Anggap remeh kematian pekerja migran, Kepala Eksekutif Piala Dunia Qatar, Nasser Al Khater menuai kritik dari organisasi hak asasi manusia.
BARISAN.CO – Qatar telah memulai penyelidikan keselamatan kerja atas kematian seorang pekerja setelah adanya laporan tentang seorang pria meninggal di tempat pelatihan selama Piala Dunia, yang ditandai dengan kontroversi atas perlakuan negara tuan rumah terhadap pekerja migran.
Kepala Eksekutif Piala Dunia di Doha 2022, Nasser Al Khater mengonfirmasi kepada Reuters hal tersebut tanpa memberikan rinciannya.
“Kematian adalah bagian alami dari kehidupan, baik saat bekerja, saat tidur. Kami berada di tengah-tengah Piala Dunia dan Piala Dunia kami sukses. Dan, ini adalah sesiatu yang ingin kalian bicarakan sekarang?” ungkapnya sambil menyampaikan belasungkawa kepada keluarga pekerja dan menyuarakan kekecewaan atas pertanyaan wartawan.
Dia menambahkan, Qatar merasa sedikit kecewa karena jurnalis membesar-besaran topik soal kematian pekerja migran.
“Semua yang yang telah dikatakan dan semua yang tercermin tentang tentang kematian pekerja benar-benar salah. Kami sedikit kecewa karena jurnalis memperburuk narasi palsu itu,” tambah Nasser.
Dilansir dari The Guardian, dalam sebuah pernyataan resmi, pejabat pemerintah Qatar menyebut, jika penyelidikan menyimpulkan bahwa protokol keselamatan tidak diikuti, perusahaan akan dikenakan tindakan hukum dan sanksi keuangan yang berat.
Dalam pernyataan itu juga ditambahkan, tingkat kecelakaan terkait pekerjaan secara konsisten menurun di Qatar sejak standar kesehatan dan keselamatan yang ketat diperkenalkan dan penegakan hukum telah ditingkatkan.
Komentar Nasser langsung dikritik oleh Human Rights Watch.
“Komentar pejabat Qatar menunjukkan ketidakpedulian terhadap pekerja migran yang telah meninggal. Pernyataannya bahwa kematian terjadi dan wajar jika itu terjadi mengabaikan kebenaran jika banyak kematian pekerja migran dapat dicegah,” kritik juru bicara organisasi hak asasi manusia itu, Rothna Begum.
Selain itu, peneliti hak-hak buruh migran di Amnesty International, Ella Knight membantah pernyataan Nasser.
“Ini sama sekali tidak benar. Kami dan yang lainnya telah meminta otoritas Qatar melakukan penyelidikan atas kematian pekerja selama bertahun-tahun, namun tanpa hasil,” ungkap Ella.
Menurutnya, Qatar justru terus menghapus sejumlah besar kematian karena penyebab alami, meski ada risiko kesehatan yang jelas terkait dengan bekerja di bawah suhu panas ekstrem.
Pada Rabu (7/12/2022) The Athletic melaporkan, seorang pria Filipina yang dikontrak untuk memperbaiki lampu di sebuah tempat parkir di Sealine Resort. Itu adalah tempat latihan untuk tim nasional Arab Saudi. Laporan itu mengungkapkan, pria itu meninggal setelah terpeleset dari tanjakan saat berjalan di samping [sebuah] kendaraan dan kepalanya jatuh lebih dulu.
Dari beberapa sumber yang tidak disebutkan namanya, laporan itu mengklaim kecelakaan itu terjadi selama Piala Dunia, tetapi tidak menyebutkan kapan. Sedangkan, pihak resor tidak segera menanggapi permintaan Reuters.
Sejak diberikan hak tuan rumah Piala Dunia, Qatar semakin diawasi oleh kelompok hak asasi manusia atas perlakuannya terhadap pekerja migran, yang merupakan mayoritas penduduk negara Teluk itu.
Turnamen, yang pertama diadakan di Timur Tengah di mana negara-negara lain juga menghadapi kritik atas hak-hak pekerja migran telah terperosok dalam kontroversi dengan beberapa bintang sepak bola dan pejabat Eropa yang mengkritik catatan hak asasi manusia Qatar, termasuk tentang hak tenaga kerja dan perempuan.
Penyelenggara Piala Dunia Qatar, Supreme Committee for Delivers and Legacy dalam sebuah pernyataan menyampaikan, mereka tidak terlibat dalam penyelidikan Qatar.
“Almarhum bekerja sebagai kontraktor, bukan di bawah wewenang SC,” tulis pernyataan itu.
Jumlah kematian terkait pekerjaan di Qatar masih diperdebatkan. The Guardian melaporkan setidaknya 6.500 pekerja migran meninggal dunia tahun lalu. Banyak di antara mereka mungkin bekerja untuk persiapan Piala Dunia telah meninggal di Qatar sejak memenangkan hak untuk menggelar acara tersebut, menurut perhitungan surat kabar dari catatan resmi.
Di sisi lain, Qatar menganggap, jumlah kematian sebanding dengan jumlah tenaga kerja migran, dan termasuk banyak pekerja non-manual, menambahkan bahwa setiap nyawa yang hilang adalah sebuah tragedi.
Sebelumnya, SC sebelumnya menyatakan, tiga kematian terkait pekerjaan dan 37 kematian tidak terkait pekerjaan telah terjadi pada proyek terkait Piala Dunia.
Dalam wawancara TV baru-baru ini, Hassan al-Thawadi, sekretaris jenderal SC, memperkirakan, jumlah pekerja migran yang tewas dalam proyek terkait Piala Dunia antara 400 dan 500.
Organisasi hak asasi manusia FairSquare juga merilis surat dari keluarga Abdullah Ibhais, mantan manajer media di Komite Tertinggi Qatar, yang menuduh FIFA tidak peduli karena mengabaikan kasusnya.
FairSquare sekarang menyerukan kelompok kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk penahanan sewenang-wenang untuk campur tangan dengan harapan Ibhais akan dibebaskan dari hukuman penjara tiga tahun.