Scroll untuk baca artikel
Nasional

Gus Kikin Tegaskan Kepengurusan PBNU 2026–2031 Mengutamakan Kebersamaan dan Regenerasi

×

Gus Kikin Tegaskan Kepengurusan PBNU 2026–2031 Mengutamakan Kebersamaan dan Regenerasi

Sebarkan artikel ini
kepengurusan PBNU 2026–2031
• Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) menegaskan inklusivitas dan semangat kebersamaan dalam susunan kepengurusan PBNU 2026–2031 saat pelantikan di Cilangkap, Jakarta Timur, Sabtu (24/10/2026).

Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) menegaskan bahwa susunan kepengurusan PBNU 2026–2031 dibentuk atas dasar semangat kebersamaan, keterwakilan wilayah, dan regenerasi antargenerasi.

BARISAN.CO, JAKARTA – Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) menegaskan kepengurusan PBNU masa khidmah 2026–2031 disusun dengan mengutamakan kebersamaan, keterwakilan wilayah, dan regenerasi. Hal itu disampaikan saat pelantikan pengurus PBNU di Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, Sabtu (24/10/2026).

“Komposisi kepengurusan yang telah disusun dengan berusaha mempertimbangkan semua aspek keterampilan, baik dari sisi kewilayahan maupun antargenerasi,” kata Gus Kikin.

Ia mengakui susunan kepengurusan tersebut masih mungkin memiliki kekurangan. Menurutnya, hal itu merupakan bagian dari keterbatasan manusia dalam menyusun struktur organisasi yang mencakup beragam kebutuhan.

Gus Kikin mengatakan, pelantikan di Pondok Pesantren Al-Hamid juga menjadi penegasan komitmen pengurus untuk menjaga tradisi pesantren sebagai akar Nahdlatul Ulama (NU).

“Prosesi pelantikan PBNU di Pesantren Al-Hamid ini, kami berharap semua ulama bersatu dan berada dalam satu SOP untuk bersama-sama membangun, agar tradisi pesantren terjaga dan keutuhan negeri yang kita cintai tetap terpelihara,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Gus Kikin turut mengutip pesan Rais Akbar NU, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, yang mengajak berbagai elemen masyarakat bergabung dalam Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Ia menilai pesan tersebut mencerminkan keterbukaan NU dalam merangkul berbagai kalangan.

“Kiai Hasyim Asy’ari mengajak semua komponen bangsa untuk bergabung ke dalam Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Ini menggambarkan inklusivitas daripada organisasi itu,” katanya.

Setelah menyampaikan sambutan, Gus Kikin membacakan Surat Keputusan Nomor 2/PB.01/A.II.01.01/99/09/2026 tentang pengesahan komposisi dan personalia PBNU masa khidmah 2026–2031.

SK tersebut memperhatikan hasil Sidang Pleno ke-4 dan Sidang Pleno ke-5 Muktamar ke-35 NU pada 30–31 Agustus 2026.

Rais Aam Pimpin Baiat Pengurus PBNU

Usai pembacaan SK, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar memimpin baiat pengurus baru masa khidmah 2026–2031. Prosesi berlangsung di atas panggung, didampingi Gus Kikin dan tujuh Wakil Ketua Umum PBNU lainnya. Sementara itu, pengurus lainnya berdiri di hadapan jajaran pimpinan untuk mengikuti ikrar.

Sebelum memulai baiat, Kiai Miftach menjelaskan bahwa prosesi tersebut merupakan ikrar spiritual untuk memperbarui dan memperkuat kesetiaan dalam menjalankan amanah organisasi.

“Yang harus kita cermati, baiat adalah inisiasi spiritual, janji setia. Baiat merupakan pembaruan, penguatan terhadap janji setia tersebut,” ujarnya.

Baiat diawali dengan pembacaan dua kalimat syahadat, kemudian dilanjutkan dengan ikrar yang diikuti seluruh pengurus PBNU.

Dalam ikrar tersebut, para pengurus menyatakan kesiapan mengamalkan dan mempertahankan Pancasila serta UUD 1945, menegakkan akidah Islam Ahlussunnah wal Jamaah, dan mematuhi AD/ART NU beserta peraturan jam’iyah.

“Kami, selaku Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 2026 sampai dengan 2031, dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, dengan ini berikrar. Pertama, siap mengamalkan dan mempertahankan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen, menegakkan akidah Islam Ahlussunnah wal Jamaah, dan patuh pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Nahdlatul Ulama serta peraturan jam’iyah Nahdlatul Ulama,” demikian ikrar yang dipandu Kiai Miftach.

Dalam kesempatan itu, Kiai Miftach juga menekankan pentingnya menerapkan nilai-nilai Qanun Asasi NU, terutama welas asih, persatuan, dan kasih sayang, dalam menjalankan amanah organisasi.

Ia mengingatkan para pengurus agar tidak mendahulukan kepentingan pribadi, terlebih NU kini memasuki abad kedua perjalanan organisasinya.

“Singkirkan kepentingan-kepentingan pribadi. Apalagi ini mengawali abad kedua kepengurusan Nahdlatul Ulama,” tuturnya seusai memimpin baiat.

Menurut Kiai Miftach, nilai-nilai tersebut perlu menjadi landasan bersama agar pengurus dapat menjalankan amanah dengan mengutamakan kepentingan jam’iyah. Persatuan dan komitmen bersama juga menjadi bagian penting dalam menjaga tradisi pesantren serta merawat keutuhan bangsa. []