Scroll untuk baca artikel
Ragam

Mengenal Quiet Thriving, Tren Pola Hidup Modern untuk Menjaga Kesehatan Mental di Dunia Kerja

×

Mengenal Quiet Thriving, Tren Pola Hidup Modern untuk Menjaga Kesehatan Mental di Dunia Kerja

Sebarkan artikel ini
Karyawan kantor tersenyum menerapkan konsep quiet thriving dalam hubungan kerja
Ilustrasi

Menjadi jawaban atas fenomena burnout massal, tren quiet thriving mengajak para profesional modern mengambil kendali atas kesehatan mental dan hubungan kerja mereka tanpa harus gegabah meninggalkan karier.

BARISAN.CO – Tekanan pekerjaan dan hubungan kerja toksik semakin sering memengaruhi kesehatan mental masyarakat urban. Kondisi tersebut dapat memicu kelelahan fisik, kehilangan motivasi, hingga burnout dalam jangka panjang.

Fenomena tersebut kemudian mendorong pekerja mencari cara baru untuk menjaga keseimbangan kehidupan profesional. Salah satu pendekatan yang kini menarik perhatian ialah Quiet Thriving.

Quiet Thriving menggambarkan upaya sadar pekerja untuk meningkatkan kesejahteraan tanpa harus meninggalkan pekerjaannya. Seseorang dapat mengubah pola pikir, batasan, dan interaksi sosial selama tetap menjalankan tanggung jawab profesional.

Tren ini berbeda dengan quiet quitting yang menekankan pembatasan keterlibatan dalam pekerjaan. Quiet Thriving justru mengajak pekerja menemukan kembali energi, makna, dan kepuasan dari aktivitas profesional.

Pekerja tidak harus menunggu perusahaan mengubah kebijakan untuk merasa lebih bahagia. Mereka dapat mengambil langkah sederhana untuk mengendalikan respons terhadap tekanan pekerjaan.

Pendekatan tersebut menempatkan kesehatan mental sebagai bagian penting dari perjalanan karier. Pekerja dapat membangun lingkungan kerja yang lebih sehat melalui keputusan sehari-hari.

Dunia kerja modern memang menuntut kemampuan teknis sekaligus ketahanan psikologis. Karena itu, kemampuan mengelola stres menjadi salah satu keterampilan penting bagi pekerja masa kini.

Quiet Thriving tidak berarti mengabaikan target atau tanggung jawab pekerjaan. Sebaliknya, pendekatan ini membantu seseorang bekerja dengan cara yang lebih sehat dan berkelanjutan.

7 Strategi Menjalankan Quiet Thriving agar Karier Lebih Bahagia

Langkah pertama dalam Quiet Thriving ialah menetapkan batasan yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Pekerja dapat menolak tugas tambahan secara sopan ketika tugas tersebut mengganggu waktu istirahat.

Batasan membantu seseorang menghindari kebiasaan selalu tersedia bagi pekerjaan. Kebiasaan tersebut juga memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk memulihkan energi.

Pekerja dapat mulai menentukan waktu berhenti bekerja secara konsisten. Setelah waktu tersebut berakhir, hindari memeriksa pesan pekerjaan jika situasinya tidak mendesak.

Strategi berikutnya ialah membangun workplace green flags bersama rekan kerja yang suportif. Hubungan positif dapat menciptakan rasa aman ketika seseorang menghadapi tekanan pekerjaan.

Pekerja tidak harus mengikuti semua dinamika sosial dalam lingkungan kantor. Pilih hubungan profesional yang memberikan energi positif dan mengurangi tekanan emosional.

Lingkungan kerja yang sehat juga membantu seseorang merasa lebih terhubung dengan pekerjaannya. Dukungan sederhana dari rekan kerja dapat membuat aktivitas profesional terasa lebih ringan.

Strategi ketiga ialah melakukan job crafting atau menata ulang cara menjalankan pekerjaan. Pekerja dapat mengarahkan lebih banyak energi pada tugas yang sesuai dengan minat dan keahliannya.

Cara tersebut membantu seseorang menemukan kembali ketertarikan terhadap pekerjaan. Pekerja juga dapat berdiskusi dengan atasan mengenai peluang mengembangkan peran sesuai kompetensi.

Strategi keempat ialah menjadwalkan digital detox singkat selama jam kerja. Pekerja dapat mengambil jeda lima hingga sepuluh menit dari layar dan notifikasi.

Gunakan waktu tersebut untuk melakukan peregangan, berjalan sebentar, atau menarik napas secara perlahan. Jeda sederhana dapat membantu seseorang mengurangi ketegangan setelah menghadapi pekerjaan secara intensif.

Pekerja juga perlu menemukan makna baru dalam pekerjaan yang mereka jalani. Jangan menjadikan jabatan atau penghasilan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan hidup.

Pekerjaan dapat menjadi sarana untuk mendukung tujuan pribadi di luar kantor. Penghasilan tersebut dapat membantu membiayai hobi, pendidikan, keluarga, perjalanan, atau rencana masa depan.

Cara pandang tersebut membantu seseorang memisahkan identitas pribadi dari pekerjaan. Ketika pekerjaan mengalami masalah, seseorang tidak langsung menganggap dirinya gagal.

Strategi berikutnya ialah mencari mentor internal yang suportif. Mentor dapat membantu pekerja melihat peluang karier dengan perspektif yang lebih objektif.

Pilih senior atau atasan yang mampu memberikan masukan tanpa memperkeruh dinamika internal. Hubungan tersebut dapat membantu pekerja mengambil keputusan karier secara lebih matang.

Mentor juga dapat memberikan perspektif ketika seseorang menghadapi konflik atau kebingungan profesional. Dukungan tersebut membuat pekerja tidak menghadapi tekanan karier seorang diri.

Strategi terakhir ialah mengapresiasi kemenangan kecil bersama rekan kerja. Pekerja dapat merayakan keberhasilan sederhana setelah menyelesaikan tugas atau menghadapi tantangan tertentu.

Apresiasi tersebut tidak harus berbentuk perayaan besar atau menghabiskan banyak biaya. Ucapan terima kasih, makan siang bersama, atau percakapan ringan sudah cukup.

Kebiasaan menghargai pencapaian membantu seseorang melihat perkembangan dalam pekerjaannya. Fokus terhadap kemajuan kecil juga dapat menjaga motivasi ketika target besar terasa berat.

Quiet Thriving pada dasarnya mengajak pekerja mengambil kembali kendali atas pengalaman profesionalnya. Seseorang dapat memilih respons yang lebih sehat ketika menghadapi tekanan dan konflik.

Namun, pendekatan ini bukan berarti pekerja harus menoleransi lingkungan kerja yang berbahaya. Situasi seperti pelecehan, diskriminasi, atau tekanan berlebihan membutuhkan dukungan dan penanganan yang tepat.

Pekerja dapat mencari bantuan dari bagian sumber daya manusia atau pihak profesional ketika menghadapi kondisi serius. Dukungan psikologis juga dapat membantu seseorang memahami kondisi mental secara lebih mendalam.

Menjalankan Quiet Thriving membutuhkan konsistensi dan kesadaran terhadap kebutuhan pribadi. Perubahan kecil yang dilakukan secara rutin dapat memberikan dampak positif terhadap pengalaman kerja.

Pekerja dapat memulainya dengan satu kebiasaan sederhana setiap hari. Misalnya, menetapkan batas waktu kerja atau mengambil jeda singkat tanpa membuka perangkat digital.

Seiring waktu, kebiasaan tersebut dapat membentuk pola kerja yang lebih seimbang. Pekerja pun memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan produktivitas tanpa mengorbankan kesehatan mental.

Pada akhirnya, Quiet Thriving bukan sekadar tren di dunia kerja modern. Konsep ini menawarkan cara bagi pekerja untuk tetap berkembang tanpa kehilangan kendali atas kehidupan pribadi.

Karier yang sehat tidak selalu membutuhkan perubahan pekerjaan secara drastis. Terkadang, perubahan cara bekerja dan memandang pekerjaan dapat memberikan dampak yang lebih berarti. []