SELESAI sudah acara reuni itu. Segala hingar bingar itu sudah mereda. Suara musik juga sudah tak kedengaran lagi, tinggal sisa-sisa percakapan dari beberapa teman yang mungkin masih belum puas dengan pertemuan yang berlangsung kurang lebih selama tiga jam itu. Sebagian teman bahkan sudah pulang. Dan beberapa pegawai restoran sudah tampak mulai membereskan sisa-sisa acara.
Ya, pada kesempatan kali ini, aku beserta teman-teman alumni SMA mendapat kesempatan untuk mengadakan reuni, setelah puluhan tahun tak pernah ketemu. Meskipun tak banyak, mungkin sekitar enam puluh orang yang bisa dihubungi dan bisa hadir. Namun acara berlangsung dengan meriah bahkan bisa dibilang hingar-bingar.
Aku sendiri juga tidak tahu siapa yang memprakarsai acara ini. Beberapa minggu yang lalu, tiba-tiba sahabatku semasa SMA, Hanafi, meneleponku. Tentu saja aku kaget dan sekaligus gembira mendapat telepon dari dia. Akhirnya aku menyempatkan diri untuk sejenak pulang kampung bersama istri dan juga anak-anak dengan mengendarai mobil.
Aku dan Hanafi beserta beberapa teman yang lain masih mengobrol di lobi restoran. Di antaranya adalah Herman, Bagio, Bambang yang bertindak sebagai ketua panitia. Beberapa teman wanita seperti Netty, Henny, Darmi, Weni dan beberapa lagi yang aku tak begitu paham.
Juga ada Edy yang katanya masih menunggu sopirnya yang entah pergi ke mana. Dua orang teman yang sedari tadi mencuri perhatianku. Herman dan Edy. Herman yang sekarang ini sudah menjadi seorang pengusaha sukses, tampil begitu trendi. Segala yang melekat di tubuhnya adalah barang-barang bermerek dan berharga mahal. Dan dalam acara ini, menurut Hanafi, dia menjadi donatur terbesar. Hampir seluruh biaya reuni dia yang tanggung.
Juga Edy. Aku cukup kenal dengan temanku ini, karena dulu pernah sekelas selama kelas satu dan dua. Aku masih ingat, bagaimana dulu temanku ini bersikap. Dia adalah seorang yang pemalu, dan bicaranya selalu terkesan pelan.
Apalagi kalau sedang ditanya oleh guru kami, jawabannya selalu pelan, seolah-olah dia tidak yakin dengan jawaban yang dia berikan. Tapi, setelah puluhan tahun tak pernah ketemu, aku lihat dia menjelma sebagai pribadi yang benar-benar berbeda. Bicaranya seperti seorang motivator. Penuh percaya diri dengan senyum yang tak pernah berhenti menghias bibirnya. Menurut ceritanya, dia kini tengah menggeluti dunia supranatural.
Dan misinya selalu berhasil. Sudah banyak yang pernah menggunakan jasanya, mulai dari artis, pengusaha kaya bahkan sampai penjabat, baik tingkat daerah ataupun tingkat provinsi. Luar biasa, pikirku. Rupanya dia hampir tak berbeda dengan Herman. Sukses. Apalagi tadi dia mengatakan kalau sedang menunggu sopirnya, wah, berarti dia sudah menjadi seorang bos.
Mobil Edy datang, sebuah Toyota Innova berwarna hitam yang masih baru dan mengkilap. Setelah kembali bersalaman, dia segera membuka pintu tengah dan masuk ke dalamnya. Tak lama kemudian Herman pun pamit, lalu melangkah menuju mobil mewahnya. Sebuah Pajero Sport berwarna putih. Tinggal aku, Hanafi, Bambang dan Bagio.
“Jangan lupa untuk saling memberi kabar ya, saling SMS…” kata Bagio menegaskan. Aku tersenyum.
“SMS? ” gurauku. Bagio tertawa, dan paham kalau aku sedang meledeknya.
“Maklumlah, aku kan bukan pegawai seperti kalian. Setiap hari yang aku bawa ya cangkul, dan kerjaku di sawah, panas dan keringatan. Bukan di kantor yang dingin dan sejuk.” Balasnya. Kami tersenyum. Akhirnya Bagio pun juga pamit menuju motornya. Demikian juga dengan kami, aku dan Hanafi, setelah mengucapkan terima kasih kepada Bambang yang sudah mau ditunjuk sebagai ketua panitia dalam acara reuni ini, kami pun pamit.
Aku dan Hanafi akan menjalankan rencana kami selanjutnya, yaitu mengunjungi teman kami yang bernama Manto, teman sekelas kami yang tidak bisa hadir. Menurut Hanafi, keadaannya sangat memprihatinkan. Terkena stroke dan ditinggal begitu saja oleh istrinya, ditambah dengan kondisi adik perempuannya yang terkena gangguan jiwa. Entah apa penyebabnya.
Dan ketika kami tiba di rumahnya, aku lihat Manto sedang duduk di kursi roda di beranda rumahnya yang terlihat kurang terurus. Aku tertegun melihat kondisi temanku itu. Badannya kurus, rambutnya hampir semua memutih, tatap matanya suram, hampir tak menyiratkan cahaya dan kegairahan. Wajahnya tampak jauh lebih tua dari umur yang sebenarnya. Aku benar-benar trenyuh.
“Kamu ingat nggak Man, siapa dia?” tanya Hanafi padanya. Manto tampak sedang berpikir keras.
“Siapa ya? Aku ingat, tapi lupa namanya. Aduh, siapa ya?” gumamnya sambil tak henti-henti melihat pada diriku.
“Sap…” Hanafi memancing. Tiba-tiba wajah Manto menjadi sedikit cerah. Matanya melebar.
“Ya, aku ingat. Sapto kan?” Serunya gembira. Aku terharu, ternyata dia masih ingat nama lengkapku. Kujabat tangannya erat-erat.
“Kamu sekarang gemuk banget. Katanya tinggal di Jakarta?” kata Manto agak tersendat. Aku mengangguk. Dan dia masih terus menatap wajahku, dengan senyum samar di bibirnya. Mungkin memorinya ketika kami masih SMA sudah sedikit terbuka. Dan akhirnya kami mengobrol tentang hal yang ringan-ringan saja. Terutama tentang masa-masa ketika kami masih sekolah. Kejadian-kejadian konyol yang masih kami ingat, kami ungkap kembali. Dan ternyata hal ini bisa mendatangkan sebuah kegembiraan di hati Manto. Hal itu bisa aku baca dari rona yang memancar di wajahnya. Aku sama sekali tak menyinggung tentang rasa sakitnya, supaya tidak mendatangkan rasa sedih di dalam dirinya. Apalagi tentang keluarganya. Ibunya sudah kelihatan tua sekali dan adiknya yang mengalami gangguan jiwa, kadang-kadang menangis sendiri dan berbicara dengan kata-kata yang tak jelas maksudnya. Dalam hati aku bertanya, kenapa kehidupan berlaku begitu kejam terhadap keluarga temanku ini? Apakah ini takdir, ataukah memang kehidupan itu sendiri yang berlaku tidak adil terhadap sebagian orang?
Setelah kami rasa cukup, setelah aku menyelipkan beberapa lembar uang ratusan ribu pada genggaman tangannya, kami mohon pamit. Manto menangis sesenggukan. Aku dan Hanafi tak mampu lagi menahan rasa haru. Mata kami berkaca-kaca. Tuhan, tunjukkan belas kasihan-Mu kepada keluarga Manto. Kembalikan kebahagiaannya, sembuhkan sakitnya, doaku dalam hati dengan perasaan yang mengharu biru.
*****
Seminggu setelah reuni.
Aku telah kembali ke Jakarta, kembali menjalani kehidupanku dan juga pekerjaanku. Rasanya aku seperti kembali pada dunia nyata, kembali pada kehidupan yang sebenarnya. Beberapa hari yang kami lewati di kampung halaman seperti sebuah mimpi. Dan saat ini kami sudah harus terjaga dari mimpi indah itu. Seperti ungkapan dalam sebuah film yang berjudul Matrix, welcome to the real world!
Setelah acara reuni itu, WA grup dari alumni SMA kami, jadi makin ramai dengan berbagai macam guyonan. Apalagi kalau ada teman yang baru masuk, akan semakin ramai. Aku menanggapi sewajarnya saja. Tidak terlalu aktif, tapi juga tidak terlalu pasif.
Suatu siang ketika jam istirahat dan setelah makan siang, seseorang mengirim pesan lewat WA. Awalnya dia tanya kabar dan keadaanku. Aku jawab dengan sewajarnya sambil kembali bertanya ini siapa. Karena profilnya bukan foto sang pemilik HP melainkan hanya gambar sekuntum bunga. Ternyata pesan itu dari Weni, temanku SMA.
Kemudian dia bercerita banyak tentang kehidupannya. Katanya, suaminya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu dan dia harus berjuang menafkahi ketiga anaknya yang semuanya masih sekolah. Hingga akhirnya dia berterus terang untuk minta bantuan seikhlasnya untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Aku tercenung. Aku merasa berada pada satu pilihan yang sulit. Satu sisi, aku kasihan mendengar kisah si Weni. Sisi yang lain aku bertanya dalam hatiku, kenapa Weni harus melakukan cara ini, menjual kesedihan dan mengiba pada teman-teman sekolahnya?
Dan ternyata hal ini juga pernah dilakukan pada Hanafi. Terpaksa? Mungkin juga, tapi sekali lagi kenapa harus cara ini yang ditempuh? Ah, mungkin Weni memang sudah benar-benar kepepet dan tak menemukan cara yang lain lagi. Setelah aku pertimbangkan, akhirnya rasa kemanusiaanlah yang bicara. Aku berjanji akan membantu semampuku. Tapi dengan catatan hanya untuk kali ini saja. Aku tak mau ini menjadi kebiasaan!
*****
Tiga minggu setelah reuni.
Beberapa teman SMA yang sering menghubungiku setelah kami kembali dipertemukan, adalah Hanafi dan juga Bagio. Ada juga yang lainnya, tapi hanya sekedar bertanya aku sekarang tinggal di mana atau anakku ada berapa. Tapi Hanafi dan Bagio lebih sering dari yang lainnya. Bagio sering kali menceritakan suka dukanya dalam bertani.
Tapi aku benar-benar kagum dengan temanku yang rambutnya ikal dan berpostur pendek itu. Dia adalah seorang yang tekun dan juga ulet. Dari hasil bertaninya dia mampu menguliahkan dua anaknya. Yang nomor satu sudah menjadi seorang guru dan sudah mau menikah. Sedangkan yang nomor dua masih kuliah di Surabaya. Luar biasa, pikirku. Dengan segala kesederhanaan yang ada di dalam dirinya, ternyata ada sesuatu yang sudah dicapai dalam hidupnya.
Hanafi kembali meneleponku. Seperti biasa, pada siang hari ketika aku sudah selesai makan dan masih menikmati jam istirahatku.
“Ada kabar penting yang kamu harus tahu.” Katanya. Aku terperangah. Wah, ada apa lagi ini, tanyaku dalam hati.
“Apa, ada yang mau menghubungiku lagi?” tebakku asal. Hanafi tertawa keras.
“Tebakanmu tepat! Kamu punya ilmu kebatinan ya? Atau mungkin trauma?”
“Siapa lagi?” tanyaku. Sejenak Hanafi terdiam. “Han, kok malah diam?”
“Tadi pagi Edy WA aku, kamu tahu dia bilang apa?” Hanafi kembali menghentikan ucapannya, tiba-tiba ada sesuatu yang tidak enak yang aku rasakan dalam hati. “Dia cerita katanya sedang menangani sebuah kasus di kantor kejaksaan. Proyek besar, katanya bernilai miliaran. Dan sekarang ini dia sedang berada di Jakarta untuk beberapa hari, sampai kasus yang dia tangani ada hasilnya. Dan…” kembali Hanafi menghentikan bicaranya. Memancing rasa penasaranku. Tapi dia segera melanjutkan ucapannya tanpa aku harus meminta. “Dia mau pinjam uang sebesar sepuluh juta, katanya untuk operasional sehari-hari. Nanti kalau kasusnya sudah selesai akan dikembalikan. Aku jawab tidak punya, lalu dia menurunkan nominalnya jadi lima juta, aku tetap bilang tidak ada, dan dia kembali menurunkan jadi tiga juta. Aku tetap bilang tidak ada. Bahkan akhirnya dia hanya minta satu juta. Aku juga tetap bilang tak punya, karena aku merasa ada yang tidak beres.”
“Edaaaan.” Teriakku.
“He, jangan edan dulu! Soalnya menurut penerawanganku, sepertinya beliau akan menghubungimu juga.” Kata Hanafi sambil tertawa.
“Ah, kalau ini aku sudah siap Han. Beda dengan si Weni, kalau dia mungkin memang benar-benar membutuhkan. Tapi kalau Edy, sepertinya modus. Dan ini akan lebih gampang menghadapinya, karena tidak ada rasa kemanusiaan yang harus bicara. Atau kalau perlu, tak usah ditanggapi. Biarkan saja, selesai urusannya.”
“Betul. Aku setuju. Oleh karena itu aku info ke kamu supaya kamu menemukan cara yang jitu untuk menghadapinya.”
Setelah Hanafi menutup telepon, aku terdiam untuk sesaat. Kembali aku membayangkan bagaimana sikap dan gaya si Edy yang menurutku amat sangat jauh berbeda dengan ketika masih sekolah dulu. Ah, mungkin waktu yang sudah puluhan tahun itu punya cara sendiri dalam membentuk karakter seseorang.
Dan apa yang katakan oleh Hanafi memang menjadi kenyataan. Dua hari setelah dia telepon itu, Edy mengirimkan pesan lewat WA. Pada awalnya dia basa-basi tanya tentang kabar, dan aku masih menanggapi dengan wajar.
Lau mulailah cerita tentang kasus di Kejaksaan itu. Isinya sama dengan apa yang di ceritakan oleh Hanafi, dan ujung-ujungnya mau pinjam uang. Tapi nominalnya berbeda, hanya lima juta. Dan caraku menyikapi sama seperti dengan apa yang aku katakan pada Hanafi lewat telepon dua hari yang lalu. Tidak aku tanggapi sama sekali. Bahkan ketika satu jam setelahnya dia kembali menanyakan tentang permohonannya, tetap tak aku tanggapi. Dan ternyata ini adalah cara yang terbaik, setelahnya dia sudah tidak WA lagi.
*****
Enam minggu setelah reuni.
Dan puncak kehebohan itu terjadi di minggu ke enam setelah acara reuni. Seperti biasa, Hanafi selalu menjadi sumber segala informasi dari segala kehebohan itu. Kembali dia meneleponku, pada jam istirahat siang.
“Heboh!” begitu katanya setelah telepon aku sambut.
“Apa yang heboh, Han?” tanyaku. Kali ini aku menanggapi dengan serius.
“Kamu tidak tahu kalau Herman keluar dari grup?” tanya Hanafi. Aku tercenung. Dari semalam aku belum membuka grup WA dari teman-temanku SMA, jadi aku tidak tahu kalau ada yang keluar dari grup.
“Wah, dari semalam aku belum membuka grup kita, jadi ya aku tak tahu kalau Herman keluar. Memangnya ada apa kok dia sampai keluar?”
“Semalam Bambang telepon, dan dari dia aku tahu segala kehebohan ini. Aku tak cerita pada siapa pun selain sama kamu. Bambang sampai pusing, dia bingung kenapa teman-teman kita bersikap seperti itu. Jadi ceritanya, si Herman sudah merasa seperti di teror.”
“Sebentar Han, aku tak paham maksudmu. Maksudnya di teror itu bagaimana?” tanyaku tak mengerti.
“Kamu pura-pura bodo apa memang bodo?” tanya Hanafi meledekku. Sial, gumamku. “Jadi ceritanya si Herman sudah benar-benar marah, karena katanya hampir setiap hari ada saja yang menelepon, yang mau minta bantuan atau pinjam uang. Bahkan ada yang berani mau pinjam uang sampai lima puluh juta. Gila kan? Oleh karenanya dia keluar saja dari grup dan bahkan mau ganti nomor. Tapi nanti dia akan memberikan nomor barunya ke Bambang. Dan kalau ada apa-apa dengan teman-teman alumni SMA dia masih mau membantu, tapi jangan dulu dimasukkan ke grup. Begitu katanya.”
“Ini sih memang kelewatan Han, harusnya teman-teman tidak boleh begitu. Tapi tak tahulah, pikiran orang kan berbeda-beda.”
“Heboh selanjutnya pasti akan membuatmu kaget. Sekaget-kagetnya!”
“Waduh, ada lagi?” tanyaku dengan penuh rasa heran. Hanafi tertawa. “Tentang apa?”
“Edy!”
“Ada apa lagi dengan dia?”
“Tenangkan hatimu ya. Beberapa waktu lalu Bambang ketemu dengan temannya yang kebetulan adalah tetangganya Edy. Jadi penampilan dia sewaktu reuni itu hanya kedok semata.” Aku tercengang, tapi masih mampu untuk menahan agar tak memotong ucapan Hanafi. Jadi aku biarkan Hanafi untuk menyelesaikan kata-katanya. “Masalah mobil yang dia bawa beserta sopirnya itu hanya gaya semata. Dia tak mempunyai mobil, mungkin mobil itu mobil sewaan yang dia sewa beserta sopirnya. Dia ingin kelihatan wah di mata kita semua. Atau semua itu hanya alat supaya dia bisa lebih lancar menjalankan modusnya, aku juga tidak tahu. Dan ini klimaksnya, kamu tahu Tono kan?” tanya Hanafi.
“Ya, aku tahu dan ingat. Waktu reuni beberapa waktu yang lalu juga sempat mengobrol dengannya.”
“Dia lagi stres sekarang. Karena uangnya di bawa oleh Edy sebesar dua puluh lima juta rupiah. Dan sekarang Edy tak bisa lagi di hubungi.”
“Oh my God….” jeritku tertahan. “Kok Tono bisa kena ya Han? Bagaimana ceritanya?”
“Tak tahulah. Mungkin Tono terkecoh dengan penampilan si Edy dan dia juga termakan dengan segala omongannya seperti yang pernah dikatakan pada kita. Mungkin juga Tono terlalu polos, jadi dia nggak curiga sama sekali. Ah, penampilan luar itu ternyata bukan jaminan.”
Setelah kami menyelesaikan pembicaraan, aku masih duduk termangu, pikiranku tak henti-hentinya merenungkan semua kejadian ini. Selama puluhan tahun kami tak pernah bertemu, namun setelah bertemu bukannya pertemanan atau rasa persaudaraan itu di jaga, tapi justru ada yang menodainya dengan hal-hal yang tak semestinya.
Beberapa wajah teman-temanku SMA datang menyambangi anganku. Aku ingat si Weni. Apa kira-kira yang diinginkan si Weni? Mungkin keinginan terbesarnya adalah mencukupi kebutuhan anak-anaknya serta membahagiakan mereka. Dan itu adalah hal yang wajar. Lalu Manto. Yang meringkuk tak berdaya di atas kursi roda. Wajahnya yang muram, matanya yang tanpa cahaya dan kegairahan hidup, kira-kira apa yang diinginkan oleh Manto? Barangkali keinginan terbesarnya adalah sembuh dari sakitnya, dan bisa kembali bangkit dan kembali bisa berjuang untuk keluarganya. Lagi-lagi ini adalah hal yang wajar.
Lalu si Edy. Ah, barangkali dia terlalu banyak keinginan dalam hidupnya. Hingga apa yang telah didapatnya tak pernah cukup untuk memenuhi segala keinginan itu. Dia telah menyediakan wadah yang terlalu besar untuk apa yang telah didapatnya, yaitu dengan keinginannya dan bukan dengan kebutuhannya. Hingga akhirnya mencari segala cara supaya wadah yang berupa keinginan itu bisa diisi dengan penuh.
Lalu Bagio. Pribadi yang begitu sederhana. Tanpa gengsi dan mampu tampil tanpa harus menipu diri sendiri atau bahkan hati nurani. Namun dalam kesederhanaan itulah tersimpan sebuah kehidupan yang penuh kewajaran.
Ternyata, kesederhanaan itu lebih hening dari gaya hidup yang dipaksakan atau sebuah kepura-puraan!
Bekasi, 19 September 2022
Sapto Wardoyo, lahir di Madiun 10 Januari dan kini tinggal di Bekasi. Adalah seorang karyawan yang gemar menulis cerpen, terutama puisi. Sampai saat ini karya-karyanya telah tayang di berbagai media baik cetak maupun online.
Tergabung dalam beberapa antologi bersama, di antaranya Antologi 105 Penyair Indonesia, Lampion Merah dadu, Minyak Goreng Memanggil dan Puisi Kehidupan. Bisa ditemui di akun FB Sapto Wardoyo dan IG Sapto Wardoyo. Email; saptowardoyo1001@gmail.com
