TUNAS 2020, GUSDURian Hasilkan Pandangan Menghadapi Tantangan Kehidupan Beragama, Berbangsa, dan Bernegara

  • Whatsapp
Hj. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid
Hj. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dalam Closing Ceremony Tunas 2020 Via Zoom.

BARISAN.CO – Bulan Desember adalah bulan KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Beragam kegiatan digelar untuk melanjutkan perjuangan Gus Dur. Tergabung dalam Jaringan Gusdurian menyelenggarakan Temu Nasional (TUNAS) yang dilaksanakan dari tanggal 7-16 Desember 2020.

Jaringan GUSDURian memandang akibat lemahnya pendidikan kewargaan, sampai saat ini rakyat Indonesia tidak cukup mampu mempengaruhi proses-proses politik. Alhasil, praktik politik yang terjadi lebih berorientasi kekuasaan, korup dan transaksional.

Bacaan Lainnya

Gusdurian memandang hal ini tidak sesuai dengan prinsip kepemimpinan publik yang ditekankan oleh Gus Dur: tasharruful imam ala ra’iyyah manuthun bilmaslahah, kebijakan pemimpin harus berorientasi pada kemaslahatan rakyat.

Praktik bernegara masih melanggengkan diskriminasi yang terlembagakan melalui regulasi, terutama terhadap kelompok minoritas. Menguatnya eksklusivisme beragama di ranah masyarakat dan aparatur negara. Terutama di dunia pendidikan, menyebabkan maraknya praktik intoleransi dan konflik sosial berbasis sentimen keagamaan.

Demokrasi yang dikuasai kelompok oligarki mengakibatkan penegakan hukum dan HAM yang berlangsung di Indonesia seolah tumpul di hadapan kelompok oligarkh, dan runcing bagi kelompok rakyat lemah.

Politik Hukum yang terjadi akhir-akhir ini, sebagaimana penyusunan UU Minerba dan UU Cipta Kerja, mencerminkan pembuat kebijakan lebih pro investasi dan pemilik modal serta mengabaikan hak-hak rakyat.

Ranah HAM, masih terjadi berbagai pelanggaran seperti diskriminasi dan rasisme yang disertai aksi kekerasan antarkelompok masyarakat maupun oleh aparat keamanan, pelanggaran hak kebebasan beragama/berkeyakinan.

Perampasan tanah untuk pembangunan infrastruktur, serta masih lemahnya perlindungan hak bagi kelompok rentan: perempuan, penyandang disabilitas, dan buruh migran.

Sementara itu, ranah sosial keagamaan, tumbuh eksklusivisme beragama disertai tindakan menyalahkan, mengkafirkan, membid’ahkan, dan menyesatkan kelompok yang berbeda.

Keberagamaan mengedepankan pandangan yang legalis-formalistik yang justru memperkuat konflik identitas, dan agama dipertentangkan dengan budaya lokal.

Hal ini diperparah hadirnya kelompok-kelompok agama yang memaksakan kehendaknya, dan semakin berani menarasikan agama dengan pesan kebencian, mengambil media sosial sebagai medan pertarungan, dan marak gerakan-gerakan jalanan.

Pandemi Covid-19, situasi ekonomi nasional menghadapi tantangan naiknya jumlah pengangguran hingga 2,67 juta. Berbagai jenis usaha mengalami penurunan yang sangat drastis.

Pos terkait