MENYENGAJA menahan lapar dan dahaga sambil telah berniat sekaligus merencanakan berbuka dengan apa, itulah puasa Saya. Tentu saja tak ada istimewanya sama sekali. Toh hanya di bulan Ramadhan saja.
Menahan lapar dan dahaga karena dipaksa oleh keadaan tanpa mampu berniat berbuka itulah puasa mereka. Mereka berpuasa setiap saat tak peduli Ramadhan, Syawal atau bulan-bulan apapun juga. Memberi hidangan berbuka kepada golongan mana boleh jadi dapat menjadi tanda kedalaman atas keimanan seseorang.
“Pokoknya Ustad Kandar harus dipecat! Titik! Tak ada tapi-tapian lagi,” tukas Japar dengan penuh emosi.
“Setuju! Menurutku Ustad Kandar sudah menjadi agen kaum liberal dan sesat!” sambung Sodik tak kalah serunya.
“Betul! Hlawong memberi makan untuk berbuka pada orang yang berpuasa itu besar pahalanya kok malah dilarang! Apalagi itu kan sudah menjadi tradisi di masjid kita ini sejak jaman Nabi Adam dahulu!” sela Bariyah sambil menggerak-gerakkan tangannya sehingga gelang-gelang yang dipakainya saling beradu dan menimbulkan suara gemerincing yang sangat nyaring.
Faisal yang pensiunan pegawai kementrian agama itu hanya terlihat manggut-manggut saja mendengar pengaduan jamaah dan pengurus takmir masjid yang sore itu datang mengadu ke rumahnya. Beberapa kali ia menggaruk kepalanya yang botak meski tidak terasa gatal.
“apakah benar begitu? Benarkah Ustad Kandar melarang menghidangkan makanan untuk berbuka saat Ramadhan nanti?” tanya Faisal setelah mendengarkan aduan tamu-tamunya. Lelaki tua berpandangan kolot dan merasa sebagai penjaga aqidah itu sepertinya sudah sampai pada tittik kesimpulan tertentu.
“Bnar! Kata ustad Kandar lebih baik uang untuk menyediakan hidangan berbuka itu dikumpulkan lalu digunakan untuk menjatah makan Mbok Jebrak, Pak Yos yang nasrani itu serta Jimin dan Sabri yang tak pernah sholat apalagi puasa,” jawab Sukur berapi-api.
“Ustad keblinger! Orang kafir semacam itu kok malah hendak dikasihani dan diperhatikan! Biarkan saja kelaparan!” jawab Nabila menimpali. Perempuan bercadar itupun ikut-ikutan emosi. Apalagi Nabila dan suaminya sering ketitipan donatur dari luar negeri yang akadnya habis atau tidak habis pokoknya harus habis digunakan untuk menjatah buka puasa. Dan dana itu tidak boleh untuk selain memberi makan orang yang berbuka puasa.
“Kalau menjatah makan Daldiri yang tukang sapu masjid itu Saya masih terima. Daldiri rajin jamaah,” tambah Bariyah masih dengan gaya menggerak-gerakkan tangannya seperti sebelumnya.
“Ustad Kandar bahkan telah mengambil sebagian uang infak masjid untuk merealisasikan ide gilanya tersebut. Bukan hanya orang-orang itu saja yang ia sedekahi tetapi Ia bahkan telah keliling di kampung-kampung sebelah untuk menjatah makan orang-orang yang menurut saya tidak jelas agamanya itu!” sambung sukur lagi.
“Betul begitu tho saudara-saudara?” tukas Sukur lagi sambil memandangi kawan-kawannya satu-per satu seolah-olah hendak mencari dukungan. Mereka yang hadir kompak menjawab dengan anggukan kepala.
“Menurutku ini sudah keterlaluan. Harus diadakan sidang untuk meminta pertanggungjawaban. Tetapi kita harus melayangkan surat peringatan terlebih dahulu,” saran Faisal sambil mengangkat cangkir minum kopinya yang lalu disusul juga oleh tamu-tamunya.
“Surat peringatan itu sudah disampaikan sebanyak 3 kali oleh dewan pengawas takmir Pak!” jawab Usman yang sedari tadi hanya diam membisu mendengarkan arah pembicaraan kawan-kawannya.
“Jawaban ustad Kandar bagaimana?” tanya balik Faisal dengan mata terbelalak kaget. Ia benar-benar tidak menyangka kalau ternyata dewan pengawas takmir masjid sudah melayangkan teguran hingga 3 kali berturut-turut. Itu artinya masalah ini sudah sedemikian gawatnya.
“Jawabnya, aku tak peduli. Menurutku caraku ini lebih baik ketimbang memberi makanan untuk berbuka bersama di masjid itu!” jawab Usman. Nada bicaranya terdengar bergetar menahan kegeraman.
“Ya sudah! Tak ada cara lain kecuali memecatnya!” ucap Faisal mengakhiri pertemuan sore itu. Mendengar kalimat terakhir ini, jamaah yang sore itu mengadu terlihat lega raut mukanya. Dan sedetik kemudian dari pengeras suara masjid yang volumenya over dosisi itu telah terdengar suara adzan Maghrib. Bergegas tamu-tamu Faisal segera berpamitan dan berhambur ke masjid untuk berjamaah.
Dan sebagaimana yang sudah direncanakan, malam itu sidang atas kekisruhan yang dijalari oleh perilaku ustad Kandarpun digelar. Sidang jamaah yang dipimpin langsung oleh ketua penasehat Takmir masjid Assalam sepakat memecat ustad Kandar sebagai imam sekaligus ketua takmir masjid.
Tidak hanya itu saja ustad Kandar dilarang menjadi imam sholat, muadzin dan sekaligus mengisi pengajian. Bahkan tidak hanya itu saja, ustad Kandar harus segera mengosongkan rumah dinas ketua takmir.
Bisaroh bulanannya juga dihentikan. Dan sebagaimana yang sudah diduga sebelumnya, ustad Kandar menerima begitu saja segala sanksi yang diberikan padanya. Semula istri ustad Kandar merasa keputusan memecat suaminya adalah ketidakadilan dan kedzaliman, tetapi setelah mendengar penjelasan dari suaminya sendiri, perempuan yang dikarunia 5 orang anak itupun akhirnya berbalik mendukung suaminya yang telah dianggap keblinger oleh jamaah dan warga kampung.
Mendengar penerimaan ustad Kandar dan keluarganya yang sedemikian itu, suasana forum sidang sontak seperti berbalik arah. Jamaah terheranheran mengapa ustad kandar seperti tak ingin membela diri barang sepatah katapun. Emak-emak yang semula paling ngotot agar ustad Kandar dipecat mendadak seperti kerbau yang lupa jalan pulang ke kandang. Demikian pula dengan anggota takmir masjid yang kehadirannya di masjid bisa dihitung dengan jari.
“Apakah ustad kandar memahami keputusan rapat jamaah ini?” ucap ketua penasehat takmir sembari menghela nafas panjang. Lelaki yang sudah berusia lanjut itupun tidak menduga jika ustad Kandar begitu pasrah dan tak membela diri sepatahkatapun.
“Dengan sepenuh kesadaran Saya sangat memahami dan menerima keputusan pemecatan ini dengan lapang dada sekaligus menerima segala konsekuensinya,” jawab Kandar yang selanjutnya juga tidak ingin dipangggil lagi dengan sebutan ustad. Selanjutnya ia ingin dipanggil Kandar begitu saja.
“Apakah ustad eh maksudn Saya Pak Kandar ingin menyampaikan sesuatu kepada kami dan para jamaahyang hadir di sini?” tanya kembali ketua penasehat takmir dengan hati-hati. Dalam hati lelaki tua itu sungguh sangat ingin mendengar langsung sekaligus penasaran dengan alasan Kandar melarang menghidangkan makanan untuk berbuka puasa di masjid itu.
“Kalau memang diperbolehkan Saya akan mengatakan sesuatu. Ini bukan pembelaan Saya tetapi hanya sekedar berbagi pemikiran,” jawab Kandar dengan rendah hati sambil memperhatikan satu per satu raut wajah peserta yang hadir di sidang tersebut. Dan setiap orang yang dipandang oleh Kandar memberi isyarat agar Kandar segera saja menyampaikan pemikirannya. Sejenak suasana menjadi senyap. Masing-masing larut dalam pikirannya sendiri-sendiri sembari menunggu omongan Kandar. Kandarpun terlihat terdiam. Mungkin ia juga disergap kebingungan hendak darimana memulainya.
“Kalau bapak dan ibu berpuasa itu khan sudah punya niat dan rencana untuk berbuka. Jadi mengapa takmir masjid menyediakan makanan untuk berbuka?” kata Kandar memulai penjelasannya. Terlihat para hadirin manggut-manggut mendengar penjelasan Kandar.
“Selain itu bapak dan ibu dalam berpuasa itu memang menyengaja untuk berpuasa bukan karena tidak ada makanan apalagi tak memiliki simpanan makanan untuk jangka waktu tertentu,” sambung kandar lagi. Dan reaksi hadirin masih sama seperti tadi. Manggut-manggut saja. Entah karena paham atau tidak mengerti dengan omongan Kandar. Yang tahu persis mestinya ya mereka sendiri saja.
“Terus apa istimewanya memberikan hidangan untuk berbuka bagi mereka yang menyengaja berpuasa, punya makanan untuk berbuka, berniat untuk berbuka sekaligus merencanakan berbukanya?” sambung Kandar sedikit bergetar menahan perasaannya. Lagi-lagi jamaah terdiam dan manggut-manggut.
“Sekarang marilah kita lihat keseharian Mbok Jebrak yang sudah pikun dan hidup sebatang kara, Pak Yos yang hanya buruh serabutan meski beragama nasrani itu serta Jimin dan Sabri yang sejak dilahirkan sudah cacat. Makan sehari 2 kali saja belum tentu. Apalagi punya cadangan makanan untuk sehari besok,” sambung Kandar kembali masih dengan kalimatnya yang bergetar menahan perasaannya. Mendadak suasana menjadi tegang. Suara Kandar yang terbata-bata membuat jamaah seperti menahan nafas. Lama suasana menjadi sunyi. Masing-masing larut kembali dalam kecamuk pikirannya sendiri-sendiri.
“Orang-orang yang Saya sebutkan tadi hakekatnya telah berpuasa dalam kesehariannya. Bahkan berpuasanya tanpa niatan untuk berbuka apalagi merencanakan berbuka dengan apa. Karena rejeki yang didapat hari ini saja belum tentu. Berbeda jauh dengan puasa kita tentunya”
“Mereka yang Saya sebutkan tadi menahan lapar dan dahaga bukan karena menyengaja tetapi karena memang dipaksa oleh keadaan. Memberi hidangan makanan berbuka untuk orang yang seperti itulah pahalanya sangat besar sekali. Bukan sebaliknya!” ucap Kandar tanpa bisa menahan tangis kesedihannya.
“Lalu apakah karena Pak Yos yang nasrani itu lantas kita boleh abaikan? Dimana rahmatan lil alamiin yang sering kita gembar-gemborkan itu?” Lagi-lagi kalimat demi kalimat yang meluncur dari mulut Kandar seperti bercampur dengan kepedihan.
“Itulah maksud Saya tentang sebaiknya kita pikirkan saja makanan mereka-mereka yang puasa karena dipaksa oleh keadaan itu. Bukan malah memikirkan berbukanya orang-orang yang menyengaja berpuasa sekaligus telah berniat dan merencanakan berbuka,” Kalimat terakhir ini sontak telah membuat jamaah seperti tersentak dari lamunan panjangnya.
Terlihat wajah mereka saling pandang. Nabila dan Bariyah tak dapat lagi menahan tangisnya. Kedua perempuan itu seperti terguncang jiwanya. Demikian pula dengan Sukur, Fajar dan Usman. Hanya Faisal saja yang masih terlihat tenang. Japar, lelaki yang pertama kali mengusulkan pemecatan Kandar lebih dahulu sesenggukan. Berkali-kali ia menyeka air mata yang meleleri pipinya.
“Terimakasih sudah memberi waktu kepada Saya untuk berbagi. Assalamualaikum!” ucap Kandar sambil berdiri dan keluar dari masjid meninggalkan jamaah yang masih terguncang jiwanya. Faisal sendiri tak kuasa untuk membuka mulutnya sama sekali ketika Kandar bangkit dan melangkahkan kakinya keluar dari masjid.
