DI DESA yang terpencil, namun kini sudah memiliki nama besar karena ketenaran sang maestro yang merambah dunia politik dan ekonomi. Namun bukan lagi desa, sudah berganti nama menjadi kota yang berpendidikan, kota yang memberikan kesejukan dalam berpikir. Kota yang akan mengantar manusia-manusia bodoh menjadi pintar. Kota yang akan mengantar seseorang meraih cita-citanya.
Terlihat seorang anak muda termenung sendiri di teras masjid. Dilihat dari postur tubuhnya memang kecil, namun wajahnya begitu bercahaya. Mungkin karena air wudhu telah membasahi mukanya dan kemilau cahaya surga bersemayam pada kerelaan untuk sujud di hadapan sang maha kuasa.
Begitu mempesona, jikalau ada seorang wanita melihatnya maka ia akan terpana memandangnya dan tak akan berdaya akan ketampanannya. Meski tubuhnya kecil tapi kecerdasannya juga sebanding dengan ketampanannya.
Ia hanya satu dari laki-laki yang ingin meraih kebahagiaan dari seribu kenikmatan dunia. Namun terlihat dia hanya diam seribu bahasa, bahkan ia memandang langit dan bercengkerama dengan sang awan biru. Sesekali tengok kanan kiri, meratapi semua keluh kesah dunia. Apa yang ada dibenaknya belum terjawab.
Ia tatap air yang mengalir dari kran di tempat perwudhuan, airnya begitu jernih. Kejernihan melebihi air yang telah banyak menghanyutkan rumah-rumah di sekitar daerah aliran banjir. Sepertinya jika air banjir berwarna kecoklatan, karena ia membawa lumpur. Di tempat perwudhuan ini air itu menghangatkan dan bahkan mensejukan. Begitu pula air yang membuat orang rela mengeluarkan satu rupiah hanya untuk seteguk minuman.
”Inilah kehidupan ada dua sisi yang berbeda dan semuanya itu ada tanda-tanda bagi mereka yang mau berfikir,” mulutnya mengeluarkan isyarat.
Langitpun juga begitu jika tidak mendung, awan akan berwarna biru keputih-putihan. Jika mendung datang akan menjadi hitam kegelapan. Baik buruk juga terjadi hubungan timbal balik. Inilah kehidupan ada dua sisi yang selalu bersandingan.
Namun desa kecil ini, kini telah menjadi ramai. Namun sekarang sudah kembali sepi “ada apa di balik kisah taman yang mengajarkan kedewasaan berfikir ini.”
Kota ini adalah kota yang memiliki nilai peradaban tinggi.
“Pesantren dan sekolah telah merubah nasibnya, dulu banyak yang giat untuk mencari ilmu pengetahuan dibidang skill dan agama.”
Desa ini telah menjadi kota yang berwibawa dengan tingkat perkembangan barang dan jasa.
“Pesantren dan sekolah memikul beban berat karena dunia pendidikan semakin banyak tuntutan, bagaimana nasibnya besok. Jika para pembesarmu terlena dengan kehidupan yang tidak nyata.”
Kota yang berperadaban yang telah banyak melahirakan ilmuwan dan para cendikiawan serta para ahli dakwah.
“Majlis kebijakan dan hikmah kini lenyap ditengah medan perang. Ia kalah dengan serangan modern dengan anak turunya berupa kesenangan dunia.”
Segudang cita-cita dan harapan ada di daerah kecil ini, sebab desa ini telah banyak berjasa baik di bidang ekonomi maupun politik.
“Desa ini ingin bernyanyi di masjid kasih dan sayang, namun tidak dapat ditemui lantunan sholawat sulthon dan ayat-ayat suci. Hanya yang terdenggar dengkuran suara untuk merayu kehinaan menuju lembah demokrasi.”
Pertanyaan demi pertanyaan yang tersurat maupun yang tersirat telah dikemas apik oleh pemuda tersebut. Dari mulutnya sudah mulai keluar kata demi kata, sepatah kata dua kata dan analisis perkalimat dan anti tesis setiap paragrafnya. Pertanyaannya begitu ringan, namun itu hanya keluh kesahnya yang ia tumpahkan dari lamunannya di teras masjid.
Pemuda itu meningalkan masjid yang memberikan pencerahan hati. Kakinya melangkah pelan namun sangat pasti. Tubuhnya tegap seperti Bima yang membawa gada. Siap untuk jihad dijalan kemenangan demi Allah ia akan menjawab pertanyaanya sendiri.
Dunia telah masuk babak baru. Dejavu, sejarah tetap akan terulang kembali namun dengan versi yang berbeda. Layaknya sebuah drama yang mengikuti perkembangan zaman dengan relasi bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sejarah itu telah muncul di bilik-bilik pesantren dan pendidikan, syubhat iblis dan setan telah masuk ke dunia pesantren dan lorong-lorong pendidikan. Iblis memang tidak pandang bulu, baik itu seorang kiai, alim ulama ataupun orang dermawan, bahkan ilmuwan maupun para cendekiawan bahkan orang bodoh sekalipun.
Iblis memang tidak ingin mengakui kalau kita adalah sang pemimpin umat. Namun kenapa padahal Allah sudah jelas-jelas lebih mengetahui. Apa karena kesombonganya dan keangkuhannya iblis berani menentang Tuhan yang telah menciptakannya. Tidak, karena kemuliaan dan materilasime sempit telah sampai ke surga.
Iblis merasa sombang bahwa ia lebih baik dari manusia, karena ia tercipta dari api sedangkan manusia hanya tercipta dari tanah. Memang diakui jika api membakar tanah maka tanah akan menjadi batu yang mudah dihancurkan.
Inilah episode kekuasaan zaman jahiliah. Semoga guru dan yang telah mengajarkan aku satu ilmu tidak merasa angkuh dan takabur atas kelebihannya. Semoga juga guruku tahu, tidak hanya dia yang akan masuk surga, namun barang siapa mati dengan keadaan Islam dan beriman pasti Allah akan menerima di sisi-Nya.
Ini memang drama klasik. Yang di pertontonkan dengan gaya unik. Banyak orang bertasbih dan bermunajat demi cinta, namun hanya untuk mengharap satu kekuasaan dunia. Bukan kekuasaan yang membawa diri untuk mendekat kepada sang khalik.
Ini bukan roman picisan yang dibuat-buat hanya untuk kepentingan sesaat, namun ini hanya kisah baru yang di bumbui dengan aroma kepuasan. Banyak manusia mengorbankan hartanya bukan untuk di jalan Allah namun hanya untuk berkampanye dengan dalih sedekah.
Terima kasih iblis engkau telah berkorban demi keangkuhanmu. Dengan keangkuhanmu itu kami akhirnya dapat turun ke dunia melalui kakek moyang kami Nabi Adam, karena bujuk rayumu untuk memakan buah kuldi. Inilah tanda-tanda bagi mereka yang mepunyai akal pikir. Seandainya Adam tidak turun ke dunia mungkin kisah akan menjadi lain. Dan semua hanya Allah yang mengetahui sekenario dunia.
Namun aku tetap berterima kasih kepada iblis, seyogyanya, jika waktu itu iblis bertaubat. Tentu kejadian di dunia akan lain. Tidak ada yang akan mengangu manusia untuk beribadah. Siapa lagi kalau bukan setan, kita menyaksikan antara kebaikan dan keburukan, karena adanya sang iblis. Malaikat yang ada di kanan kiri kita, juga akan mendapatkan tugas sebagaimana mestinya, tidak hanya berzikir semata.
Terima kasih iblis karena engkau telah mengkorbankan dirimu, hanya untuk manusia lugu yang tidak punya malu. Yang hanya mengejar kenikmatan dunia. Harta ditumpuk serta dihamburkan tidak berguna. Hidup berfoya-foya karena musik kejahiliahan melanda otak pikirannya.
Terima kasih iblis engkau juga telah turun kedunia untuk bersaing menjadi khalifah di muka bumi ini. Namun kepemimpinanmu membuat rakyat sengsara. Kekuasaan jadi rebutan dan kursi jabatan menjadi incaran serta kepuasan jadi jargon kehidupan.
Hai…iblis engkau telah bersemayam di hati para pemimpin-pemimpinku baik dari golongan para ulama maupun keturunan pebisnis hingga keturunan ningrat.
“Namun aku berpesan padamu, ada pedang yang tidak bisa berkarat.”
Pemuda itu telah sampai di kamarnya. Ia rebahkan tubuhnya di lantai, matanya merayu mimpi untuk kembali menjalani hidup yang berarti. Dan desa terpencil ini, kini semakin terkucilkan.
Dan aku menjadi bagian tarian sang Iblis yang tidak peduli arti kebahagiaan. Barangkali ingin balas dendam. Sebab sujud atas nama kehormatan dan penguasaan ilmu pengetahuan.
