Orang tua sebaiknya terus terang jika tidak punya jawaban saat anak bertanya. Tentu perlu ditindaklanjuti dengan upaya mencari tahu, kemudian menjelaskannya di lain waktu.
ORANG tua perlu menyadari bahwa jawaban pertama atas suatu pertanyaan hal baru dari anak akan menjadi informasi yang terekam lama di kepalanya. Pemberian informasi awal yang salah atau keliru akan menimbulkan kesulitan dalam perkembangan pengetahuan anak selanjutnya.
Seandainya tetap terjadi karena keteledoran ataupun tidak disengaja, maka orang tua perlu berusaha memperbaikinya secara sungguh-sungguh.
Pada usia 11 bulan, Ira, si sulung, saya beri buku tentang planet. Dia tertarik melihat satu halaman yang penuh gambar berwarna, sambil menunjuk satu gambar sambil bertanya, “Apa?” Ketika itu, saya langsung menjawab “Itu planet Mars”. Saya tidak sempat membaca keterangan di atas gambar, memang karena tulisannya berukuran kecil. Bagian gambar itu berwarna merah.
Pada kesempatan berbeda, dia bertanya kembali tentang gambar tadi. Kebetulan, saat itu saya sempat membaca keterangan gambar dan menjawab sesuai keterangan. Ternyata tertulis, “Gambar Noda Merah Besar di planet Yupiter”.
Ira menggelengkan kepalanya berulang-ulang sambil menunjuk lagi gambar tersebut. Rupanya dia protes karena jawaban tidak sama dengan informasi yang sudah dia ketahui sebelumnya.
Dengan intonasi lembut dan disampaikan beberapa kali, saya meminta maaf dan menjelaskan. “Kemarin Ummi tidak baca keterangan gambarnya. Ummi kira karena warnanya merah, gambar planet Mars, ternyata bukan.” Setelah itu tampak dia bisa menerima jawabannya.
Saat jalan-jalan sambil menyuapi, banyak benda-benda yang menarik buat Ira. Ada kejadian menarik, ketika dia berusia 2 tahun lebih sedikit, dan masih belum memiliki adik. Kami berdua duduk berjarak beberapa meter dari tiang listrik. Dia menunjuk ke bagian atas tiang listrik, “Itu apa?” Saya jawab, “Travo listrik”. Dia lanjur bertanya, “Travo listrik itu apa?”
Saya sadar tidak akan mampu menjelaskan secara baik tentang hal itu. Kebetulan tidak begitu suka pelajaran tentang listrik dan Elektro. Nyaris tidak tersisa ingatan akan pelajaran SMA dahulu.
Ketika membesarkan Ira, belum ada akses internet atau sarana pencari informasi seperti google. Semula, saya masih berusaha menjelaskan, “Di dalamnya ada kumparan untuk mengalirkan arus listrik”.
Seperti diduga, dia lanjut bertanya “Kumparan itu apa?” Saya menyadari akan ada pertanyaan lanjutan yang tidak akan bisa dijawab. Saya berkata terus terang berkata, “Ummi kurang tahu. Nanti setelah besar, Ira bisa mempelajari sendiri yaa.”
Dia kemudian tumbuh kembang dengan kesukaan belajar dan mencari tahu sendiri.
Aya, anak saya yang ketiga, waktu kecil sangat suka makan sambil berjalan-jalan. Alam sekitar sangat menarik perhatiannya. Tiap tanaman dan hewan yang dia lihat pasti ditanyakan namanya. Kebetulan saya dibesarkan di Jakarta dengan lingkungan kumuh dekat pasar yang tidak banyak tanaman serta binatang-binatang. Banyak pertanyaannya tidak bisa langsung terjawab.
Oleh karena menyadari arti pentingnya menjawab pertanyaan Aya, saya selalu berusaha bertanya kepada orang lain yang sedang berada di sekitaran kami. Pernah dia asyik memperhatikan hewan kecil, kebetulan ada anak lain yang sedikit lebih tua darinya. Saya biarkan dia bertanya-tanya pada anak tersebut, yang menyebutnya sebagai bapak pucung.
Jika saya tidak mengetahui dan kebetulan tidak ada orang di sekitar yang bisa ditanya, maka saya mengatakan tidak tahu. Biasanya dilanjut dengan janji akan melihatnya apakah ada di buku tentang tumbuhan atau hewan di rumah.
Kami memang cukup rajin membeli berbagai buku semacam itu. Sayangnya, ada beberapa jenis tanaman dan hewan di sekitar rumah yang tidak tercantum di buku tersebut.
Pengetahuan tentang jenis tumbuhan menjadi salah satu faktor bisa tidaknya melakukan praktikum di olimpiade sains SMP bidang Biologi. Aya sejak awal paling tertarik di bidang ini, dan agak kurang terdukung oleh kondisi lingkungan rumah.
Beruntung, pada saat olimpiade sains SMA, yang lebih dikedepankan adalah kemampuan analisis. Dalam hal ini, Aya menyukai dan mampu menguasai secara sangat baik. Dia pun berhasil memperoleh medari perunggu tingkat nasional.
SAYA bersyukur karena keluarga dekat banyak yang memahami secara baik tentang rasa ingin tahu anak-anak. Salah satu contohnya adalah kakek, ayah dari suami. Ketika kakek yang bertamu selama beberapa hari di rumah kami, beliau mengecat pagar rumah dengan meni kayu. Adli yang baru berusia 3 tahun tertarik mendekat dan bertanya “Kenapa warnanya merah [oranye]? Tidak sama dengan pagar sebelah.”
Kakeknya menjawab “Untuk pelapisnya dulu”. Ditanya lagi, “Kenapa?” Dijawab, “Biar awet” Masih terus bertanya, “Kenapa?” dan seterusnya. Kakeknya tampak sabar melayani dan menjawab satu per satu. Kakek yang bermukim di Banjarbaru, Kalimantan Selatan ini berpulang ke hadlirat Allah sekitar setahun kemudian.
Tentang harus berterus terang jika tidak tahu saya sampaikan ke semua orang-orang yang ada di lingkungan rumah. Seperti: asisten rumah tangga, sopir dan pegawai toko.
Om Supri, sopir yang sekaligus pegawai toko bangunan kami menceritakan tentang pengalamannya bertanya jawab dengan Adli, ketika masih duduk di Taman Kanak-Kanak.
Adli ke sekolah yang diantar dengan mobil pick up pengangkut barang dagangan kami, mendadak bertanya, “Berapa kecepatan cahaya, om?” Om Supri pun menjawab, “Wah, om tidak tahu, Mas. Tetapi om tahu kecepatan mobil ini”. Ditunjuknya speedometer kecepatan mobil. Adli memperhatikannya, dan perbincangan pun berlanjut seputar alat itu.
Pak tukang yang sedang memperbaiki beberapa bagian dari rumah sewaan kami juga pernah dihujani pertanyaan oleh Adli. Untunglah dia sudah diberitahu sebelumnya bahwa semua anak kami suka bertanya-tanya, dan meminta tolong dijawab sebisanya saja.
Begitu melihat sesuatu yang berbeda dari biasa, anak akan sangat tertarik. Ketika cat dibuka akan bertanya “Apa itu?” Jika dijawab, “Cat” Bertanya lagi, “Mau diapakan?” Dijawab, “Diaduk” Bisa diduga akan menanyakan mengapa harus diaduk, yang jika dijawab agar merata, akan berlanjut mengapa harus rata.
Perbincangan dengan anak seolah bermain bola pingpong. Mereka cepat bertanya dan jika cepat dijawab akan ada pertanyaan lagi. Hal demikian justru petanda anak sedang mengembangkan rasa ingin tahunya, yang jika dilayani dengan baik maka akan membuatnya makin pintar. [dmr]
