan?
Secara adat, tradisi sepasar manten tidak bersifat wajib. Pelaksanaannya sangat bergantung pada kesepakatan keluarga dan kondisi sosial-ekonomi.
Dalam beberapa komunitas, tradisi ini bahkan ditiadakan jika pasangan masih memiliki adik yang belum menikah, sebagai bentuk etika adat agar tidak “mendahului rezeki” saudara.
Perlu diluruskan pula bahwa istilah sepasaran juga dikenal dalam tradisi kelahiran bayi, yaitu selamatan ketika bayi berusia lima hari.
Meski istilahnya sama, konteks sepasaran bayi dan sepasaran manten jelas berbeda. Keduanya sama-sama merujuk pada siklus lima hari, namun memiliki makna dan prosesi yang berlainan.









