Scroll untuk baca artikel
Edukasi

Enggan Berkorban, Tanda Orang Tidak Mencintai Pekerjaannya?

Redaksi
×

Enggan Berkorban, Tanda Orang Tidak Mencintai Pekerjaannya?

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Tanpa adanya pengorbanan, maka itu bukan cinta. Banyak orang yang keliru dalam memahami arti cinta yang sebenarnya, mereka menganggap bara cinta itu takkan pernah padam, meski tanpa adanya pengorbanan dari salah satu pihak. Sehingga, di saat itu, pihak lain akan cenderung merasa kelelahan dan menganggap bahwa hal yang ia korbankan hanya sia-sia.

Dalam hubungan apa pun, take and give itu seharusnya berjalan dengan seimbang. Hal itu agar tidak ada yang merasa sangat dirugikan atau diuntungkan.

Sebagai makhluk sosial, tentunya kita mengharapkan adanya mutualisme. Termasuk dalam urusan pekerjaan. Sebab, seperti yang dikatakan oleh visioner Simon Sinek, jika mempekerjakan seseorang hanya karena mereka dapat bekerja, dia hanya akan bekerja demi uang Anda. Artinya, dia tak ingin berkorban, meski itu hanya waktu dan tenaga apalagi keringat, air mata, dan juga darah. Jangan berharap!

Kita tentu sering kali melihat di sekitar, beberapa karyawan yang hanya ingin pulang tepat waktu dan setelah itu mengharapkan gaji masuk ke rekeningnya. Itu memang lumrah. Namun, apakah pola pikir mereka harus selalu seperti itu?

Contohnya saat seseorang diminta membelikan barang untuk keperluan kantor, tetapi tidak di-reimburse karena nominalnya terlalu kecil. Apabila karyawan itu tidak mencintai pekerjaannya, dia akan mengeluh dan menjadikan kasus tersebut sebagai pelajaran untuk tidak lagi menerima perintah membeli barang.

Namun, apabila dia mencintai pekerjaannya, maka dia akan mengikhlaskan dan menganggap itu hanya uang kecil sedangkan tempatnya bekerja pun telah banyak membantunya selama ini.

Perlu diingat bahwa saat manusia kehilangan sesuatu, maka ia akan mendapat pembelajaran, tumbuh, serta kemampuan untuk bertahan. Dalam ruang lingkup pekerjaan, ketika karyawan berkorban bersama-sama untuk tujuan yang lebih besar lagi, rasa persahabatan dan kekeluargaan akan tercipta didalamnya.

Berkorban juga berorientasi dengan disiplin. Ketika karyawan diberi kepercayaan mengerjakan tugas tertentu, ia akan menjaganya sehingga rasa hormat dan menghargai sesama akan muncul beriringan.

Selain itu, mengutip Choose People, berikut ini bagian-bagian penting dapat membuat pengorbanan dapat berjalan dengan baik. Pertama, setiap orang dalam organisasi perlu berkorban. Bahkan, meski ada satu orang dalam tim dimanjakan atau dibebaskan dari tugas bersama, pengorbanan anggota tim yang lain akan menghasilkan kebencian.

Selanjutnya, yang kedua, visi perusahaan haruslah menarik dan menginspirasi agar karyawan terdorong untuk berupaya semaksimal mungkin.

Ketiga, saat perusahaan meminta karyawannya berkorban, perlu dijelaskan alasan mereka harus melakukannya. Hal ini agar karyawan mencari cara sekecil apa pun untuk berkontribusi bagi perusahaan.

Kemudian, yang keempat, saat perusahaan mengalami krisis, mungkin karyawan akan dihadapkan dengan pengurangan gaji untuk menekan biaya. Akan tetapi, perusahaan perlu memastikan jangka waktu yang pasti dan tidak boleh terlalu lama agar karyawan mau bertahan.

Pengorbanan karyawan juga harus menjadi perbedaan yang nyata. Hal ini agar dapat masuk dalam sejarah positif perusahaan dalam cerita yang akan dibagikan dengan penuh semangat dengan karyawan baru kelak bahwa keringat dan air mata karyawan terdahulu menjadi salah satu kunci keberhasilan perusahaan saat ini.

Selain itu, meminta karyawan untuk berkorban bukan hal mudah. Sehingga perlu dipastikan langkah-langkah untuk mencapai budaya perusahaan yang lebih kuat daripada membawanya ke dalam kebencian dan rasa frustasi terhadap perusahaan. [rif]