“Kemanusiaan adalah untuk semua. Sayung adalah milik kita. Budaya adalah keindahan manusia,” ucapnya.
Ia menambahkan, “Ketika kemanusiaan tercabik dan terbagi tak merata, maka budaya akan bersuara. Seperti teriakan Sayung untuk memekaki mereka yang telah bebal telinga.”
Pegiat Suluh Ar-Rosyid, Lukni Maulana, menyebut narasi sebagai kekuatan utama dalam acara ini.
Menurutnya, Lentera Cerita akan menjadi jembatan yang menghubungkan desa dengan dunia luar.
“Melalui dokumentasi, pelibatan media, dan publikasi di berbagai kanal, cerita dari Timbulsloko bisa menjangkau lebih luas. Ini bukan sekadar tentang angka kerusakan, tetapi tentang manusia dan kehidupan yang perlahan hilang,” tegasnya. []