Scroll untuk baca artikel
Pendidikan

Memahami Corporate Stockholm Syndrome, Penyakit Psikologis Pekerja

Redaksi
×

Memahami Corporate Stockholm Syndrome, Penyakit Psikologis Pekerja

Sebarkan artikel ini

INI cerita dari seorang teman yang bekerja selama sepuluh tahun di sebuah perusahaan swasta. Teman saya termasuk karyawan yang rajin, disiplin dan selalu mewujudkan ekspektasi pimpinannya, sebagai pemilik perusahaan tersebut.

Awalnya dia merasa apa yang dialaminya akibat kejenuhan dan pengaruh karyawan yang agak ‘toxic’. Namun setelah beberapa lama mengalami kejadian yang ia sebut sebagai “eskalasi hubungan yang buruk” bukan saja dengan karyawan, namun dengan pola kerja dan sikap pimpinan yang mengabaikan dirinya. Paling tidak ia menganggap ada perubahan yang cukup drastis dengan perusahaan tersebut terhadap pola kerja yang berjalan.

Teman saya telah menyerahkan sebagian besar waktu dalam kehidupan pribadinya dan tentu kinerja dengan skill yang dimilikinya untuk kemajuan perusahaan. Kini ia mendapati tuntutan kerja yang ia anggap semacam eksploitasi dan tekanan, yang tidak sebanding dengan apresiasi pimpinan terhadap pencapaian.

Loyalitas kerja menjebaknya “menerima” hubungan yang ‘toxic’ dalam pola kerja tersebut. Teman saya terjebak dalam lingkaran loyalitas yang “mematikan” karir. Karena ia terpaksa menerima ketidaknyamanan yang cukup lama dengan tetap harus loyal terhadap perusahaan. Teman saya menjadi sangat terhubung dengan pimpinan  sekaligus merasa diperlakukan tidak adil. Ia merasa telah “berhutang jasa” dengan bos, yang merasa telah memberinya pekerjaan.

Selanjutnya teman saya merasa mengalami pelecehan verbal, diremehkan, diminta untuk menyelesaikan tugas-tugas yang tidak masuk akal, dan bahkan dapat  terisolasi dari kebebasan menegembangkan karirnya karena situasi tersebut.

Kondisi yang dialami oleh teman saya tersebut oleh para ahli gangguan kejiwaan disebut dengan istilah Corporate Stockholm Syndrome. 

Dari mana muncul istilah Stockholm Syndrome? Pada Agustus tahun 1973, Jan-Erik Olsson, seorang terpidana pembebasan bersyarat, menyandera empat karyawan (tiga wanita dan satu pria) di Kreditbanken, salah satu bank terbesar di Stockholm Swedia selama enam hari (23-28 Agustus).

Pada peristiwa perampokan bank yang gagal tersebut, Jan Erik  menegosiasikan pembebasan temannya – Clark Olofsson  dari penjara. Selama penyanderaan mereka ditawan di salah satu brankas bank. Polisi berhasil membebaskan para sandera. Ketika para sandera dibebaskan, tak satu pun dari mereka akan bersaksi melawan salah satu penculik di pengadilan; sebaliknya, mereka mulai mengumpulkan uang untuk pembelaan mereka.

Nils Bejerot , seorang kriminolog dan psikiater Swedia menciptakan istilah tersebut setelah polisi Stockholm meminta bantuannya untuk menganalisis reaksi para korban terhadap perampokan bank tahun 1973 dan status mereka sebagai sandera.

Karena gagasan cuci otak bukanlah konsep baru, Bejerot, berbicara di “sebuah siaran berita setelah pembebasan tawanan” menggambarkan reaksi para sandera sebagai akibat dari pencucian otak oleh para penculiknya.

Corporate Stockholm Syndrome, ketidak berdayaan pekerja karena ikatan emosional.

Bagi banyak dari kita, toxic environment dalam dunia kerja bukanlah hal yang baru. Banyak pekerja, seperti teman saya di atas mengalami kondisi dan situasi yang membuat ketidakberdayaan untuk jangka waktu  yang lama.

Tekanan, pelecehan, hingga pemasungan kemerdekaan berpikir dan memperjuangkan hak membuat sikap karyawan yang sudah lama bekerja terikat dengan emosi yang menyebabkan rasionalisasi untuk diri mereka sendiri dan orang lain tentang perlakuan buruk majikan terhadap mereka yang diperlukan untuk kebaikan organisasi secara keseluruhan, dan dengan marah membela tindakan majikan ketika tindakan tersebut dipertanyakan oleh orang luar. Dengan kata lain, penolakan yang jelas.

Corporate Stockholm Syndrome menjadikan karyawan sangat setia kepada—majikan yang menganiaya mereka (didefinisikan dalam situasi ini sebagai pelecehan verbal, menuntut jam kerja yang terlalu panjang, dan umumnya mengabaikan kesejahteraan dan kebutuhan emosional karyawan).

Pada saat yang sama kondisi ketergantungan karyawan terhadap “kebaikan” bos berdampak  kepada ketidak berdayaan, enggan mencari solusi karena beresiko “bahaya” seperti sandera yang disekap pada peristiwa perampokan bank di Stockholm. Karyawan akhirnya terikat secara emosional.

Dampak Corporate Stockholm Syndrome

Karyawan ragu-ragu untuk berbicara karena takut kehilangan pekerjaan, dilewatkan untuk promosi, dan konsekuensi keuangan. Akhirnya, harga diri karyawan tersebut menderita, dan dia terlibat dalam keraguan diri dan menyalahkan diri sendiri, yang hanya dapat membuat lebih sulit untuk meninggalkan situasi tersebut.

Pembelaan yang terpaksa atas setiap kebijakan atasan meski tahu tidak rasional dan tidak berpihak kepada karyawan dan masa depan karyawan.

Persaingan tidak sehat dan saling menekan satu lain, atau bahkan membully laksana tali yang berkelindan menguatkan simpul hubungan yang ‘toxic’.

Budaya kerja akan meningkat cukup tajam, seiring dorongan atasan untuk menumbuhkan loyalitas kepada perusahaan, sementara tidak memiliki loyalitas yang sama dengan kesejahteraan emosional karyawan.

Karyawan yang tidak memiliki kompetensi, akan menghabiskan usia produktif untuk membesarkan perusahaan tanpa ada perhatian yang besar dari perusahaan terhadap karyawan yang segera akan dibebastugaskan karena faktor usia.

Setelah habis masa kerja atau perusahaan memutuskan untuk merumahkan para karyawan lama yang tidak produktif. Tindakan itu tetap membuat karyawan memandang perusahaan dengan kepatuhan dan rasa terima kasih, sebagai hasil dari mindset bahwa perusahaan telah membuatnya bisa melangsungkan hidup.

Memutus siklus itu tidaklah mudah, terutama dalam budaya yang menghargai pekerjaan dan kekayaan daripada kesehatan emosional karyawan, tetapi pelaku kekerasan atau intimidasi  tidak pantas mendapatkan kesetiaan.

Kedamaian pikiran, dan perasaan dihargai terlalu jauh lebih utama untuk bertahan dengan kehidupan yang sehat sebagai pekerja korposasi.