Scroll untuk baca artikel
Ragam

Uang Tunai Makin Jarang Dipakai, Transaksi QRIS Tembus Rp1,12 Kuadriliun di Semester I 2026

×

Uang Tunai Makin Jarang Dipakai, Transaksi QRIS Tembus Rp1,12 Kuadriliun di Semester I 2026

Sebarkan artikel ini
transaksi qris 2026
Ilustrasi

Transaksi QRIS mencapai Rp1,12 kuadriliun pada semester I 2026, mencerminkan semakin kuatnya pergeseran pembayaran menuju sistem digital.

BARISAN.CO – Masyarakat Indonesia semakin sering meninggalkan uang tunai dalam aktivitas pembayaran sehari-hari. Perubahan tersebut terlihat dari lonjakan transaksi Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS sepanjang semester pertama 2026.

Bank Indonesia mencatat nilai transaksi QRIS mencapai Rp1,12 kuadriliun selama semester I 2026. Angka tersebut berasal dari 12,55 miliar transaksi yang berlangsung melalui QRIS.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan perubahan signifikan dalam perilaku pembayaran masyarakat Indonesia. Konsumen kini semakin mengandalkan ponsel untuk menyelesaikan berbagai transaksi secara cepat dan praktis.

Nilai transaksi QRIS juga mencatat pertumbuhan 93,92 persen secara tahunan atau year-on-year. Pertumbuhan tersebut memperlihatkan semakin kuatnya posisi pembayaran digital dalam aktivitas ekonomi nasional.

Kenaikan transaksi tidak hanya menggambarkan perubahan perilaku konsumen. Pertumbuhan tersebut juga menunjukkan semakin luasnya penggunaan infrastruktur pembayaran digital oleh pelaku usaha.

Pengguna QRIS Terus Bertambah

Ekosistem QRIS terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap transaksi digital. Bank Indonesia mencatat 65,77 juta pengguna QRIS hingga akhir Juni 2026.

Jumlah pengguna tersebut berjalan beriringan dengan pertumbuhan merchant yang menerima pembayaran QRIS. Hingga periode yang sama, jumlah merchant QRIS mencapai 44,86 juta.

Pertumbuhan merchant membuat masyarakat semakin mudah menemukan pilihan pembayaran non-tunai. Konsumen dapat menggunakan QRIS untuk membayar berbagai kebutuhan tanpa membawa uang fisik.

Perkembangan tersebut juga memperluas akses pembayaran digital ke berbagai lapisan masyarakat. Pelaku usaha kecil kini dapat menerima pembayaran elektronik tanpa membangun sistem pembayaran sendiri.

QRIS memberikan satu standar pembayaran yang dapat digunakan melalui berbagai penyedia jasa pembayaran. Kondisi tersebut membuat transaksi digital menjadi lebih sederhana bagi konsumen dan merchant.

UMKM Menjadi Penggerak Utama

Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah memegang peran besar dalam pertumbuhan ekosistem QRIS. Data pemerintah menunjukkan UMKM mencakup 96,68 persen dari total merchant QRIS.

Angka tersebut memperlihatkan kuatnya hubungan antara digitalisasi pembayaran dan aktivitas UMKM. Pedagang kecil dapat menerima pembayaran digital tanpa membutuhkan infrastruktur perbankan yang kompleks.

Warung, pedagang kaki lima, toko kecil, dan berbagai usaha rumahan dapat memanfaatkan QRIS. Sistem tersebut membantu pelaku usaha menerima pembayaran dari konsumen yang semakin jarang membawa uang tunai.

Digitalisasi juga dapat membantu pelaku usaha mencatat arus transaksi dengan lebih terstruktur. Catatan transaksi yang lebih rapi berpotensi membantu usaha ketika membutuhkan akses layanan keuangan.

Perbankan dan lembaga keuangan dapat memanfaatkan data transaksi untuk memahami aktivitas bisnis nasabah. Namun, pelaku industri tetap perlu menjaga perlindungan data dan keamanan informasi konsumen.

Digitalisasi Mendorong Efisiensi Bisnis

Pertumbuhan pembayaran digital membawa dampak lebih luas daripada sekadar perubahan metode pembayaran. Digitalisasi dapat membantu pelaku usaha mengurangi ketergantungan terhadap pengelolaan uang tunai.

Penggunaan QRIS juga dapat mempercepat proses pembayaran pada berbagai jenis usaha. Konsumen cukup memindai kode menggunakan aplikasi pembayaran yang mendukung layanan tersebut.

Kecepatan transaksi dapat membantu merchant meningkatkan efisiensi operasional. Pelaku usaha juga dapat mengurangi kebutuhan menyediakan uang kembalian dalam transaksi sehari-hari.

Konektivitas digital turut membuka peluang bagi UMKM untuk menjangkau konsumen lebih luas. Pelaku usaha dapat mengintegrasikan pembayaran digital dengan strategi penjualan berbasis teknologi.

Analis Kebijakan Ahli Utama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Rizal Edwin menyoroti dampak lebih luas digitalisasi. Menurutnya, konektivitas digital dapat mendorong produktivitas, perdagangan, investasi, dan inklusi ekonomi.

QRIS Memperkuat Inklusi Keuangan

Pertumbuhan QRIS juga berkaitan erat dengan agenda inklusi keuangan Indonesia. Sistem pembayaran digital membuka akses transaksi formal bagi pelaku usaha yang sebelumnya mengandalkan uang tunai.

Merchant dapat menerima pembayaran melalui berbagai aplikasi pembayaran tanpa menyediakan banyak metode berbeda. Kondisi tersebut membuat sistem pembayaran semakin mudah digunakan oleh masyarakat.

Digitalisasi transaksi juga membantu membangun ekosistem ekonomi yang semakin terhubung. Pelaku usaha dapat berinteraksi dengan konsumen melalui sistem pembayaran yang lebih terstandar.

Namun, pertumbuhan transaksi digital tetap membutuhkan dukungan literasi keuangan. Masyarakat perlu memahami keamanan akun, perlindungan data, dan risiko penipuan digital.

Penyedia layanan pembayaran juga perlu memperkuat sistem keamanan transaksi. Perlindungan konsumen menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan terhadap ekosistem pembayaran digital.

QRIS Mulai Menembus Transaksi Lintas Negara

Perkembangan QRIS tidak berhenti pada transaksi domestik. Bank Indonesia juga mengembangkan QRIS Antarnegara untuk mendukung pembayaran lintas batas.

Layanan tersebut memungkinkan pengguna melakukan pembayaran menggunakan QRIS pada sejumlah negara mitra. Indonesia telah mengembangkan konektivitas pembayaran dengan Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok.

Perluasan konektivitas tersebut memberikan manfaat bagi wisatawan Indonesia dan wisatawan asing. Pelancong dapat melakukan pembayaran tanpa harus selalu menggunakan uang tunai dalam mata uang lokal.

QRIS Antarnegara juga dapat membantu pelaku usaha yang melayani wisatawan asing. Merchant memperoleh peluang menerima transaksi dari konsumen internasional melalui sistem pembayaran yang lebih terintegrasi.

Pemerintah dan Bank Indonesia terus mengembangkan konektivitas pembayaran lintas negara. Perluasan tersebut dapat memperkuat integrasi ekonomi digital Indonesia dengan pasar regional.

Tantangan Keamanan Tetap Mengemuka

Pertumbuhan transaksi digital juga menghadirkan tantangan baru bagi industri keuangan. Peningkatan volume transaksi membutuhkan sistem keamanan yang mampu menghadapi berbagai modus penipuan.

Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan ketika melakukan pembayaran menggunakan QRIS. Pengguna sebaiknya memeriksa nama merchant sebelum menyelesaikan transaksi.

Pelaku usaha juga perlu menjaga perangkat dan kredensial pembayaran dari akses tidak sah. Pengamanan tersebut penting untuk mencegah penyalahgunaan akun dan informasi transaksi.

Penyedia layanan pembayaran harus terus meningkatkan teknologi deteksi transaksi mencurigakan. Sistem keamanan yang responsif dapat membantu mengurangi potensi kerugian bagi konsumen dan merchant.

Literasi digital juga harus mengikuti perkembangan ekosistem pembayaran. Masyarakat perlu memahami cara mengenali tautan palsu, penipuan, dan permintaan informasi pribadi.

Pergeseran dari Tunai Semakin Terlihat

Lonjakan transaksi QRIS menunjukkan perubahan besar dalam kebiasaan pembayaran masyarakat Indonesia. Konsumen semakin memilih metode yang menawarkan kecepatan, kemudahan, dan fleksibilitas.

Nilai transaksi sebesar Rp1,12 kuadriliun memperlihatkan skala ekonomi digital yang semakin besar. Pertumbuhan tersebut juga mencerminkan peningkatan penerimaan masyarakat terhadap pembayaran non-tunai.

Jumlah pengguna dan merchant menjadi fondasi penting bagi perkembangan ekosistem tersebut. Semakin banyak pihak yang terhubung, semakin luas pula manfaat jaringan pembayaran digital.

UMKM menjadi bagian penting dalam proses transformasi tersebut. Dominasi UMKM sebagai merchant menunjukkan bahwa digitalisasi pembayaran telah menjangkau sektor ekonomi yang sangat luas.

Ke depan, perkembangan QRIS akan bergantung pada inovasi, keamanan, dan perluasan akses. Kolaborasi antara pemerintah, bank, penyedia pembayaran, dan pelaku usaha akan menentukan perkembangan ekosistem.

Pertumbuhan transaksi QRIS pada semester I 2026 menunjukkan perubahan struktural dalam sistem pembayaran Indonesia. Masyarakat kini semakin terbiasa menyelesaikan transaksi menggunakan teknologi digital dibandingkan uang tunai.

Perubahan tersebut tidak hanya menyangkut metode pembayaran, tetapi juga memperluas konektivitas ekonomi. QRIS berpotensi terus memainkan peran penting dalam membangun ekosistem pembayaran Indonesia yang semakin digital. []