Pernahkah kita bertanya, apakah cinta yang kita rasakan selama ini benar-benar murni karena Allah, atau sekadar pantulan dari keinginan diri yang tersembunyi?
BARISAN.CO – Inilah penjelasan hakikat cinta menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab Mukasyafatul Qulub, sebuah karya yang menguraikan kedalaman hati dan hubungan manusia dengan Tuhannya.
Dalam pandangannya, cinta bukan sekadar perasaan, melainkan kecenderungan jiwa kepada kesempurnaan dan sumber segala keindahan, yang pada puncaknya bermuara kepada cinta kepada Allah.
Berikut penjelasan hakikat cinta menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab Mukasyafatul Qulub, terutama mahabbah kepada Allah dan Rasulullah Saw.
Dikisahkan bahwa seorang laki-laki melihat sosok yang sangat tampan di padang pasir. Ia bertanya, “Siapakah engkau?” Sosok itu menjawab, “Aku adalah amal baikmu.”
Ia bertanya lagi, “Apa yang membuat engkau menyelamatkanku?” Sosok itu menjawab, “Salawatmu kepada Nabi ﷺ.
Sebagaimana sabda beliau:
الصَّلاةُ عَلَيَّ نورٌ على الصِّراطِ وَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ يَوْمَ الجُمُعَةِ ثَمَانِينَ مَرَّةً غُفِرَتْ لَهُ ذُنُوبُ ثَمَانِينَ عَامًا
“Salawat kepadaku adalah cahaya di atas aṣ‑ṣirāṭ (jembatan di akhirat), dan barang siapa bersalawat kepadaku pada hari Jumat delapan puluh kali, maka dosanya diampuni selama delapan puluh tahun.”
Dikisahkan pula, ada seorang laki-laki yang lalai bersalawat kepada Nabi ﷺ. Pada suatu malam ia bermimpi melihat Rasulullah ﷺ, tetapi beliau tidak menoleh kepadanya.
Ia bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau marah kepadaku?” Beliau menjawab, “Tidak.” Ia bertanya lagi, “Lalu mengapa engkau tidak memandangku?” Beliau menjawab, “Karena aku tidak mengenalmu.”
Laki-laki itu berkata, “Bagaimana engkau tidak mengenalku, padahal aku termasuk umatmu?” Beliau bersabda, “Aku mengenal umatku melalui salawat mereka kepadaku. Namun engkau jarang mengingatku dengan salawat, maka aku tidak mengenalmu.”
Sejak itu, laki-laki tersebut menyesal dan bertekad untuk bersalawat kepada Nabi ﷺ setiap hari sebanyak seratus kali. Setelah beberapa waktu, ia kembali bermimpi bertemu Rasulullah ﷺ. Kali ini beliau bersabda, “Sekarang aku mengenalmu dan akan memberi syafaat kepadamu.”
Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah..” (QS. Ali Imran: 31).
Sebab turunnya ayat ini adalah ketika Rasulullah ﷺ mengajak Ka’ab bin al-Asyraf dan para pengikutnya untuk masuk Islam. Mereka berkata, “Kami adalah orang-orang yang dekat dengan Allah dan kekasih-kekasih-Nya.”
Maksud mereka adalah mengklaim kedudukan istimewa di sisi Allah. Maka Allah menurunkan ayat tersebut sebagai penegasan bahwa cinta kepada Allah bukan sekadar pengakuan, tetapi harus dibuktikan dengan mengikuti Rasul-Nya.
Allah kembali menegaskan:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31).
Artinya, siapa yang benar-benar mencintai Allah harus mengikuti ajaran Nabi ﷺ. Dengan mengikuti beliau, seseorang akan memperoleh cinta Allah, ampunan-Nya, serta rahmat-Nya.
Seorang imam pernah berkata:
“Barang siapa mengaku memiliki empat hal tanpa membuktikannya dengan empat hal lainnya, maka ia berdusta. Siapa yang mengaku mencintai surga tetapi tidak beramal dengan ketaatan, ia berdusta. Siapa yang mengaku mencintai Nabi ﷺ tetapi tidak mencintai para ulama dan orang-orang fakir, ia berdusta. Siapa yang mengaku takut kepada neraka tetapi tidak meninggalkan maksiat, ia berdusta. Dan siapa yang mengaku mencintai Allah tetapi mengeluh saat diuji, ia juga berdusta.”
Sebagaimana dikatakan dalam syair:
Engkau bermaksiat kepada Tuhan, tetapi mengaku mencintai-Nya.
Sungguh ini dalam timbangan akal terasa ganjil nyata..
Seandainya cintamu benar, tentu engkau akan menaati-Nya,
Karena seorang pecinta akan tunduk kepada yang dicintainya.
Tanda cinta sejati adalah menyesuaikan diri dengan kehendak yang dicintai dan menjauhi segala yang bertentangan dengannya.
Dikisahkan bahwa suatu ketika sekelompok orang mendatangi Imam Syibli. Mereka berkata, “Kami mencintaimu.” Mendengar itu, Syibli melempari mereka dengan batu hingga mereka lari. Ia berkata, “Seandainya kalian benar-benar mencintaiku, tentu kalian akan bersabar atas ujianku.”
Beliau kemudian berkata, “Orang-orang yang mencintai Allah telah meminum cawan cinta. Mereka mengenal Allah dengan sebenar-benarnya, mengagumi keagungan-Nya, tunduk kepada kekuasaan-Nya, dan tenggelam dalam kelezatan bermunajat kepada-Nya.”
Lalu beliau bersenandung:
Aku menyebut cinta kepada Tuhanku, lalu aku pun mabuk karenanya.
Pernahkah engkau melihat seorang pecinta yang tidak mabuk?
Dikatakan pula: Seekor unta, jika sedang dikuasai rasa tertentu, bisa tidak makan selama empat puluh hari. Walaupun dibebani beban yang berat, ia tetap mampu memikulnya. Sebab ketika hatinya tertuju pada sesuatu yang dicintainya, ia tidak lagi memedulikan makanan dan tidak merasa berat memikul beban demi mencapai yang dicintainya. Jika demikian keadaan seekor hewan, maka bagaimana dengan manusia?
Apakah kalian telah meninggalkan syahwat yang dilarang demi Allah?
Apakah kalian telah memikul beban kebaikan walau terasa berat demi Allah?
Jika belum, maka janganlah sekadar mengaku sebagai pecinta Allah. Sebab pengakuan tanpa bukti hanyalah nama tanpa makna, tidak bermanfaat di dunia maupun di akhirat, dan tidak bernilai di sisi Sang Pencipta.
Ali radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Barang siapa merindukan surga, ia akan bersegera dalam kebaikan. Barang siapa takut kepada neraka, ia akan menahan diri dari syahwat. Barang siapa yakin akan kematian, ia akan memandang ringan kenikmatan dunia.”
Ibrahim al-Khawwash pernah ditanya tentang hakikat cinta. Ia menjawab:
“Cinta adalah menghapus keinginan diri sendiri, membakar sifat-sifat ego, dan menenggelamkan diri dalam lautan penghambaan kepada Allah.”
Dengan demikian, pembahasan ini menegaskan bahwa cinta dalam perspektif Imam Al-Ghazali adalah jalan penyucian hati yang mengantarkan manusia pada kedekatan spiritual dan makrifat kepada Sang Pencipta. [Luk]









