Ramadan bukan sekadar menahan lapar, tetapi momentum menyelami rahmat Ilahi yang mendahului murka dan membuka pintu ampunan seluas-luasnya.
Oleh: Imam Trikarsohadi
PERENUNGAN dalam Ramadhan yang paling menguras perasaan manakala menyentuh ihwal rahmat Illahi. Sebabnya, hal ini merupakan landasan utama hubungan Pencipta dan makhluk, yang mencakup kasih sayang tak terbatas di dunia bagi seluruh makhluk, dan kasih sayang khusus di akhirat bagi orang beriman.
Rahmat Illahi dapat berupa solusi masalah, ampunan dosa, dan hidayah, yang harus dijemput dengan taqwa, syukur, dan kasih sayang sesama.
Inilah sifat dasar Allah yang mendahului murka-Nya, mencakup seluruh makhluk tanpa terkecuali, baik dalam bentuk rezeki, kesehatan, maupun petunjuk.
Rahmat juga lebih dari sekadar sebab-akibat, karena tidak melulu bergantung pada amal ibadah manusia, melainkan karunia mutlak. Seseorang tidak boleh sombong karena amalnya, atau berputus asa karena dosanya.
Jadi jelas betapa pentingnya Rahmat Illahi sebagai solusi kehidupan dan ampunan. Karena ia hadir sebagai jalan keluar dari berbagai masalah hidup (kegelisahan, musibah) dan pintu ampunan bagi pendosa yang bertaubat.
Menyadari rahmat Allah, menuntut manusia untuk selalu berbaik sangka (husnudzon), bersyukur dalam nikmat, bersabar saat diuji, dan terus berharap atas kasih sayang Allah.
Lalu kapan pintu gerbang rahmat dibuka seluas – luasnya? Jawabnya pada 10 hari pertama Ramadhan. Sebab itu, periode ini merupakan fondasi krusial untuk beradaptasi secara spiritual dan fisik.
Ini adalah momen penyucian jiwa melalui latihan kesabaran, menahan hawa nafsu, disiplin waktu, dan peningkatan ketaqwaan. []









