Scroll untuk baca artikel
Blog

Memberi Makanan yang Sehat dan Bergizi untuk Anak (Bagian Dua)

Redaksi
×

Memberi Makanan yang Sehat dan Bergizi untuk Anak (Bagian Dua)

Sebarkan artikel ini

UPAYA memberi makanan yang sehat dan bergizi pada anak perlu dilengkapi dengan menghindarkan mereka dari makanan yang tidak baik bagi tubuhnya. Terutama yang berbahaya jika dimakan dalam jumlah tertentu. Antara lain adalah: zat pengawet, pemanis sintetis, zat pewarna, dan penyedap rasa.

Pemanis sintetis membuat tenggorokan sakit dan mudah batuk. Zat pengawet dan pewarna tidak baik bagi tubuh dalam jangka panjang. Padahal, cukup banyak kue atau minuman yang mudah dibeli oleh anak memakai pemanis buatan dan zat lainnya tadi. Dengan nasihat dan contoh tindakan, tidak terlampau sulit bagi orang tua menjaga anak dari makanan dan minuman yang demikian.

Makanan berbahaya bagi anak yang tidak mudah dihindari adalah yang mengandung penyedap rasa, terutama Monosodium Glutamat (MSG). Dalam kehidupan sehari-hari kerap disebut vetsin, micin, atau moto. Penggunaannya telah sedemikian meluas, dan kadang kurang disadari oleh orang tua.

MSG terdapat dalam berbagai makanan buatan pabrik, seperti sarden kaleng, kornet, nugget, sosis, dan berbagai jenis snack atau kudapan. Bisa pula dipakai dengan takaran yang cenderung berlebih pada makanan di warung makan, pedagang bakso, dan pedagang mie ayam. Bahkan dipakai pada makanan yang dimasak sendiri oleh rumah tangga.

Pemakaian MSG yang sedemian masif antara lain karena harganya yang murah, mudah diperoleh, dan bisa membuat gurih semua masakan. Berbagai merek MSG dalam banyak kemasan dipakai menjadi bumbu masakan sehari-hari pada mayoritas rumah tangga. Bahkan, menjangkau daerah pedesaan dan wilayah pinggiran. 

Padahal, berbagai penelitian ilmiah telah sejak lama menemukan bahayanya konsumsi MSG bagi anak-anak. Antara lain karena ambang ketahanan anak terhadap zat adiktif masih sangat rendah. Bahkan, untuk orang dewasa pun ada ambang batas konsumsinya, agar tidak menjadi racun bagi tubuh.

Organisasi atau lembaga internasional seperti World Health Organization (WHO) dan Food ang Drug Adminisitration (FDA) memeberi rekomendasi batas pemakaian MSG adalah 120 mg/KG berat badan/hari. Tentu saja toleransi pemakaian jauh di bawah batas itu untuk anak-anak. Bahkan, bayi di bawah 3 bulan tidak diperbolehkan sama sekali mengkonsumsi MSG.

Banyak hasil penelitian ataupun sekadar contoh kasus yang bisa diketahui oleh orang tua dari berbagai sumber, seperti buku, majalah dan internet. Pengetahuan tentang hal itu akan bisa terus mengingatkan orang tua tentang bahayanya MSG bagi anak-anak.

Orang tua pun perlu belajar menggunakan bahasa yang sesuai dalam memberi penjelasan kepada anak-anak ketika diperlukan. Komunikasi yang baik merupakan salah satu kunci pengendalian konsumsi MSG. Tidak cukup sekadar dilarang, karena anak-anak akan sangat mudah memperoleh makanan mengandung MSG berlebihan di lingkungan sekolah atau lingkungan bermain.

Langkah utama dan terpenting tentu saja adalah mengelola masakan dan makanan di rumah. Saya selalu berusaha tidak memakai MSG dalam masakan di rumah. Meski demikian, tetap ada MSG yang dikonsumsi oleh keluarga kami, antara lain dari makanan matang yang dibeli. Namun, dengan upaya tidak memakai pada masakan rumah, konsumsinya bisa ditekan.

Ketika anak-anak telah berusia lebih dari 5 tahun, apalagi mulai bersekolah, toleransi pun diberikan. Sebagai contoh, seminggu sekali dimasakan mie instan. Itupun bumbunya hanya dipakai sepertiga. Begitu pula ketika ada tamu yang membawa anak dan menawarkan snack yang mengandung MSG, diperbolehkan sesekali menerimanya.

Bagaimanapun, nyaris tidak mungkin untuk tidak mengkonsumsi MSG sama sekali bagi anak-anak. Namun, dengan pembiasaan yang memadai di rumah disertai penjelasan yang baik akan cukup efektif mengendalikannya.  

Penjelasan sederhana tentang makanan dan jajanan yang sehat kepada anak-anak harus dilakukan secara terus menerus. Tentu dengan bahasa sederhana dan pada momen-momen yang tepat. Sekali lagi, pengetahuan orang tua tentang hal ini beserta contohnya harus terus ditingkatkan.

Pengalaman keluarga kami, anak-anak sejak kecil tidak pernah atau jarang sekali meminta jajanan yang mengandung MSG. Bahkan mereka enggan ketika ditawarkan kepada mereka ketika tidak bersama saya atau abahnya. Hal itu diceritakan oleh nenek atau paman dan bibi mereka ketika bersama mereka.

Kesadaran makanan sehat ini tampak meresap dalam diri Aya, anak ketiga. Ketika kelas 1 SMA, Aya harus berjualan untuk mengumpulkan dana sebagai seksi dana dalam suatu kepanitiaan. Dia minta dibikinkan kue gurih tanpa MSG dan kue manis tanpa pemanis buatan. Sedangkan minumannya, Aya memilih berjualan jus.

Pengalaman menjual makanan dan minuman sehat sebagai seksi dana itu dilanjutkannya sebagai pribadi. Hal itu didorong pula oleh kesadarannya bahwa uang masuk sekolahnya lebih mahal dari kakaknya dulu, sedangkan usaha dagang kami sedang mengalami masa sulit. Aya berinisiatif untuk membantu dengan terus berjualan beberapa waktu, membawa makanan dan minuman sehat dari rumah untuk dijual di sekolahnya.

Ternyata selain keuntungan uang, Aya memperoleh manfaat lain dari kegiatan tersebut. Dia sangat dikenal di sekolahnya, tidak hanya sekelas atau satu angkatannya. Apalagi dia juga senang mengajar. Siapapun yang meminta, dengan senang hati akan diajari sepanjang pelajaran yang dikuasai. Wajar ketika ada pemilihan Pelajar Teladan pilihan siswa SMA Negeri 1 Yogyakarta, Aya terpilih menjadi sebanyak 2 tahun berturut-turut. [rif]