Scroll untuk baca artikel
Kolom

The Power of Mabrur

Redaksi
×

The Power of Mabrur

Sebarkan artikel ini
The Power of Mabrur

Haji mabrur bukan sekadar gelar, melainkan transformasi hidup yang melahirkan kesalehan sosial dan perubahan berkelanjutan.

Oleh: Imam Trikarsohadi

Jum’at 13 Pebruari 2025, usai sholat, para tokoh agama yang telah berhaji, bahkan beberapa diantaranya lebih dari sekali, berdiskusi di Kantor IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia), Islamic Center, Kota Bekasi, untuk mencari posisi mabrur.

Hadir pada diskusi antara lain H Siswadi (Anggota Dewan Pembina DPP Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia/PPDI), Dr. Abdul Khoir (Dosen Fakultas Agama Islam Unisma), jajaran pengurus IPHI Kota Bekasi dan anggota serta para haji.

Setelah berjam – jam berdiskusi, ternyata tak ditemukan letak dimana mabrur. Ia hanya memberikan tanda – tanda dan indikasi – indikasi.Dengan demikian ia tak mengenal definisi final.

Nampaknya, mabrur yang berinduk dari al-birru (kebaikan), keberadaanya hanya bisa terditeksi melalui keikhlasan, harta halal, dan kepatuhan syariat, yang berdampak pada transformasi perilaku menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi sesama.

Sebab itu, mabrur tidak hanya tuntas secara ritual, tetapi harus melahirkan kesalehan sosial, kerendahan hati, serta menanggalkan kesombongan.

Inilah pasalnya kenapa gelar mabrur tidak berhenti saat pulang, melainkan menjadi awal perjalanan hidup baru dengan semangat meningkatkan ketaatan secara konsisten.

Mabrur bukan gelar yang dicetak berbentuk sertifikat atau piagam, tapi perubahan hidup nyata. Inilah makna sejatinya, yang membawa dampak positif dalam kehidupan sosial dan pribadi.

Sebab itu, haji yang benar tidak membuat seseorang makin eksklusif, justru sebaliknya, menjadikan seseorang lebih rendah hati, lebih ringan tangan untuk membantu sesama, dan makin jujur dalam urusan dunia.

Dalam konteks ini, mabrur bukanlah “penghargaan dalam mengakhiri perjalanan ritual haji”, tetapi awal dari babak baru kehidupan untuk menjadi agen perubahan yang membawa nilai-nilai haji ke tengah masyarakat.

Dalam kajian psikologi hal ini dikenal sebagai konsep “sustainable behavioral change,” yaitu perubahan yang bertahan lama karena didasari oleh kesadaran dan nilai internal.

Haji menyediakan kondisi ideal untuk hal tersebut, yaitu: pengalaman emosional yang intens, lingkungan spiritual yang mendalam, dan jeda dari rutinitas duniawi yang biasanya sulit diperoleh di luar ibadah haji.

Menurut James Prochaska (Transtheoretical Model of Change), seseorang akan mengalami perubahan bertahap: dari kesadaran, ke niat, ke tindakan, dan akhirnya ke pemeliharaan perilaku baru.

Haji seharusnya mendorong seseorang ke tahap tindakan (action), di mana nilai-nilai tauhid, kesetaraan, dan kepedulian sosial dijalankan secara nyata.

Ringkasnya, mabrur bukan soal label, tapi kualitas. Bukan hanya soal sampai ke Makkah, tapi soal sampai pada kemanusiaan yang lebih luhur, serta merupakan proses yang tanpa akhir. []

Zero Sum Game
Kolom

Skandal Epstein mengingatkan: ketamakan elit bukan sekadar penyimpangan…