Scroll untuk baca artikel
Blog

Sejarah dan Motivasi Pelaku Bom Bunuh Diri

Redaksi
×

Sejarah dan Motivasi Pelaku Bom Bunuh Diri

Sebarkan artikel ini

Pada tahun 2021, Action on Armed Violence (AOAV) mencatat, terdapat 1.797 kematian dan cedera akibat bom bunuh diri. Dari 61 insiden serangan bunuh diri melibatkan senjata peledak.

BARISAN.CO – Serangan bunuh diri adalah contoh paling ekstrem dari perang asimetris. Ini dramatis, menakutkan dan bisa sangat efektif bagi kelompok teroris yang menggunakannya. Efek psikologisnya tidak sebanding dengan kerusakan yang ditimbulkan.

Pada, Rabu (7/12/2022), serangan bom bunuh diri terjadi di Kantor Polsek Astanaanyar, Bandung, Jawa Barat, sekitar pukul 08.00 WIB. Akibat peristiwa itu, delapan orang mengalami luka dan satu orang meninggal dunia.

Pada tahun 2021, Action on Armed Violence (AOAV) mencatat, terdapat 1.797 kematian dan cedera akibat bom bunuh diri. Dari 61 insiden serangan bunuh diri melibatkan senjata peledak.

Dari jumlah korban tersebut, 80 persen (1.442) adalah warga sipil, menandai peningkatan 7 persen dalam jumlah warga sipil yang tewas atau terluka dalam pemboman bunuh diri dibandingkan tahun 2020, ketika tercatat 1.350 korban sipil dari insiden tersebut.

Sebagai catatan, jumlah rata-rata korban sipil per bom bunuh diri tahun lalu jauh lebih tinggi dari tahun sebelumnya, dengan 25 warga sipil tewas atau terluka dalam setiap serangan. Pada tahun 2020, ada sembilan warga sipil yang terbunuh atau terluka dalam setiap serangan bunuh diri karena rata-rata 16 korban sipil tercatat di 82 insiden bom bunuh diri. Ini berarti kenaikan 56 persen dalam jumlah rata-rata korban sipil per insiden tahun lalu dibandingkan tahun sebelumnya.

Mengulik sejarah, kefanatikan berkorban seperti itu biasa terjadi dalam sejarah konflik bersenjata, tetapi penggunaan manusia sebagai sistem panduan, bukan sebagai pejuang, relatif baru. Bom manusia pertama tidak tiba di tempat kejadian sampai tak lama setelah bom konvensional pertama kali digunakan oleh kelompok militan.

Penemuan dinamit pada tahun 1860-an memberi kelompok radikal senjata baru yang menakutkan yang hampir dua puluh kali lebih kuat daripada bubuk mesiu. Kelompok revolusioner dan teroris di Eropa mulai menggunakan bom dinamit, tetapi segera memahami, terlepas dari kekuatan mereka, tantangan teknis seperti meledakkan dinamit di tempat yang tepat pada waktu yang tepat sangat menakutkan, membuat kegagalan lebih sering terjadi daripada kesuksesan.

Secara tidak sengaja, teroris Rusia, Ignaty Grinevitsky, salah satu cara efektif untuk menggunakan bom dinamit adalah dengan memasangkannya ke pemicu manusia.

Dia adalah anggota People’s Will, sebuah organisasi teroris yang berkomitmen untuk membunuh Alexander II, pemimpin Kekaisaran Rusia. People’s Will mencoba berkali-kali membunuh Alexander menggunakan bom dinamit antara tahun 1879 dan awal 1881. Semua upaya ini gagal.

Dia dan pembom lainnya kemudian, berencana untuk menyergap Alexander menggunakan bom kecil yang dilempar dengan tangan dengan area mematikan berdiameter sekitar satu meter. Orang pertama melemparkan bom dari jarak dekat, merusak gerbong Alexander, dan memaksanya berhenti.

Entah kenapa, Alexander tetap berada di daerah itu, membiarkan Ignaty mendekatinya dan melemparkan bom kecil yang dibawanya ke tanah, menyebabkannya meledak dan membunuh kedua pria itu.

Malam sebelum penyerangan Alexander menulis: “Ini adalah nasib saya untuk mati muda, saya tidak akan melihat kemenangan kita, saya tidak akan hidup satu hari, satu jam di musim terang kemenangan kita, tetapi saya percaya bahwa dengan kematian saya, saya akan lakukan semua yang menjadi tugas saya, dan tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat menuntut lebih dari saya.”

Selama beberapa dekade berikutnya, banyak revolusioner Rusia lainnya terluka parah dan dalam beberapa kasus bunuh diri untuk menyerang target mereka dari jarak dekat. Misi bunuh diri dan hampir bunuh diri ini merupakan persentase kecil dari keseluruhan kekerasan teroris terhadap negara Rusia, tetapi itu termasuk serangan yang paling dramatis dan berkesan.

Mereka juga mengantisipasi bom bunuh diri di akhir abad ke-20 dengan dua cara yang signifikan. Pertama, misi pasti membutuhkan kematian penyerang. Dalam semua kasus ini, pelempar bom tewas sebagai akibat dari misi, baik selama menjalankan misi atau melalui penangkapan dan eksekusi sesudahnya.

Kedua, teroris itu sendiri menjadi elemen kontrol daripada agen kekerasan. Kecakapan fisik dan kemahiran mereka dengan senjata tidak relevan. Sebaliknya, yang penting adalah kemampuan mereka untuk mengenali waktu dan tempat yang tepat untuk meledakkan senjata mereka untuk efek maksimal.

Selanjutnya, serangan bunuh diri Hizbullah dengan cepat menginspirasi kelompok lain di Lebanon, termasuk kelompok Kristen dan militan sekuler. Jumlah serangan meningkat pesat pada pertengahan 1980-an sebelum menurun menjelang akhir dekade.

Pada tahun 1993, kelompok Palestina Hamas dan Jihad Islam Palestina mulai menggunakan pembom bunuh diri terhadap sasaran Israel dalam upaya menggagalkan proses perdamaian Oslo-Kairo, yang kemudian terjadi antara pemerintah Israel dan PLO. Hizbullah melatih banyak kaum radikal tentang cara menggunakan serangan bunuh diri dari akhir 1992 hingga awal 1993.

Penggunaan bom bunuh diri ini relatif terkendali, dengan beberapa serangan pada tahun tertentu, diselingi dengan periode penghentian yang relatif lama.

Motivasi Pelaku Bom Bunuh Diri

Dalam pemahaman klasik Jenderal Carl von Clausewitz tentang perang, hasrat dan nalar ada kecenderungan yang diperlukan dari kekerasan politik yang terorganisir. Gairah mengilhami kesediaan orang untuk berpartisipasi dalam kekerasan sampai batas membunuh atau dibunuh, sementara akal mengimbangi hasrat untuk kekerasan, menampilkannya sebagai alat untuk mencapai tujuan, sehingga mencegahnya menjadi tujuan akhir itu sendiri.

Kefanatikan berkorban seperti itu biasa terjadi dalam sejarah konflik bersenjata, tetapi penggunaan manusia sebagai sistem panduan, bukan sebagai pejuang, relatif baru. Bom manusia pertama tidak tiba di tempat kejadian sampai tak lama setelah bom konvensional pertama kali digunakan oleh kelompok militan.

AOAV mengungkapkan, ada beberapa faktor psikologis yang mendorong bom bunuh diri. Penghinaan dan kehormatan menjadi peran kunci bagi organisasi dan invidu dalam membentuk kultus bom bunuh diri. Penghinaan adalah pengalaman emosional yang kompleks yang berperan pada tingkat individu dan komunal. Itu didasarkan pada persepsi harga diri dan martabat.

Bukti menunjukkan, kekerasan, penyiksaan, pendudukan, penindasan keras, kemiskinan, pelanggaran kehormatan, ketidakberdayaan, dan semua keluhan kolektif dapat menjadi sumber utama penghinaan dan memicu kampanye bom bunuh diri.

Sumber penghinaan lainnya, seperti interogasi massal dan penggeledahan rumah secara acak. Terkait penghinaan, ada kesempatan untuk menebusnya. Dalam rekaman video pernyataan para martir, penebusan dosan sering disebutkan sebagai motivasi menyerang.

Organisasi juga memanipulasi keinginan penebusan itu untuk merekrut mereka. Seiring datangnya kesempatan penebusan, datanglah kesempatan menjadi pahlawan.

Pelaku bom bunuh diri saat ini mungkin tidak dimuliakan seperti di masa lalu, namun organisasi jihad masih mengagungkan konsep itu dan pelaku bom sering memperjuangkan status heroik.

Terakhir, motivasi balas dendam. Sejarah pelaku bom bunuh diri sering kali mencakup peristiwa yang mungkin dipilih seseorang untuk bunuh diri. Peristiwa itu bisa berupa ancaman, penyerangan, kehilangan orang terdekat, atau ketidakadilan.

Penelitian psikologis tentang balas dendam mengungkapkan, individu sering bersedia berkorban untuk balas dendam. Secara demografis, laki-laki cenderung lebih memiliki sikap ini. Kaum muda lebih bersedia untuk balas dendam ketimbang orang yang lebih tua.

Ketika niat itu dimanifestasikan melalui bom bunuh diri, hal ini berlanjut mengubah pelaku menjadi korban serangan.

Dalam keadaan normal, keinginan balas dendam mereda dan berlalu. Namun, di lingkungan yang dilanda konflik, keluhan dan ketidakadilan lebih mudah menjadi katalis untuk mencari kesyahidan.

Selain psikologis, jurnal berjudul “Intrinsic and External Factors and Influences on the Motivation of Suicide Attacker” menyebut, ada motivasi lainnya yang mendorong pelaku bom bunuh diri, yaitu motivasi agama, imbalan finansial dan status bagi keluarga penyerang, distorsi teologi, dorongan selama masa pelatihan, dan lain-lain.

Namun, ilmuwan sosial, Diego Gambetta mengatakan, misi bunuh diri menunjukkan keragaman sifat, sehingga pencarian kejelasan menyeluruh tentang kejadian dan polanya tampak sia-sia.

“Banyaknya fakta dan argumen bahkan mungkin membuat bertanya-tanya, apakah misi bunuh diri harus diperlakukan sebagai fenomena tunggal daripada beberapa,” ujarnya.

Memang motivasi, seperti balas dendam, agama, dan imbalan finansial bisa menjadi faktor kuat bagi pelaku bom bunuh diri, namun biasanya tidak cukup mendorong seseorang membunuh dengan mengorbankan nyawanya sendiri. Tidak semua penyerang bunuh diri tunduk pada pengaruh dan tekanan dari luar.

Motivasi paling umum di seluruh lokasi kejadian bom bunuh diri tampaknya adalah represi parah oleh rezim, asimetri kekuatan yang mengakibatkan perasaan putus asa, dan kurangnya peluang kesuksesan di masa depan.

Penting untuk dicatat, ada pengecualian untuk setiap motivasi terorisme bunuh diri. Ada banyak penyerang yang tidak sesuai dengan profil demografis atau psikologis yang diprediksi atau memiliki motif agama. Beberapapa direkrut dan dilatih di usia sangat muda dan yang lain dapat menyerang di usia dewasa tanpa perlu persuasi atau perekrutan.

Tidak semua keluarga diberi penghargaan dan beberapa dihukum oleh pihak berwenang. Kurangnya kesesuaian dan konsistensi ini mengakibatkan sulitnya membuat profil penyerang bunuh diri potensial dan menghalangi langkah kontra-terorisme.